Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #12

Runtuh di Pelukan Marbot

Pagi hari di sekitar masjid Dramaga berjalan pelan. Sisa-sisa kabut subuh perlahan menghilang, digantikan oleh berkas sinar matahari pagi yang tipis. Setelah salat subuh, kuhabiskan waktu beberapa jam di dalam ruang utama masjid. Aku mencoba menenangkan diri setelah mengalami mimpi buruk yang sangat aneh semalam. 

Bercak merah misterius di telapak tanganku yang sempat membuatku ketakutan setengah mati juga sudah kubersihkan dengan air wudu. Rasa cemas yang membayangi pikiranku perlahan-lahan coba kuusir dengan zikir. Aku sangat berharap hari ini pencarianku terhadap Irfan bisa membuahkan hasil yang jelas.

Ketika matahari mulai naik, aku menyempatkan diri untuk melaksanakan salat dhuha di dekat tiang masjid bagian depan. Suasana di dalam rumah ibadah ini sudah sangat sepi karena sebagian besar jamaah sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya terdengar suara Pak Wira yang sedang merapikan lembaran kain sarung dan membersihkan lantai masjid. Namun, ketenangan pagi itu mendadak pecah ketika terdengar langkah kaki yang terburu-buru menaiki anak tangga selasar luar.

Seorang pemuda yang usianya sebisa jadi sebaya denganku melangkah masuk ke dalam masjid. Pakaiannya terlihat agak basah oleh sisa gerimis pagi, dan raut wajahnya dipenuhi kepanikan yang sangat jelas. Napasnya terengah-engah seolah-olah dia baru saja berlari jauh membawa kabar yang teramat mendesak. Pemuda itu langsung melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu dengan cepat berjalan menghampiri Pak Wira yang sedang berdiri di dekat pilar tengah.

"Pak Wira..." Suara pemuda itu terdengar bergetar hebat dan serak di tenggorokan. Dia menyalami tangan sang marbot dengan gerakan yang lunglai. "Pak, saya mau mengabarkan berita duka. Warga RT 06 yang bernama Muhammad Irfan... semalam meninggal dunia."

Deg.

Kalimat pendek itu terdengar seperti hantaman yang sangat keras tepat di dadaku. Pada detik itu juga, seluruh udara di sekitarku rasanya mendadak hilang. Napas dan jantungku terasa berhenti seketika. Tubuhku mendadak kaku, dan darahku seolah membeku hingga membuat seluruh persendianku mati rasa. Sebuah rasa sesak yang luar biasa hebat langsung menghujam ulu hatiku. Pikiranku seketika menjadi benar-benar kosong. Kalimat pemuda itu terus terngiang-ngiang di telingaku, berputar tanpa henti seperti kaset rusak. Irfan meninggal dunia. Irfan meninggal dunia.

"N-Nggak... nggak mungkin..." Suaraku keluar berupa bisikan yang sangat lirih dan patah-patah.

Dengan sisa tenaga yang masih ada, aku meraba tas ransel hitam yang tergeletak di samping tempat dudukku. Tanganku menggigil hebat saat membuka ritsleting tas. Aku berkali-kali salah meraba karena fokus mataku sudah mulai mengabur. Setelah mencari-cari di bagian dalam tas, aku akhirnya menarik keluar sebuah benda yang sejak dari Aceh selalu kujaga dengan sangat hati-hati. Benda itu adalah sebuah pasfoto digital Irfan yang kusandingkan dengan fotoku sendiri di dalam sebuah bingkai ungu yang cukup mahal.

Sambil menyeret langkah kaki yang terasa teramat berat, aku mendekati Pak Wira dan pemuda tadi. Tanganku yang memegang bingkai ungu itu gemetar sangat parah hingga hampir menjatuhkannya. Kusedorkan foto tersebut tepat di depan wajah mereka berdua.

Lihat selengkapnya