Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #25

Merayakan Ulang Tahun Irfan

Waktu ibarat air yang mengalir tenang di permukaan, namun menyimpan arus yang sanggup mengikis bebatuan ingatan di dasarnya. Empat tahun telah berlalu sejak gelombang dahsyat itu meluluhlantakkan Tanah Rencong, menyapu bersih rumah panggung kayu tempat kami bertukar tawa, dan melarikan separuh dari jiwaku ke dalam palung ketidakpastian. Di bawah langit Kuala Lumpur yang riuh oleh deru pembangunan dan kepungan gedung-gedung pencakar langit, aku mencoba merajut kembali sisa-sisa hidup yang sempat terkoyak. Menara Kembar Petronas yang berdiri angkuh di luar jendela kaca besar ini kerap kali menjadi saksi buas bagaimana aku melemparkan pandangan kosong, mencari sebuah wajah yang teramat akrab di antara jutaan manusia yang berjejal di trotoar kota.

Pagi itu, hawa dingin dari pendingin ruangan kantor cabang Maybank Desa Pandan langsung menyambut langkahku begitu melewati pintu kaca sensoris. Mengikuti aturan korporat perbankan Malaysia yang ketat, aku telah berdiri rapi dalam balutan kemeja putih formal yang disetrika licin, dipadukan dengan dasi sutra bermotif gelap yang terikat rapi di kerah. Tanda pengenal bermagnet tergantung di saku dadaku, menegaskan posisiku sebagai salah satu staf customer service yang bertugas melayani nasabah di meja nomor tiga. Banyak rekan kerja yang bilang aku tampak gagah dan berwibawa dengan seragam ini, namun di balik lapisan kain formal dan senyum profesional yang selalu kupasang, ada sebuah ruang sunyi di dalam dadaku yang tidak pernah benar-benar bisa terisi kembali.

Aku melangkah menuju meja kerjaku, meletakkan tas kerja kulit di lantai, lalu menduduki kursi beroda dengan helaan napas panjang. Sebelum tumpukan berkas aplikasi pembukaan rekening dan pengajuan kredit nasabah menyita seluruh fokusku hari ini, ada satu ritual sunyi yang selalu kulakukan setiap kali memulai hari. Tangan kananku bergerak perlahan, menarik laci meja kayu di sebelah kanan hingga memunculkan bunyi gesekan yang halus. Di sudut terdalam laci tersebut, di antara tumpukan formulir kosong dan pulpen cadangan, terbaring sebuah benda yang teramat berharga.

Sebuah bingkai foto kecil bertekstur kayu dengan warna ungu yang mulai sedikit memudar di beberapa sudutnya.

Aku mengambil bingkai itu dengan kedua belah tanganku, mengangkatnya dengan penuh kehati-hatian seolah benda itu terbuat dari kaca tipis yang mudah hancur. Di dalam bingkai tersebut, selembar foto kertas memperlihatkan potret diriku dan Irfan yang berdiri berdampingan di bawah rimbunnya pepohonan Kota Bogor, beberapa minggu sebelum bencana itu memisahkan kami. Kami berdua tersentak senyum lebar ke arah kamera, dengan lengan yang saling merangkul bahu satu sama lain—sebuah simbol mutlak dari ikatan persahabatan sejati antara dua lelaki yang telah mengikrarkan diri sebagai saudara angkat. Wajah kami yang mirip sering kali membuat orang salah paham, mengira kami adalah saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama.

Aku menatap lekat-lekat garis wajah Irfan di dalam foto itu. Sorot matanya yang jenaka seolah sedang balik menatapku, menembus sekat waktu empat tahun yang menyiksa.

"Selamat ulang tahun, Fan..." bisikku teramat lirih, hampir tak terdengar oleh deru halus pendingin ruangan. Suaraku tercekat di tenggorokan. "Kakak tahu kamu masih ada di suatu tempat di luar sana. Kakak tahu kamu belum menyerah, dan suatu saat nanti, entah bagaimana caranya, takdir pasti akan mempertemukan kita kembali. Rasa sayang dan tanggung jawab seorang abang kepadamu tidak akan pernah berubah, Fan... sedikit pun tidak akan pernah berkurang. Semoga kamu di sana baik-baik saja ya, Fan..."

Bersamaan dengan runtuhnya pertahanan batinku, sebutir air mata hangat mendadak lolos dari pelupuk mataku. Air mata itu bergulir lambat melewati pipiku, menetes tepat di atas permukaan kaca bingkai foto, tepat di bagian wajah Irfan. Aku tertegun, buru-buru menyekanya menggunakan ujung jari telunjuk dengan gerakan cepat, mencoba menjaga sisa-sisa ketegaran maskulin yang kupunya sebelum jam pelayanan kantor dimulai.

Lihat selengkapnya