Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #11

Bercak Merah di Telapak Tangan

"Kak Joel!"

Sebuah suara parau yang teramat kukenal memecah tirai kabut pagi itu. Suara yang selama berbulan-bulan ini hanya kukenal lewat rekaman audio amatir atau getaran imajiner saat kami membaca pesan teks masing-masing. Aku tersentak, mengarahkan pandangan mataku langsung ke tengah pekarangan masjid yang basah. Di sana, di antara sisa-sisa antrean warga yang mulai membubarkan diri, berdiri sesosok pemuda yang mengenakan baju koko putih bersih. Paras rupanya, garis rahangnya, hingga sorot matanya yang teduh benar-benar serupa dengan apa yang selalu kulihat di cermin setiap pagi.

Itu Irfan! Adik angkatku, kawan karibku yang telah membuatku nekat menyeberangi lautan dari ujung Sumatera. Kegembiraan yang luar biasa dahsyat mendadak meledak di dalam dadaku, meruntuhkan segala kepanikan dan labirin kebingungan yang sempat mengurungku. Tanpa memedulikan rintik gerimis yang membasahi pakaian, aku berlari kencang menuruni anak tangga selasar masjid. Aku melompat kegirangan, menerjang jarak di antara kami, lalu mendekap tubuh pemuda itu dengan teramat erat. Sebuah pelukan hangat dari seorang abang yang akhirnya berhasil menemukan saudaranya yang sempat hilang di belantara dunia digital.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap mata. Begitu lenganku melingkari pundaknya, sejenis sensasi ganjil yang mengerikan langsung menjalar ke seluruh permukaan kulitku. Tubuh Irfan yang berada di dalam dekapanku sama sekali tidak memiliki kehangatan manusia. Raga pemuda itu terasa teramat dingin, membeku dengan sangat kaku bagaikan sekerat bongkahan es yang baru dikeluarkan dari ruang pembeku.

Rasa ngeri yang instan langsung menyergap ulu hatiku. Aku segera melepaskan pelukanku dan melangkah mundur demi melihat kondisinya. Jantungku serasa berhenti berdetak saat mataku menatap wajah kembaranku itu. Sudut mulut Irfan tampak robek, mengalirkan cairan kental berwarna merah pekat yang berlumuran hingga ke dagu dan mengotori baju koko putihnya yang bersih. Matanya terbelalak kosong tanpa menyisakan sedikit pun binar kehidupan, memandangiku dengan tatapan yang mati. Sebelum aku sempat berteriak memanggil nama Allah, seluruh persendian tubuh Irfan mendadak lemas. Raga pemuda itu lunglai sepenuhnya, ambruk ke atas tanah yang becek bagai seonggok mayat yang tak lagi bernyawa.

“Masya Allah, Jang Joel! Kamu mimpi buruk ya?”

Sebuah suara bariton yang berat disertai guncangan kuat di pundakku mendadak menyentak seluruh kesadaranku. Kelopak mataku terbuka lebar secara paksa. Pandangan mataku yang awalnya dipenuhi darah dan kabut hitam perlahan-lahan mulai menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya lampu minyak yang temaram. Aku menatap sekeliling dengan napas yang memburu naik turun secara tak beraturan, laksana seorang pelari yang baru saja menyelesaikan maraton panjang yang melelahkan.

Lihat selengkapnya