Suara langkah kaki Kak Joel yang terburu-buru terdengar mendekati kamar. Aku berdiri di tengah ruangan kecilku sambil menahan senyum yang sejak tadi ingin meledak. Ketika pintu kayu kamarku didorong terbuka, aku bisa melihat sisa-sisa wajah terkejut dan napasnya yang masih memburu. Di dinding kamar ini, berderet rapi cetakan foto digital yang pernah kami bagikan di media sosial, bersanding dengan lirik-lirik lagu Ungu Band yang ditulis tangan pada lembaran kertas karton. Ruangan ini adalah saksi bisu bagaimana persahabatan kami tumbuh subur di alam maya, dan hari ini semuanya menjadi nyata.
Aku tertawa renyah melihat ekspresi wajahnya yang masih diliputi kebingungan bercampur lega. Sungguh, rencana jahil yang kususun bersama Dadan, sepupuku, berjalan dengan sangat mulas tanpa ada cacat sedikit pun. Kak Joel benar-benar masuk ke dalam jebakan kami bulat-bulat, merasakan kepanikan luar biasa yang sengaja kami ciptakan sebagai balasan atas sikap acuhnya selama seminggu terakhir di dunia maya.
Semua taktik balas dendam ini sebenarnya bermula dari kemarin siang. Saat itu, aku sedang duduk lesu di depan komputer tabungku, masih dirundung rasa kesal karena mengira Kak Joel sengaja mengabaikanku. Tiba-tiba sebuah petikan pesan berbunyi di layar monitor. Pesan itu datang dari Mas Ajie, ketua komunitas kami di alam maya. Kalimat yang tertulis di sana langsung membuat jantungku melompat gembira.
"Irfan, abang angkatmu si Joel dari Aceh sebenarnya sedang dalam perjalanan ke Bogor untuk memberimu kejutan. Tadi dia chat saya nanyain alamat rumahmu di Dramaga karena nomor ponselmu mati. Jangan bilang-bilang dia ya, siap-siap saja!"
Membaca pesan dari Mas Ajie, seluruh amarah dan rasa jengkel yang menumpuk selama enam hari langsung menguap tanpa sisa. Rasa hangat menjalar di dadaku mengetahui bahwa kawan baikku itu rela menyeberangi lautan luas dan gugusan pulau dari ujung Sumatera demi memenuhi janji masa kecil kami. Namun, jiwa mudaku yang jahil langsung berontak. Aku tidak mau pertemuan kami berjalan biasa-biasa saja. Kak Joel sudah membuatku pusing dan kesal selama satu minggu, maka dia juga harus merasakan kepanikan yang sama sebelum kami bisa berbagi tawa bersama sebagai dua orang sahabat.
Aku segera menghubungi Dadan. Kami menyusun strategi yang cukup nekat. Kemarin sore, dengan mengendarai sepeda motor bebek milik Dadan, kami pergi menuju terminal dan bersiap menguntit Kak Joel sejak dia turun dari bus antar-kota. Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor sore itu justru menguntungkan siasat kami. Di tengah hiruk-pikuk Terminal Baranangsiang yang semrawut oleh genangan air, aku melihat sosoknya keluar dari pintu bus. Tubuhnya tinggi tegap, mengenakan jaket tebal dan memanggul ransel hitam besar, persis seperti foto-foto yang sering dikirimkannya.
Aku terus memantau pergerakannya dari jarak aman di atas motor bersama Dadan. Ketika Kak Joel berjalan tergesa-gesa mencari perlindungan di bawah halte bus dan mencoba menelepon ponselku—yang sengaja kumatikan dayanya—aku hanya bisa menahan tawa dari kejauhan. Melihat wajahnya yang mulai diliputi kecemasan karena kehilangan arah, aku merasa siasat kami mulai membuahkan hasil. Kami terus menguntitnya menggunakan motor dengan perlahan saat dia naik angkot hijau daun menuju arah kampus IPB Dramaga, membelah jalanan Bogor yang padat dan licin oleh sisa air hujan.