Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #8

Petunjuk yang Tersisa

Deru kipas angin di dalam warung internet ini berputar konstan, melempar hawa hangat yang bercampur dengan bau pengap ruangan. Di luar, hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda; air langit itu masih menumbuk atap bangunan dengan irama yang riuh. Pandanganku terkunci pada layar monitor cembung di hadapanku. Jari-jemariku mengetuk-ngetuk meja kayu dengan cemas, sementara mata ini tak lepas dari kotak dialog di sudut layar. Setiap detik terasa melar bagai karet. Ketakutan bahwa aku akan telantar di kota asing ini tanpa arah yang jelas mulai merayap pelan di dinding kesadaranku.

Tiba-tiba, sebuah bunyi petikan digital yang khas memecah lamunanku. Kotak obrolan berkedip. Mas Ajie, sang ketua komunitas persahabatan antar-wilayah itu, akhirnya membalas pesanku.

“Joel, syukurlah kamu sudah sampai dengan selamat. Maaf baru balas, saya baru selesai urusan kerjaan. Mengenai Irfan, saya memang tidak punya nomor RT atau RW rumahnya karena dia anak yang cukup tertutup kalau soal privasi keluarga. Tapi, catatan registrasi komunitas mencantumkan bahwa dia tinggal di sebuah perkampungan di daerah Dramaga. Kalau kamu sudah di halte Baranangsiang, carilah angkot yang menuju ke arah kampus IPB Dramaga. Coba cari di sekitaran sana, biasanya warga lokal saling kenal. Semoga beruntung, Kabari kalau sudah ketemu.”

Daerah Dramaga. Sebuah petunjuk kecil yang tersisa, namun bagiku, itu laksana secercah cahaya lilin di tengah lorong yang gelap gulita. Setidaknya aku tidak lagi mengambang tanpa jangkar. Aku segera mematikan komputer, membayar sewa warnet kepada operator, dan bergegas melangkah kembali menembus rintik hujan.

Langkah kakiku membawaku membelah Terminal Baranangsiang yang semrawut oleh genangan air. Sesuai petunjuk Mas Ajie, mataku langsung menyisir barisan kendaraan lokal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan deretan angkutan kota berwarna hijau daun—mobil ikonik berbentuk kotak mini yang berjejer rapi menunggu penumpang. Setelah mengonfirmasi arah tujuan kepada sang sopir dengan anggukan singkat, aku segera melompat masuk ke dalam kabin belakang yang sempit. Tas ransel hitam besarku kupangku erat di depan dada, menjadi pembatas alami di antara aku dan beberapa penumpang lain yang duduk saling berhadapan.

Perjalanan malam itu terasa panjang dan melelahkan. Angkot hijau daun itu bergerak lambat, membelah jalanan Bogor yang padat dan licin oleh sisa-sisa air hujan. Roda-rodanya sesekali melindas lubang jalan, menciptakan guncangan yang membuat kepalaku hampir membentur langit-langit mobil. Melalui kaca jendela angkot yang berembun, aku memperhatikan transisi pemandangan kota. Dari gemerlap lampu pertokoan di pusat kota, perlahan berubah menjadi deretan ruko yang lebih renggang, diselingi rimbun pepohonan yang basah. Setelah menempuh waktu hampir satu jam, sopir angkot akhirnya menginjak rem dengan paksa.

“Sampai A! Halte terakhir dekat kampus IPB!” seru sopir itu dari balik kemudi.

Aku turun dari angkot, melangkah menapakkan kaki di atas trotoar yang basah. Waktu rupanya sudah bergeser melewati magrib. Gerimis pasca-magrib malam ini membawa hawa dingin yang kian pekat, menyusup di balik serat-serat jaket tebal yang kukenakan. Suasana di sekitar kawasan kampus itu tampak lengang; sebagian besar mahasiswa mungkin memilih mendekam di dalam kamar kos mereka demi menghindari cuaca buruk. Di tengah kesunyian malam yang lembap itu, perutku mendadak berbunyi dengan sangat nyaring. Rasa lapar yang teramat sangat menyerang tanpa ampun, mengingatkanku bahwa semenjak turun dari pesawat tadi siang, belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam lambungku. Tubuhku menggigil kecil, menuntut asupan energi segera.

Lihat selengkapnya