Pagi hari aku terbangun. Perlahan, kelopak mataku terbuka melawan sisa kantuk yang masih menggelayuti benak. Mataku menyapu ke langit-langit yang terbuat dari susunan papan kayu kokoh bernuansa gelap. Aku terdiam sejenak, sedikit heran dan asing dengan pemandangan yang menyambut kesadaranku. Ada yang beda dengan kamarku ini. Keheningan yang merayap di sekitar ruangan terasa ganjil, tidak ada suara rintik gerimis yang saban waktu mengetuk kaca jendela.
Detik berikutnya, barulah kesadaranku pulih seutuhnya. Aku tersenyum kecil saat menyadari bahwa aku bukan lagi berada di kamarku di kota hujan. Aku sudah terbang jauh membelah cakrawala, menyeberangi lautan luas, dan kini sedang merebahkan tubuh di ujung Pulau Sumatera. Saat aku menoleh ke samping, Kak Joel masih tertidur lelap di atas kasur yang sama. Wajah sahabat sejati yang sudah kuanggap sebagai abang angkatku itu terlihat bersih dan tampak ganteng walaupun dengan mata tertutup. Gurat-gurat tegas di wajahnya tampak begitu tenang, sangat kontras dengan ekspresi panik yang dia tunjukkan saat terkena jebakan sandiwara duka yang kususun bersama Dadan. Aku memandangnya lama dalam diam, merasakan kehangatan persahabatan kami yang murni tanpa sekat canggung sedikit pun.
Aku tak ingin mengganggu Kak Joel yang tampaknya masih kelelahan setelah menjaga tidurku semalam. Perlahan, aku turun dari tempat tidur kayu yang besar itu agar tidak menimbulkan derit papan yang berisik. Aku melangkah keluar kamar dengan berjingkat. Pagi itu, pekarangan rumah panggung khas Aceh milik keluarga Kak Joel masih diselimuti kabut tipis yang sejuk. Sebelum pergi, aku meminjam sepeda hitam bergaris putih milik Kak Joel yang terparkir rapi di bawah kolong rumah panggung. Aku ingin menikmati udara bersih dan keindahan pantai di sekitar Banda Aceh selagi hari masih pagi.
Seumur hidupku, ini adalah pertama kalinya aku meninggalkan Pulau Jawa. Detik ini sebenarnya sudah sangat lama kunantikan dalam hidup, dan akhirnya segala anganku kesampaian juga. Jadi, dulu aku pernah bermimpi sejak zaman abu-abu di bangku SMA. Jika sudah dewasa nanti—tepatnya jika aku sudah punya uang banyak dari hasil keringat sendiri—ingin rasanya bisa menjadi seorang traveler atau sekadar menjadi seorang backpacker sejati, meskipun setakat keliling Indonesia saja. Kalau berangan-angan bisa keliling dunia, bagiku memang sih terlalu muluk rasanya. Apa yang bisa diharapkan dari anak seorang orang tua tunggal yang hanya berprofesi sebagai marbot masjid? Kalau aku ditakdirkan menjadi anak seorang miliuner, tentu lain hal ceritanya. Tak perlulah aku bersusah payah merajut angan, karena pasti semua mimpi itu bisa dengan mudah kesampaian tanpa perlu modal nekat.
Sepanjang jalan, aku merenungkan banyak hal sembari mengayuh sepeda kayuh ini. Aku berpendapat, bahwa orang yang bisa keliling nusantara, di hatinya akan tumbuh rasa nasionalisme yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah pergi ke mana-mana. Alasan itu tumbuh karena seorang petualang telah melihat secara langsung keberagaman di setiap tempat yang ia singgahi. Di sana, ia bisa menyaksikan panorama alam yang berbeda dan mengenal adat istiadat penduduk tempatan dari dekat, yang pastinya akan meninggalkan kesan yang amat mendalam di lubuk hati. Betapa indahnya ya tanah airku? Kalimat itu pasti yang akan selalu terlintas di benak setiap kali menjejakkan kaki di tempat baru.
Demikian halnya pagi ini, 26 Desember. Sepanjang jalanan aspal bersih yang kulalui menggunakan sepeda, aku tidak henti-hentinya mengagumi suasana Kota Banda Aceh di kala pagi hari. Udara bersihnya begitu menyegarkan rongga dada, mengusir sisa-sisa penat perjalanan udara yang melelahkan kemarin. Dulu aku hanya mengetahui namanya saja lewat buku pelajaran atau lembar obrolan digital di internet, namun kini aku sudah benar-benar berpijak di atas tanahnya yang nyata. Rasanya masih berasa seperti mimpi yang teramat indah.
Dengan hati yang riang membuncah, sepeda hitam bergaris putih itu kukayuh perlahan menuju tepi pantai. Di tengah perjalanan, langkahku sempat melambat saat aku melewati bangunan megah yang berdiri anggun di jantung kota: Masjid Raya Baiturrahman. Kubah-kubah hitamnya yang gagah menjulang tinggi tampak begitu memukau di bawah siraman cahaya matahari pagi yang mulai naik menembus kabut. Konon, masjid megah yang menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Aceh ini didirikan pada masa Kesultanan Aceh di tahun 1612, tetapi hingga detik ini tetap kokoh berdiri menantang zaman. Terbersit keinginan kuat di hatiku: suatu hari nanti, aku ingin sekali mengajak Ayah ke tempat ini, membiarkan beliau bersujud di atas lantai marmer masjid yang luar biasa megah ini.
Setelah puas mengagumi kemegahan masjid yang kemarin sudah aku sambangi dengan Kak Joel itu, aku kembali mengayuh sepeda menuju arah pesisir. Dari kejauhan, bangunan mercusuar yang berdiri tegak mengawal tepi pantai mulai terlihat, menjadi penanda kokoh batas antara daratan pesisir dan luasnya samudra. Tiba di pantai, aku langsung disambut oleh embusan angin yang sejuk dan menenangkan. Sungguh unik, tidak seperti biasanya di mana angin laut selalunya membawa hawa panas khas pesisir pantai. Ini benar-benar beda. Hawanya terasa dingin dan segar, mengingatkanku pada udara pagi di kota hujan kampung halaman.
Aku melabuhkan sepeda kayuh itu, menyandarkannya di bawah sebatang pohon kelapa yang batangnya tinggi menjulang dan meliuk gemulai. Lantas, dengan perasaan bebas, kupijak butir-butir halus pasir putih di bibir pantai. Air laut yang jernih menggulung lembut, menyentuh kakiku yang bersandal jepit, menghantarkan rasa dingin yang menjalar nyaman ke seluruh tubuh. Di tengah keasyikanku duduk di sebuah batu karang yang menjorok di ujung pantai, aku tidak sadar telah berjalan cukup jauh dari tempatku memarkirkan sepeda tadi.
Saat sedang asyik memandang garis cakrawala laut luas, seorang bapak paruh baya bertubuh kekar mendadak menyapaku ramah. Lelaki itu berdiri di samping perahu motor kayu tradisional miliknya. Ia menawarkan diriku untuk ikut naik ke perahunya bersama tiga orang wanita muda yang tampak seperti wisatawan lokal yang sudah menyewa perahu itu lebih dulu.