Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #16

Janji Mangga Golek Impian

Satu minggu penuh kuhabiskan di Kota Bogor bersama Irfan, sosok 'adik impian' yang selama berbulan-bulan ini hanya bisa kuajak bicara lewat ketukan papan ketik warnet. Waktu tujuh hari itu berjalan begitu cepat. Kegelisahan, rasa dingin, dan labirin kebingungan yang sempat menyiksaku saat pertama kali menginjakkan kaki di kota hujan ini rasanya menguap tanpa sisa. Sosok yang memiliki wajah serupa denganku itu kini benar-benar ada di sampingku, nyata dan bisa kuajak berbagi tawa secara langsung.

Siang itu, cuaca Kota Bogor sedang sangat bersahabat. Kami duduk bersebelahan di atas hamparan rumput hijau yang tebal di tepi aliran sungai Kebun Raya Bogor yang jernih. Irfan langsung meraih gitar tua miliknya, menaruhnya di atas paha, lalu mulai menyelaraskan nada.

"Kak, mau lagu apa nih? Jangan minta lagu yang susah-susah ya, jari kelingkingku masih kaku," celoteh Irfan sambil memetik senar gitarnya.

Aku tertawa kecil. "Lagu Ungu Band yang biasa kita bahas di chat dong, Fan. Masa koki andalan Dramaga nggak hafal chord-nya?"

"Wah, meremehkan ya! Dengar nih...," balas Irfan dengan kerlingan mata yang jenaka.

Jemari Irfan mulai bergerak lincah membentuk alunan melodi. Di tepi sungai itu, kami mulai bernyanyi bersama. Suara parau Irfan yang khas bersahut-sahutan dengan suaraku. Kami menyanyikan bait demi bait tentang persahabatan dengan penuh penghayatan, sesekali diselingi oleh tawa renyah ketika salah satu dari kami salah menyanyikan lirik.

Duduk di sana, menyaksikan Irfan yang tersenyum lepas, membuat dadaku berdesir hangat. Pemandangan di depan mataku ini seketika melemparkan ingatanku kembali pada harapan-harapanku dulu, saat aku berada di tanah pesisir Aceh yang sepi. Saat itu, aku hanya ingin melintasi lautan luas demi bisa duduk berdua dengan sahabat terbaikku di bawah rindangnya pohon Kebun Raya. Dan sekarang, mimpi yang dulunya kuanggap mustahil itu telah rmenjadi nyata.

"Fan, kamu tahu nggak?" ujarku setelah lagu selesai, sambil menatap air sungai yang mengalir tenang. "Melihat tempat sejuk begini, aku malah mendadak ingat kejadian waktu kelas 1 SMP dulu di Aceh."

Irfan menoleh, meletakkan gitarnya di samping rumput. "Kenangan apa, Kak? Memangnya ada kejadian seru apa waktu SMP?"

"Jadi waktu itu, siang lagi terik-teriknya di halaman sekolah, lokasinya dekat sama Masjid Raya Baiturrahman," aku tersenyum kecil mengenangnya. "Ada temanku namanya Ahmad. Dia sibuk banget melerai adiknya yang lagi adu jotos sama anak lain. Gara-garanya sepele, mereka berebut buah mangga golek yang kebetulan jatuh dari pohon sebelah sekolah. Waktu semua anak sibuk berteriak, mataku malah tertuju ke Ahmad. Dia langsung merangkul adiknya yang mukanya sudah merah dan menangis sesenggukan karena gagal dapat buah mangga itu."

Irfan mendengarkan cerita itu dengan saksama. "Terus, abangnya ngapain? Dia marahi anak yang merebut mangganya?"

"Nggak sama sekali. Ahmad justru menghadapi adiknya dengan sabar banget," lanjutku seraya menatap Irfan. "Kalimat yang dia ucapkan siang itu menempel terus di kepalaku. Ahmad menenangkan adiknya sambil bilang kalau nanti pulang rumah, dia bakal langsung pergi ke sawah cari belut. Katanya belut itu mau dijual ke orang kampung, lalu uang hasil jualannya dibelikan mangga golek yang banyak biar adiknya bisa makan puas. Dia bahkan sempat bercanda menyuruh adiknya berhenti menangis supaya tampangnya nggak jelek."

Lihat selengkapnya