Ransel besar berukuran enam puluh liter itu akhirnya bertengger kokoh di sudut ruang tamu. Butuh waktu berhari-hari bagiku untuk memilah mana barang yang benar-benar penting dan mana yang hanya akan memperberat pundak sepanjang perjalanan nanti. Menatap tumpukan pakaian ganti, jaket tebal, beberapa buku catatan kusam, dan kamera saku analog milikku yang tergeletak di meja, ada rasa tidak percaya yang membuncah di dalam dada. Semua ini bukan lagi sekadar wacana yang biasa kami bahas bersama teman-teman di tongkrongan kelas atau kantin sambil lalu. Ini nyata. Impian lama yang selalu kurawat sejak zaman abu-abu di bangku SMA—menjadi seorang backpacker yang bebas menjelajahi sudut-sudut bumi dengan modal nekat dan ongkos seadanya—akhirnya menemukan jalannya sendiri. Dan jalan itu terbuka lebar berkat sosok lelaki berpostur tegap yang saat ini sedang sibuk memeriksa tali ranselnya di teras rumah. Kak Joel.
Sejak pertama kali mengenalnya melalui rangkaian peristiwa pelik di bab-bab kehidupan sebelumnya, Kak Joel telah bertransformasi dari sekadar orang asing menjadi figur abang sekaligus sahabat karib yang sangat kuhormati. Hubungan kami murni merupakan jalinan persahabatan sejati antara dua lelaki. Tidak ada sekat kecanggungan, hanya ada rasa saling percaya, solidaritas maskulin yang kuat, dan komitmen untuk saling menjaga layaknya saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama. Persahabatan kami ditempa oleh kesamaan visi dan rasa saling menghargai. Ketika Ayah membolehkan aku untuk pergi bersama Kak Joel ke tanah kelahirannya, Banda Aceh, kebahagiaan yang kurasakan sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ini adalah sebuah kehormatan besar bagi seorang anak rumahan sepertiku.
"Sudah siap semua, Fan? Jangan sampai ada dokumen atau dompet yang tertinggal. Kita perjalanan jauh, kalau ada yang kurang di sana bisa repot," suara berat Kak Joel memecah lamunanku. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, menatapku dengan senyuman khasnya yang selalu memancarkan ketenangan seorang abang.
"Sudah semua, Kak. Aman," jawabku mantap sembari menggendong ransel berat itu ke kedua pundakku. Beban material ini terasa nyata menekan punggung, namun anehnya, ada rasa ringan yang luar biasa yang menjalar di dalam hati.
Sebelum melangkah keluar pintu rumah yang telah melindungiku sejak kecil, aku berbalik menatap Ayah. Beliau berdiri di dekat meja makan, memperhatikan kami berdua dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Ayah sudah semakin tua. Rambutnya yang memutih dan gurat-gurat lelah di wajahnya mendadak terlihat begitu jelas di bawah temaram lampu ruang tamu. Ini adalah kali pertama aku akan meninggalkan Pulau Jawa. Selama delapan belas tahun lebih hidupku, aku tidak pernah melangkah lebih jauh dari batas provinsi Jawa Barat atau Jakarta. Pergi ke ujung barat Sumatra terasa seperti sebuah ekspedisi besar yang menakutkan sekaligus mendebarkan bagi jiwaku yang masih labil.
Udara luar masih terasa sangat dingin dan berselimut kabut tipis khas kota hujan ketika kami bersiap. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.00 pagi, tepat setelah kumandang azan Subuh baru saja selesai menggema di langit Bogor. Aku mendekati Ayah, meraih tangannya yang kasar akibat kerja keras bertahun-tahun, lalu menciumnya takzim. "Yah, Irfan pamit ya. Mau berangkat ke Aceh sama Kak Joel," ucapku lirih. Ada getaran aneh di pita suaraku yang coba kutahan sekuat tenaga agar tidak terdengar cengeng.
Ayah tidak langsung menjawab. Beliau justru melangkah maju, lalu menarik tubuhku ke dalam sebuah pelukan yang sangat erat. Itu adalah pelukan khas seorang ayah kepada anak laki-lakinya—tidak ada tangisan yang meledak-ledak, hanya dekapan kuat yang menyalurkan seluruh rasa sayang dan kekhawatiran yang terpendam jauh di dalam dada. Menghirup aroma minyak rambut yang biasa Ayah gunakan, mataku mendadak berembun. Setitik air hangat menggenang di pelupuk mata, membuat pandanganku kabur seketika. Aku tahu, setelah Ibunda tiada, Ayah akan melewatkan hari-hari ke depan sendirian di rumah ini. Rasa bersalah sempat menyelinap, meninggalkan pria tua itu dalam kesunyian, namun dekapan Ayah seolah merestui langkahku untuk tumbuh menjadi lelaki dewasa yang mandiri di luar sana.
Setelah melepaskan pelukannya dariku, Ayah beralih menatap Kak Joel. Ayah melangkah mendekatinya, lalu melakukan hal yang sama. Beliau memeluk Kak Joel dengan kehangatan yang sama besarnya, menepuk-nepuk punggung tegap lelaki Aceh itu beberapa kali dengan mantap.