"Irfan … Di mana kamu, Fan? Irfan …!"
Napas yang memburu berkejaran dengan detak jantungku yang bertalu kencang ibarat sisa gemuruh dari dasar bumi yang tak pernah benar-benar padam di kepala. Seluruh permukaan kaus katun yang kukenakan basah kuyup oleh cucuran keringat dingin. Aku tersentak, menegakkan punggung dengan gerakan refleks yang kaku. Bayangan dinding air raksasa berwarna hitam pekat yang melumat pesisir Pantai Ulee Lheue seketika pecah, buyar menjadi serpihan kegelapan malam yang berselimut sunyi.
“Awak bermimpi fasal Irfan lagi ke?”
Sebuah suara lembut dengan logat Melayu yang khas memecah keheningan kamar tidur bercat putih ini. Suara itu berasal dari seorang wanita yang terbaring tepat di sebelah kiriku. Ain, istriku. Dia adalah wanita asli Melayu Semenanjung yang kunikahi tiga tahun yang lalu, sosok berhati emas yang dengan sabar menemaniku menata kembali puing-puing hidup yang sempat hancur lebur dihantam badai takdir.
Aku menoleh ke arahnya di keremangan kamar, mencoba mengatur napas yang masih tersengal, lalu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Kulirik jam dinding kecil yang menggantung setia di atas meja rias. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 00:21 dini hari.
Detik itu juga, sebuah rasa sesak yang luar biasa berat kembali menghujam ulu hatiku. Angka di kalender meja seolah berkedip tajam, menegaskan sebuah tanggal yang teramat sakral sekaligus menyakitkan bagi jiwaku. Hari ini adalah hari ulang tahun Irfan. Jika anak badung itu masih bernyawa dan ada di dunia yang fana ini, usianya saat ini tepat menginjak 23 tahun.
Tidak terasa, waktu ternyata berjalan begitu cepat dan ringkas. Empat tahun sudah berlalu sejak hari kelam di penghujung Desember itu. Empat tahun sejak air laut berbentuk monster samudra meremenggut seluruh kebahagiaan hidupku, mengorbankan kedua orang tuaku, dan melumat habis Rumoh Aceh kayu tempat ari-ariku ditanam. Bencana dahsyat itu tidak hanya merenggut keluarga sedarahku, tetapi juga 'menghilangkan' Irfan. Kutegaskan kata 'menghilangkan' di dalam benakku, karena hingga detik ini, jasad adik angkatku itu tidak pernah ditemukan di bawah puing-puing kehancuran kota maupun di sepanjang pesisir pantai. Kenyataan tanpa kepastian itu bertransformasi menjadi sebuah ruang tunggu yang sunyi dan abadi di dalam dadaku.