Malam terakhir di Kota Hujan bergulir dengan sisa-sisa aroma tanah basah yang teramat akrab di indra penciumanku. Waktu satu minggu yang kuhabiskan di bawah atap rumah sederhana di Dramaga ini terasa memangkas seluruh sekat pembatas yang dulu sempat dibangun oleh jaringan teknologi semu. Besok subuh, aku dan Irfan akan melangkah bersama menuju terminal bus, memulai babak baru perjalanan darat dan laut menuju tanah kelahiranku di ujung Sumatera. Namun, sebelum pesawat terbang membawa kami kembali melintasi cakrawala, Irfan bersikeras bahwa malam penutupan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja di dalam kamar tidur.
"Kak Joel, ayo keluar! Masa sudah seminggu di Bogor belum pernah nongkrong malam di Air Mancur? Belum sah jadi cliquers kalau belum merasakan hawa malam Kota Hujan tanpa jaket tebal!" ajak Irfan sore itu sambil menarik ujung kemeja yang kukenakan.
Aku yang saat itu sedang merapikan tali ransel hitam besarku hanya bisa tertawa lepas melihat semangatnya yang meluap-luap. Setelah meminta izin dan mengantongi restu dari Pak Wira yang malam itu memilih beriktikaf di masjid, kami berdua berangkat mengendarai sepeda motor bebek milik Dadan, membelah sisa gerimis pasca-magrib menuju pusat kota.
Kawasan Air Mancur adalah salah satu pusat denyut nadi kehidupan malam yang paling ikonik bagi kawula muda Bogor. Terletak di persimpangan jalan utama yang mempertemukan jalur Sudirman dan Pemuda, tempat itu menyuguhkan atmosfer bersahaja yang teramat hidup. Di tengah persimpangan, sebuah kolam bulat dengan pancuran air setinggi beberapa meter berdiri kokoh, memantulkan pendaran cahaya lampu jalanan yang berwarna kekuningan dan putih redup.
Suasana di sekitar lingkar Air Mancur malam itu terhitung ramai. Angkot-angkot hijau daun tampak melambat di tepi jalan, bersahut-sahutan dengan deretan motor bebek anak muda yang terparkir rapi di sepanjang trotoar. Belum ada kepungan gedung-gedung bertingkat modern yang megah; sekeliling kawasan itu masih didominasi oleh deretan ruko tua berarsitektur kolonial dan pepohonan rimbun yang daun-daunnya basah berkilauan memantulkan cahaya. Pedagang kaki lima menggelar tikar-tikar lesehan di atas trotoar yang dinaungi lampu minyak petromaks yang mendengung pelan, menciptakan kepulan asap pembakaran yang menguar wangi ke udara malam yang tiris.
Irfan menuntun langkahku melewati barisan tikar lesehan dengan gerakan yang teramat cekatan, seolah ia adalah pemandu wisata terbaik yang dikirimkan takdir untukku.
"Kita harus makan ini, Kak! Kalau ke Bogor cuma makan sup buntut buatanku, itu belum kulineran namanya," seru Irfan dengan mata bulatnya yang berbinar gembira, menunjuk ke arah sebuah gerobak kayu sederhana yang dikerumuni banyak pembeli.
Menu pilihan yang ditunjuk Irfan rupanya adalah soto kuning khas Bogor, sebuah makanan tradisional yang sangat legendaris di kawasan Air Mancur. Kami duduk bersila di atas tikar pandan yang digelar di atas trotoar, bersandar pada pembatas jalan semen yang dingin. Tidak butuh waktu lama bagi sang penjual untuk menyodorkan dua mangkuk soto kuning yang masih mengepulkan uap panas ke hadapan kami.
Tampilan dari makanan itu seketika menerbitkan air liur di dalam mulutku. Kuah sotonya yang berbahan dasar santan encer tampak berwarna kuning pekat yang bersih, berkat campuran kunyit dan rempah-rempah pilihan. Di dalam mangkuk, potongan daging sapi dan kikil yang tebal menyembul di antara taburan daun seledri, bawang goreng yang garing, serta irisan tomat sayur yang segar. Wangi aroma serai, daun salam, dan lengkuas langsung menusuk hidung saat aku mengaduk kuahnya perlahan menggunakan sendok bebek aluminium.
"Ayo dicoba, Kak! Pakai perasan jeruk nipis sama sambal sedikit biar rasanya makin juara," desak Irfan sambil menyodorkan potongan jeruk ke arahku.