Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #21

Menutup Malam Dengan Kepasrahan Takdir

Malam di Kota Banda Aceh selalu punya cara tersendiri untuk mengikat ingatan. Setelah puas menyaksikan semburat jingga terakhir yang tenggelam di cakrawala Pantai Ulee Lheue, deru motor bebek tua milik Ayah membawa kami kembali membelah pusat kota. Langit Desember berganti gelap, dilapisi semilir angin malam yang berembus dari arah pesisir, membawa aroma garam yang khas menembus rajutan kemeja hitamku. Namun malam ini, kehangatan yang kurasakan di dalam dada benar-benar meluap. Di jok belakang, Irfan duduk sambil sesekali memegangi pundakku saat motor melindas bagian aspal yang tidak rata. Menghadirkan eksistensi nyata dari seorang adik angkat yang selama berbulan-bulan ini hanya bisa kusapa lewat dinginnya pendaran layar monitor di warung internet.

Aku membawa Irfan menuju pusat kuliner malam kota. Suasana Banda Aceh di penghujung tahun ini terasa begitu hidup, riuh oleh kepulan asap dari gerobak-gerobak pedagang kaki lima dan gemerlap lampu neon yang berjejer di sepanjang trotoar. Kedai-kedai makanan dipenuhi oleh aroma harum bumbu rempah yang tajam, berbaur dengan tawa renyah orang-orang yang sedang melepas lelah. Kami berdua duduk berhadapan di sebuah meja kayu panjang di bawah tenda kain yang semi-terbuka. Di depan kami, semangkuk mi aceh kepiting yang mengepulkan uap panas dan dua gelas teh tarik dingin berbusa tebal menjadi menu perayaan malam pertama kami di Tanah Rencong.

"Asli, Kak! Ini mi aceh paling enak yang pernah kumakan seumur hidupku. Jauh banget bedanya sama yang biasa dijual di dekat kampus Dramaga," seru Irfan dengan mata yang berbinar penuh kepuasan, jemarinya dengan cekatan membelah cangkang kepiting menggunakan alat penjepit.

Aku tertawa lepas, sebuah tawa maskulin yang renyah melihat tabiat makannya yang lahap. "Hahaha! Makanya, Fan. Sudah kubilang dari dulu kan, rasa yang asli itu cuma ada di tanah asalnya. Makannya pelan-pelan saja, nggak bakal ada yang merebut kepitingmu itu."

Sepanjang malam itu, obrolan di antara kami terus mengalir laksana aliran sungai jernih yang tak pernah kehabisan mata air. Persahabatan sejati sesama lelaki memang memiliki keunikan tersendiri; kami tidak membutuhkan kalimat-kalimat puitis yang mendayu-dayu untuk merasa dekat. Kami saling melempar gurauan kasar, membahas lagu-lagu Ungu Band yang liriknya menempel di dinding kamar, hingga cerita konyol tentang Dadan yang gemetar saat menyusun strategi jebakan duka di masjid Bogor waktu itu. Waktu terasa melar bagai karet, melompat cepat tanpa menyisakan jeda bagi sunyi untuk menyelinap. Tak terasa, kursi-kursi di sekitar kami mulai dibalikkan di atas meja oleh pemilik kedai, pertanda waktu telah bergeser larut dan warung makan sudah bersiap untuk tutup. Bersama adik angkatku ini, setiap detik waktu yang berputar terasa begitu cepat, ringkas, namun teramat sangat berharga di dalam lembaran sejarah hidupku.

Kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah panggung. Jalanan kota sudah lengang ketika motor bebek tua kami kembali membelah malam, menyisakan desau angin yang kian dingin menusuk tulang. Sesampainya di pekarangan luas, suasana Rumoh Aceh tampak begitu tenteram di bawah naungan pohon-pohon rindang. Kami menaiki anak tangga kayu yang melengkung dengan suara derit pelan yang akrab di telinga, melangkah masuk menembus ruang tengah, lalu menutup pintu kamar tidurku rapat-rapat.

Namun, alih-alih langsung memejamkan mata karena kelelahan fisik setelah menempuh perjalanan jauh, kami berdua justru kembali duduk bersandar di atas tempat tidur kayu yang besar. Pendaran lampu kamar yang temaram berwarna kuning keemasan menyoroti sudut-sudut kamar, menciptakan suasana magis yang bersahaja pada dinding-dinding papan kayu yang mengilat. Di atas kasur tipis yang dilapisi sprei bersih inilah, obrolan malam kembali dilanjutkan dengan volume suara yang lebih rendah agar tidak mengganggu istirahat orang tuaku di kamar sebelah.

Di tengah jalannya percakapan yang mengalir santai, sebuah sensasi ganjil yang aneh mendadak menyusup ke dalam rongga dadaku. Jantungku berdegup dengan tempo yang lambat namun teramat berat. Aku tertegun, mendadak kehilangan fokus pada kalimat yang sedang diucapkan Irfan. Entah mengapa, di bawah kepungan sunyi malam ini, aku merasakan sebuah gelombang kerinduan yang teramat besar dan mendalam pada sosok pemuda di hadapanku ini. Perasaan itu sungguh di luar kendali nalar. Bagaimana mungkin rasa rindu yang membukit bisa menyerang jiwaku sebegitu dalam, padahal raga anak itu sedang duduk nyata tepat di depan mataku? Semua ini terasa seperti sebuah mimpi yang berjalan di dunia nyata.

Aku memandangi sudut kamarku dengan pandangan yang mendadak kosong. Ranjang kayu ini, selama berbulan-bulan lamanya, adalah tempatku melamunkan dirinya saat aku masih terperangkap dalam ruang tunggu yang sepi di dalam dadaku sebagai seorang anak bungsu yang merindukan kehadiran seorang saudara laki-laki. Dulu, di kamar inilah aku sering menatap bingkai ungu di atas meja, membayangkan kapan takdir akan mempertemukan wajah kembar kami di bawah satu atap yang sama. Sekarang, segalanya berjalan begitu cepat. Kebersamaan penuh canda dan peluh yang baru kemarin kami lewati di Kota Bogor yang sejuk, kini telah berpindah dimensi ke tanah kelahiranku, di ujung barat Sumatra.

Entah atas alasan apa, dan tanpa mampu kukawal lagi, seisi jiwaku mendadak bergetar hebat. Rasa haru yang teramat pekat menyumbat tenggorokanku. Tiba-tiba saja, setitik air hangat menetes sendiri dari pelupuk mataku, mengalir perlahan melewati pipi di bawah temaram lampu. Aku terpaku, memandangi Irfan yang kini mulai merebahkan tubuhnya, terbaring santai di sampingku dengan posisi kepala menumpu di atas bantal.

"Kak Joel, kenapa?"

Lihat selengkapnya