Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #19

Di Bawah Langit Baiturrahman

Roda pesawat membentur landasan pacu Bandara Sultan Iskandar Muda dengan hentakan yang cukup keras, sekaligus membangunkanku dari tidur dalam penerbangan yang tak terasa. Kami tiba tepat jam 3 sore. Saat pintu pesawat terbuka dan kami melangkah keluar menuju tangga udara, hawa khas pesisir yang hangat, lembap, dan sarat akan aroma kebebasan langsung menerpa wajahku. Langit di atas tanah Aceh masih benderang menampakkan keindahannya.

Setelah berhasil mengambil ransel kami di area pengambilan bagasi yang cukup padat, aku meregangkan kedua tanganku yang terasa kaku. Seluruh persendianku rasanya seperti terkunci dan pegal-pegal setelah duduk berjam-jam di dalam kabin pesawat sejak siang tadi.

"Kak, tolong... kita istirahat sebentar dulu, ya? Badanku rasanya mau rontok semua dari pundak sampai kaki," pintaku sambil memijat tengkuk leherku yang menegang kaku.

Kak Joel melihat ke arahku, lalu tertawa renyah melihat wajahku yang kusut masai bagai baju belum disetrika. Dia menepuk pundakku dengan bertenaga hingga aku sedikit tersentak. "Hahaha, baru segini saja gaya backpacker-mu sudah loyo, Fan! Tenang, kita nggak sewa penginapan kok. Kita langsung pulang ke rumahku saja. Kamu bisa mandi dan luruskan badan di sana."

(Gambar hanya ilustrasi)

Kami segera menaiki transportasi lokal menuju rumah keluarga Kak Joel. Ketika kendaraan berhenti di sebuah pekarangan luas, mataku langsung membelalak takjub. Di hadapanku berdiri sebuah rumah panggung khas Aceh (Rumoh Aceh) yang berukuran cukup besar dan megah. Seluruh strukturnya terbuat dari kayu pilihan berwarna hitam pekat yang kokoh, ditopang oleh belasan tiang kayu bulat berdiameter besar yang tertanam kuat di atas landasan batu. Tangga kayunya melengkung indah menuju ke serambi depan. Kesan tradisional, gagah, sekaligus berwibawa langsung terpancar dari arsitektur rumah kuno yang dirawat dengan sangat baik ini. Di bawah kolong rumah panggung yang tinggi, terdapat ruang luas yang bersih tempat menyimpan beberapa peralatan bertani.Begitu kami menaiki anak tangga, kehangatan yang sesungguhnya langsung menyergapku. Keluarga Kak Joel menyambutku dengan sangat baik. Ibundanya langsung memelukku hangat seolah aku adalah anak kandungnya sendiri yang baru pulang dari perantauan jauh, sementara ayahnya menjabat tanganku erat dengan senyum bapak-bapak yang begitu menenangkan. Mereka langsung sibuk menyuguhkan teh hangat dan piring-piring berisi camilan tradisional. Rasa sungkan yang sempat menghantuiku sepanjang jalan langsung menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa haru atas keramahan yang murni khas masyarakat Serambi Mekah.

Setelah menyapa dan berbincang sejenak dengan orang tuanya, Kak Joel menepuk pundakku. "Yuk, masuk ke kamarku saja. Biar kamu bisa istirahat tenang."

Lihat selengkapnya