Aku terbangun bukan karena diusik oleh suara tawa atau ketukan pintu dari Irfan, melainkan oleh sebuah sensasi mengerikan yang seketika mencabut seluruh kesadaranku dari alam mimpi. Jiwaku dipaksa tegak secara mendadak saat merasakan tempat tidur kayu milikku mendadak berguncang hebat, bergeser dan berderit kuat menentang lantai papan. Guncangan dahsyat itu terjadi begitu besar, bergemuruh dari dalam perut bumi, laksana ada tangan tak kasatmata berukuran raksasa yang sedang mencengkeram dan mengocok seluruh fondasi Rumoh Aceh milik keluargaku dengan murka yang luar biasa.
"Allahu Akbar! Gempa! Gempa besar!"
Suara lengkingan panik Ibu dari arah ruang tengah langsung menembus dinding kamar, bersahut-sahutan dengan teriakan berwibawa Ayah yang mencoba menenangkan suasana namun gagal menutupi kepanikan yang teramat sangat. Di dalam kamar, duniaku jungkir balik dalam sekejap mata. Bunyi berderak keras dari sambungan pasak kayu rumah panggung kami terdengar begitu memekakkan telinga. Jam dinding antik yang berdetak setia sejak masa kecilku terlepas dari pakunya, menghantam lantai dengan suara kaca pecah yang memilukan.
Mataku melotot lebar ke arah meja kayu di sudut ruangan. Detik itu juga, bingkai foto ungu yang menyimpan potret kebersamaan kami—sebuah simbol persahabatan murni antarlelaki yang mengikat janji persaudaraan kami sejak di Bogor—jatuh terhempas ke lantai papan, hancur berderai memisahkan kaca dari lembaran kertasnya. Belum sempat aku memproses rasa perih di dada melihat rusaknya benda berharga itu, suara patahan kayu terdengar dari atas kepala. Plafon rumah yang terbuat dari tripleks tebal mendadak runtuh, jatuh bebas dan nyaris menimpa kepalaku jika aku tidak bergerak tangkas berguling ke sisi kasur untuk menghindar.
"Irfan! Bangun, Fan!" teriakku lantang, suaranya parau bertarung dengan gemuruh bumi yang kian mengganas.
Tangan kananku bergerak cepat meraba sisi kasur di sebelahku, berniat menarik tubuh adik angkatku itu agar segera berlari keluar. Namun, telapak tanganku hanya menghantam permukaan kain sprei yang kosong dan sudah mendingin. Aku tersentak, menoleh dengan cepat ke samping. Kosong. Kasur di sebelahku tidak berpenghuni.
"Irfan...?"
Rasa panik yang jauh lebih besar daripada ketakutanku pada gempa bumi itu sendiri mendadak menyergap rongga dadaku, membuat jantungku berdegup kencang dengan ritme yang menyiksa. Di tengah ruangan yang bergoyang ekstrem laksana kapal dihempas badai, aku memaksakan kedua kakiku untuk berdiri, melangkah terhuyung-huyung keluar kamar sembari berpegangan pada kusen pintu yang berderit parah.
"Joel! Keluar, Nak! Cepat turun!" teriak Ayah yang muncul di ambang pintu depan dengan wajah pucat pasi, merangkul Ibu yang tubuhnya sudah gemetar hebat karena ketakutan.
"Ayah, Ibu, jalan duluan! Turun ke pekarangan sekarang! Joel cari Irfan dulu!" balasku dengan suara menggelegar, menolak untuk ikut turun sebelum memastikan keselamatan adikku.