Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #13

Ukiran Nama di Pohon Jambu

Langkah kaki yang kutempuh di samping Dadan mendadak terasa begitu berat ketika kami memasuki pekarangan. Langkahku benar-benar terhenti tepat di bawah naungan pohon jambu di depan rumah sederhana yang sunyi itu. Hawa dingin Kota Bogor sisa gerimis tadi subuh masih terasa melekat di kulit, namun rasa hampa di dalam dadaku jauh lebih mendominasi. Rumah itu tampak begitu bersahaja dengan dinding pembatas yang mulai memudar warnanya, menampilkan kesan sepi yang mendalam.

Di tengah keheningan halaman depan, pandangan mataku secara refleks menyisir area sekitar hingga tertuju pada kulit kayu yang kasar. Di bagian batang pohon utama yang keras, mataku langsung melihat sebuah ukiran kasar bertuliskan nama kami berdua: Kak Joel & Irfan. Ukiran tersebut terlihat agak berlumut karena sering terkena air hujan, namun bentuk hurufnya masih sangat jelas terlihat. Itu adalah ukiran yang dulu dibuat Irfan dengan penuh semangat sebagai simbol persaudaraan kami, persis seperti yang pernah dia ceritakan lewat pesan teks di dunia maya beberapa bulan yang lalu.

Melihat bukti nyata dari persahabatan kami terpampang jelas di depan mata, dadaku kembali terasa sesak luar biasa. Air mataku menetes lagi, membasahi pipi tanpa bisa kutahan. Ingatanku langsung melompat pada ruang obrolan digital tempat kami biasa berbagi mimpi dan candaan tentang masa depan sebagai dua orang sahabat yang memiliki wajah serupa. Keinginan kuatku untuk menjadi sosok abang pengasih yang menjaga adiknya seolah dihantam kenyataan pahit bahwa pemilik nama di sebelah namaku kini telah tiada. Rasa bersalah karena taktik mendiamkannya selama seminggu kembali menusuk-nusuk ulu hatiku.

Namun, saat aku mencoba menguasai diri dan menghapus air mata dengan punggung tangan, sebuah kejanggalan mendadak menyusup ke dalam kesadaranku. Logikaku yang awalnya lumpuh oleh duka perlahan mulai menangkap keanehan di sekitar tempat ini. Mengapa rumah ini begitu senyap? Di mana orang-orang yang melayat? Beberapa menit yang lalu, saat berada di jalan kampung bersama Kang Dadan, aku sempat membayangkan rumah duka ini akan dipenuhi oleh tetangga yang datang berbaju gelap, lengkap dengan suara isak tangis keluarga atau lantunan ayat suci yang menggema di teras depan. Tetapi kenyataannya, halaman ini benar-benar kosong melompong. Tidak ada satu pun motor terparkir, tidak ada barisan sandal di depan pintu, dan bendera kuning yang tadi sempat kupikir kulihat dari kejauhan ternyata sama sekali tidak ada di pagar bambu.

Suasana senyap itu terasa begitu ganjil dan menekan dada, menciptakan suasana mistis yang membuat bulu kudukku meremang pelan. Di sampingku, Dadan juga mendadak diam membisu dengan tatapan lurus ke depan tanpa ekspresi. Sebelum sempat aku membuka mulut untuk bertanya tentang keanehan ini, suara derit kayu yang cukup nyaring memecah keheningan halaman. Tiba-tiba pintu rumah yang awalnya tertutup rapat itu terbuka lebar dengan sendirinya, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sengaja mengundurnnya dari dalam untuk menyambut kedatanganku.

Rasa bingung dan cemas bercampur aduk di dalam kepala, namun dorongan rasa rindu serta rasa penasaran yang teramat besar jauh lebih kuat daripada rasa takutku sebagai seorang pendatang. Aku menerjang masuk melewati batas pintu tanpa memedulikan keganjilan itu lagi. Tas ransel hitam di pundakku terasa bergoyang mengikuti gerakan tubuhku yang terburu-buru. Pikiranku hanya terfokus pada satu hal: aku harus melihat situasi di dalam rumah ini dengan mata kepalaku sendiri.

Begitu sepasang mataku menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya lampu ruangan yang temaram, seluruh tubuhku seketika membeku kaku di atas lantai semen. Jantungku berdentum sangat kencang, melepaskan gelombang kejut yang membuat seluruh aliran darahku berdesir hebat.

Lihat selengkapnya