Hari ini, bukanlah hari biasa bagi detak jantungku. Setelah sore tadi merayakan ulang tahun Irfan dalam kesunyian yang khidmat bersama rekan-rekan kerja di bank, ada sepetak rindu lagi yang harus kutunaikan bersama keluarga kecilku. Aku ingin membawa suasana rumah, aroma tanah air, dan doa-doa tulus ke atas meja makan malam kami.
Pilihan tempat jatuh pada sebuah restoran Indonesia yang cukup ternama di pinggiran kota. Sebuah tempat yang tidak hanya menyajikan kuliner nusantara, tetapi juga menawarkan kehangatan yang sanggup mengobati kerinduan para perantau. Di dalam mobil, Ain duduk di sebelahku dengan keanggunan seorang istri yang selalu paham badai apa yang sedang berkecamuk di dalam dada suaminya. Sementara di kursi belakang, putra kecil kami yang berusia dua tahun sedang asyik memandang keluar jendela, mengetuk-ngetuk kaca dengan jemari mungilnya sambil bergumam kecil.
Muhammad Julfanain Fahmy. Sebuah nama yang kurajut dengan penuh hikmat dan air mata. Nama itu bukanlah deretan kata tanpa makna, melainkan sebuah prasasti hidup yang menggabungkan namaku dan dua nama manusia yang paling kukasihi di atas muka bumi ini: Joel, Irfan, dan Ain. Lewat nama Julfan, aku menautkan takdir persahabatan masalalu, perjuangan masa kini, dan harapan masa depan. Aku ingin anak lelakiku bertumbuh dengan mewarisi keteguhan hati kami.
Begitu melangkah melewati pintu masuk restoran, aroma tumisan bawang, sambal terasi yang membakar selera, dan petikan kain batik yang menghias dinding langsung menyergap indra penciuman. Kami disambut ramah oleh para pramusaji. Keramahan khas Indonesia yang penuh keakraban, seolah kami bukanlah pelanggan asing, melainkan kerabat jauh yang baru saja pulang dari perantauan panjang.
"Ya Allah, comelnya awak! Siapo name ni?" celoteh seorang pelayan wanita bertubuh mungil. Aku melirik papan nama kecil yang tersemat di apron jilbabnya: Nur Rohmah. Dengan gemas, Nur mencubit kecil pipi Julfan yang tembam.
Julfan yang terbiasa mendengar percakapan di lingkungan sekitar taman bermain kondominium kami langsung mendongak, matanya membulat jenaka. "Name kite Julfan..." jawabnya menggunakan slang Melayu anak-anak yang kental, membuat Nur tertawa renyah.
Nur kemudian mengalihkan pandangannya padaku, lalu bergantian menatap Julfan dengan saksama. "Wajahnya mirip sekali dengan papahnya ya, Mas... Bagai pinang dibelah dua," ujarnya tulus.
Aku hanya tersenyum tipis, mengangguk sopan demi menghargai pujian tersebut. Namun dalam hati, ada desir halus yang membuat dadaku terasa ngilu. Sejujurnya, jika diperhatikan lebih dalam, gurat wajah Julfan justru jauh lebih menyerupai wajah Irfan sewaktu kecil. Bentuk matanya yang bulat teduh serta lengkung senyumnya yang polos adalah duplikasi sempurna dari adik angkatku itu. Rambutnya juga agak ikal seperti rambut Irfan, mengikuti genetik Ain yang berombak lembut. Setiap kali memandang Julfan yang sedang tertawa, aku seolah melihat bayangan Irfan yang kembali hadir dalam wujud bayi mungil yang suci. Keberadaan anak itu secara tidak langsung merawat kehadiran Irfan agar tidak pernah padam dari ingatanku.
Kami dipandu menuju sebuah meja kayu di sudut ruangan yang agak tenang. Saat itulah, dari balik meja kasir dan bilik administrasi, muncul sesosok pria bertubuh tegap dengan sepasang alisnya yang terlihat agak tebal. Senyumnya langsung merekah begitu mengenali sosokku.