Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #20

Senja di Ulee Lheue

Meninggalkan keagungan Baiturrahman di belakang, deru motor Kak Joel membawaku membelah sisa sore. Aroma kopi hitam yang pekat mulai menyergap, menuntun kami menuju ujung petualangan hari pertama, melanjutkan perjalanan perlahan melewati kawasan Pasar Atjeh yang mulai menutup aktivitas perdagangan sore. Di sana, aroma kehidupan kota semakin terasa tajam merangsang indra. Namun, yang paling dominan dan memikat indra penciumanku adalah aroma harum bubuk kopi yang sedang diseduh dengan cara tradisional ditarik tinggi-tinggi. Banda Aceh adalah surga nyata bagi para pencinta kopi hitam. Di sepanjang jalan yang kami lalui, warung-warung kopi konvensional beratap rumbia maupun seng dipenuhi oleh kaum pria dari berbagai kalangan usia dan profesi. Mereka duduk mengelilingi meja kayu bundar yang sederhana, menikmati segelas kopi hitam pekat atau kopi susu khas Aceh sembari berdiskusi hangat tentang politik, kehidupan sehari-hari, atau sekadar bertukar tawa lepas. Tidak ada sekat kelas sosial atau pangkat di sana; semua orang melebur menjadi satu kesatuan di atas meja kopi yang merakyat. Kehangatan interaksi itu membuatku merasa sangat diterima di tanah baru ini.

Perjalanan keliling kota kami sore itu akhirnya berakhir di sebuah area pesisir pantai yang sangat indah dan ramai dikunjungi warga: Pantai Ulee Lheue. Kak Joel memarkirkan motor bebeknya di bawah sebatang pohon kelapa yang tumbuh condong ke arah laut luas. Kami melangkah menyusuri hamparan pasir pantai yang halus, mencari tempat terbaik untuk menikmati penutupan hari pertama petualangan kami di tanah Sumatra ini.

Kami akhirnya memutuskan untuk duduk berdua, bersebelahan di atas sebuah batang kayu besar yang terdampar di tepi pantai. Di hadapan kami, Samudra Hindia membentang begitu luas sejauh mata memandang tanpa ada satu pun penghalang di cakrawala. Gelombang air laut yang jernih bergulung-gulung pelan dalam irama yang konstan, memecah di bibir pantai dengan suara desiran ritmis yang menenangkan jiwa yang lelah setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer.

Matahari sore itu tampak seperti sebuah bola api raksasa yang perlahan-lahan turun merosot menuju garis pertemuan antara langit dan air di ujung barat laut. Langit yang semula berwarna jingga terang kini mulai berubah gradasi menjadi merah tua, merah muda, dan keunguan yang sangat dramatis memanjakan mata. Cahaya keemasan yang tersisa dari sang surya memantul indah di atas permukaan air laut yang beriak, menciptakan jalur cahaya berkilauan yang sangat eksotis.

Kami berdua terdiam dalam keheningan untuk waktu yang cukup lama, menatap hamparan keindahan alam di depan kami. Tidak ada satu pun kata yang meluncur dari bibir kami berdua. Kami membiarkan keheningan alam mengambil alih seluruh suasana sore yang syahdu itu. Ini adalah bentuk keheningan yang mahal dan berharga, keheningan yang hanya bisa tercipta ketika dua orang sahabat telah mencapai level pemahaman yang mendalam satu sama lain tanpa perlu lagi diwakili oleh untaian kalimat panjang atau obrolan basa-basi yang tak penting. Kami saling memahami dalam diam yang kokoh.

Lihat selengkapnya