Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #10

Antrean Payung Hitam

Tidurku malam itu berjalan tanpa mimpi yang utuh, hanya berupa potongan-potongan bayangan samar yang melelahkan. Ketika kesadaranku perlahan-lahan mulai merayap naik ke permukaan, suara rintik hujan di luar ruangan sudah tidak lagi bergemuruh hebat, melainkan telah melunak menjadi suara desau gerimis pagi yang konstan dan dingin. Kamar marbot yang bersahaja ini masih diselimuti kegelapan yang remang-remang, menyisakan hawa sejuk khas Kota Hujan yang sanggup menembus dua lapis kain sarung pembungkus tubuhku. Aku menggeliat pelan, mencoba mengusir kekakuan yang masih bersarang di setiap sendi dan otot kaki akibat petualangan melelahkan kemarin sore.

Namun, sebelum kelopak mataku terbuka sepenuhnya untuk menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya subuh yang tipis, sebuah gelombang suara berfrekuensi tinggi mendadak memecah kesunyian. Suara statik pengeras suara masjid berbunyi kresek-kresek pelan, menandakan mikrofon di ruang utama telah diaktifkan. Sedetik kemudian, gema suara bariton Pak Wira yang sangat berat, tenang, dan berwibawa membubung tinggi, memantul di antara langit-langit bangunan dan menyebar luas menembus kabut pagi perkampungan Dramaga.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Diumumkeun ka sadaya warga kampung... Pengumuman, dicari warga anu namina Muhammad Irfan. Ditunggu ku saudarana, kawan raketna anu nembe dongkap tebih-tebih dari Aceh! Sekali deui, kanggo warga anu namina Muhammad Irfan, dihaturanan sumping ka masjid margi ditunggu ku saudarana dari Aceh. Hatur nuhun, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Mendengar bait demi bait pengumuman tersebut, jantungku mendadak berdegup kencang secara instan. Kesadaranku langsung terjaga seratus persen. Ada rasa haru yang mendalam yang seketika membuncah di dalam ulu hatiku, menyebarkan kehangatan yang menjalar cepat ke seluruh aliran darah. Aku terduduk di atas kasur busa tipis dengan mata yang berkaca-kaca. Pak Wira, lelaki paruh baya yang baru kukenal semalam, ternyata memegang teguh ucapan bijaknya untuk membantuku dengan adab yang paling mulia. Beliau secara sukarela menggunakan otoritasnya sebagai marbot untuk membantu pencarianku, menjadikan harapanku yang kian terang benderang di tengah kebingunganku.

Tanpa membuang waktu lebih lama, aku segera menyingkap kain sarung, membasuh wajahku dengan air wudu yang sedingin es di kamar mandi samping, lalu merapikan jaket tebal serta ransel hitamku. Dengan langkah kaki yang didorong oleh semangat persahabatan yang kembali berkobar, aku melangkah keluar menuju selasar depan masjid. Aku sangat berharap bahwa keputusanku untuk nekat terbang melintasi cakrawala Sumatera-Jawa ini akan segera menemui muara kebahagiaannya pada pagi gerimis ini.

Begitu aku menjejakkan kaki di teras luar masjid yang dinaungi atap beton, pemandangan di halaman depan langsung menyita seluruh perhatianku. Kabut pagi Bogor yang putih tipis tampak melayang di antara pepohonan, berpadu dengan rintik gerimis halus yang menciptakan tirai tipis di udara. Di balik tirai gerimis itulah, sebuah fenomena aneh yang luar biasa mulai terjadi. Dari berbagai sudut gang sempit, dari balik rimbun pepohonan jambu dan hamparan pekarangan rumah warga yang berserakan di sekitar kompleks masjid, satu per satu sosok manusia mulai bermunculan berjalan mendekat.

Lihat selengkapnya