Malam merayap semakin larut melintasi batas-batas sunyi pinggiran Kota Hujan. Jarum jam tanganku telah bergeser jauh melewati pukul sepuluh malam, namun langit di atas wilayah Dramaga seolah tak kunjung kehabisan pasokan air. Hujan terus turun dengan sangat pongah, menumbuk bumi dengan suara gemuruh yang konstan, menciptakan dinding-dinding air yang membatasi pandangan mata.
Setelah melangkah keluar dari warung tegal dengan perut yang terisi lauk pauk Sunda namun hati yang kian limbung, kakiku terseret menyusuri trotoar yang basah. Rasa lelah yang teramat sangat kini menyerang tanpa ampun. Sendi-sendi kakiku terasa kaku, pundakku pegal akibat beban ransel hitam yang berat, dan dinginnya malam mulai meresap hingga ke dalam tulang, membuat tubuhku menggigil kecil tak terkontrol.
Di tengah keputusasaan mencari tempat bernaung, mataku menangkap pendaran cahaya lampu hijau yang bersumber dari sebuah bangunan dengan kubah putih kecil di ujung jalan. Sebuah masjid kampung yang berdiri bersahaja namun tampak begitu kokoh menantang badai. Tanpa membuang waktu, aku segera mempercepat langkah, setengah berlari menembus tirai hujan menuju selasar masjid tersebut. Begitu kakiku menapak di lantai ubin teras yang kering, aku langsung menghempaskan tubuh dan tas ranselku ke sudut dinding, menghela napas panjang sembari memandangi pakaianku yang sebagian besar telah lembap terkena tampias air.
Suasana di dalam rumah ibadah itu begitu hening, sangat kontras dengan keriuhan badai di luar sana. Hanya ada gema sayup-sayup detak jam dinding besar dan suara aliran air dari pipa tempat wudu. Saat aku sedang berusaha memijat betisku yang tegang, sebuah pintu kayu di sisi samping bangunan terbuka pelan. Dari balik pintu, muncul sesosok lelaki paruh baya yang mengenakan baju koko putih bersahaja dan kain sarung bermotif kotak-kotak yang rapi. Selembar sorban hijau tersampir di bahunya yang sedikit membungkuk. Di tangannya, ia memegang sebuah sapu lidi dan kain pel. Dialah sang marbot, penjaga rumah Tuhan yang mengabdikan hidupnya di tempat sunyi ini.
Aku segera bangkit berdiri sebagai bentuk kesopanan, meskipun seluruh badanku berteriak memprotes karena kelelahan. Saat lelaki tua itu melangkah mendekat ke bawah pendaran lampu teras, aku berkesempatan memandangi wajahnya dengan saksama. Seketika itu juga, sejenis sengatan asing yang aneh mengetuk dinding kesadaranku. Wajah marbot itu terasa begitu teduh, dipenuhi guratan-guratan usia yang memancarkan ketenangan batin yang luar biasa. Namun, ada hal lain yang membuat jantungku berdegup agak cepat: wajah itu terasa sangat tidak asing di mataku. Ada rasa familiar yang aneh yang membuatku merasa pernah melihat garis wajah tersebut di suatu tempat. Aku memutar otak, mengingat-ingat setiap orang yang pernah kutemui di Aceh atau di bandara tadi siang, namun hasilnya nihil. Aku benar-benar lupa di mana atau kapan ingatan itu pernah terekam. Kubuang jauh-jauh rasa penasaran itu, mengira bahwa kelelahan yang amat sangat ini mulai membuat pikiranku berhalusinasi.
Dengan memosisikan tubuh sesopan mungkin, aku melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk menjabat jemarinya yang tampak kasar karena kerja keras.