Pendaran cahaya matahari yang menyelinap dari balik tirai kamar perlahan-lahan menghangatkan suasana di antara kami. Setelah tawa riang kami mereda di dalam kamar penuh pajangan foto itu, langkah kaki yang tenang terdengar kembali dari arah ruang tamu. Ayah Irfan, Pak Wira, melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkahnya yang bersahaja. Beliau memandangi kami berdua yang sedang berdiri berdekatan di depan dinding penuh kenangan digital tersebut. Sebuah senyuman yang sangat teduh terkembang di wajah paruh bayanya yang dipenuhi garis-garis usia.
Melihatku yang masih memegang bingkai ungu dengan mata yang sedikit sembap, Pak Wira melangkah mendekat. Beliau menepuk pundakku dengan kelembutan yang luar biasa, seolah bertindak sebagai penenang bagi badai kepanikan yang baru saja kulewati sejak subuh tadi.
"Jang Joel, sekali lagi Bapak meminta maaf ya atas candaan Irfan," ujar Pak Wira dengan logat Sunda-Indonesianya yang teramat lembut dan bersahaja. Beliau melirik ke arah Irfan yang hanya bisa menyengir tanpa dosa. "Sebenanrya Irfan sengaja meminta bantuan Dadan untuk menguji seberapa besar ketulusan hati seorang kawan yang rela datang dari jauh demi dia. Bapak izinkan karena Bapak tahu, niat baikmu melintasi lautan dari Aceh tidak akan goyah hanya karena sebuah permainan kecil."
Mendengar ucapan jujur dari mulut beliau, seluruh sisa rasa jengkel yang sempat tersisa di dalam dadaku langsung menguap sepenuhnya. Rasa syukur yang amat besar mengalir memenuhi rongga dadaku, menggantikan rasa sesak yang sempat membuatku nyaris putus asa di selasar masjid. Aku mengangguk pelan sambil tersenum tulus kepada Pak Wira, menandakan bahwa aku sama sekali tidak menyimpan dendam atas skenario jebakan yang mereka lakukan.
Kami bertiga kemudian melangkah keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu yang bersahaja. Kami duduk bersama di atas sofa yang empuk, tempat di mana beberapa menit lalu aku meluapkan air mata karena mengira telah kehilangan kawan terbaikku. Di atas sofa itu, aku menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu indah di depan mataku. Pak Wira dengan penuh kasih sayang membelai rambut anak tunggalnya itu, sementara Irfan menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak sang ayah.
Menyaksikan keharmonisan hubungan antara ayah dan anak itu, kebahagiaan yang luar biasa hebat mengalir deras di dalam dadaku. Sebagai anak bungsu yang tumbuh di tengah keluarga besar di Tanah Rencong, aku terbiasa menjadi muara dari segala perhatian. Namun malam ini, berada di sebuah rumah sederhana di sudut Dramaga, aku melihat wujud kasih sayang yang berbeda. Sebuah ruang kosong di dalam jiwa pengasihku seolah terisi penuh. Aku merasa teramat beruntung bisa menjadi bagian dari lingkaran keakraban ayah-anak yang saling menguatkan ini.
Kebahagiaan dan kejutan bagiku rupanya tidak berhenti pada kehangatan keluarga mereka saja. Saat jarum jam mulai bergerak mendekati waktu makan siang, aku mendadak disambut dengan fakta baru mengenai bakat luar biasa yang dimiliki oleh adik angkatku ini. Irfan rupanya sangat pandai memasak, bahkan gerakannya saat bersiap di dapur terlihat sangat cekatan layaknya seorang chef profesional.
Pak Wira yang masih duduk di sofa tersenyum bangga melihat anaknya mulai mengikat celemek kain di pinggangnya. "Mendiang ibunya Irfan itu dulu seorang tukang masak yang sangat terkenal di sebuah tempat catering besar di Bogor sini, Jang Joel. Sejak kecil, Irfan selalu menempel pada ibunya setiap kali beliau sedang menyiapkan pesanan makanan. Konon, bakat luar biasa ibunya dalam meracik bumbu turun sepenuhnya pada anak ini. Dia belajar banyak hal dari ibunya tentang cara memasak aneka masakan tradisional yang lezat."
Mendengar cerita Pak Wira, rasa kagum langsung memenuhi pikiranku. Aku segera bangkit dari sofa dan melangkah menuju area dapur yang terletak tidak jauh dari ruang tengah. Aku tidak mau hanya duduk manis sebagai tamu. Dengan penuh keakraban, aku memutuskan untuk ikut membantu Irfan menyiapkan masakan, berdiri di samping meja kayu dapur yang bersahaja.