Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #27

Air Mata di Bawah Jambu Klutuk

Gerombolan codot berhamburan dari dahan pohon jambu klutuk di depan rumah saat kepakan sayap mereka yang kasar memecah keheningan fajar. Mendengar suara berisik itu, aku mendongakkan kepala ke dahan pohon jambu yang tengah berbuah lebat itu. Sisa-sisa embun pagi yang jatuh dari gesekan daun membasahi tanah pelataran yang dingin dan lembap. Namun, perhatianku sepenuhnya tersirap oleh rimbunnya dedaunan di atas sana. Ingatanku sesaat itu juga langsung terkenang pada anak semata wayangku yang telah tiada.

Irfan, anakku itulah yang menanam pohon jambu klutuk berbiji merah yang sangat manis rasanya ini. Tanaman ini menyimpan banyak cerita yang dulu sering diucapkan Irfan dengan binar mata penuh rasa ingin tahu ke arahku. Anakku itu pernah bercerita bahwa tanaman ini berasal dari Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke Thailand kemudian ke negara Asia lainnya seperti Indonesia. Mengingat penuturan ilmiahnya yang polos kepada ayahnya ini membuat dadaku kembali berdentum ngilu. Dulu, anakku itulah yang selalu memanjat dan memetiki jambu-jambu berukuran sebesar kepalan tangan anak kecil itu untuk diberikan kepada sepupunya, Dadan, teman-teman tongkrongannya, atau para tetangga di sekitar kampung Dramaga ini. Dia adalah anak yang teramat pemurah, jiwa pengasih yang tidak pernah ingin menikmati kemanisan dunia sendirian.

Sebenarnya sejak kemarin, aku merasa heran. Kali ini pohon jambu itu berbuah sangat lebat, sungguh tidak pernah terjadi sebelumnya selama aku merawat pekarangan ini. Seolah-olah alam sedang mempersiapkan sebuah perayaan besar yang tak kasat mata di halaman rumah tuaku yang bersahaja ini. Buah-buahnya yang kaya vitamin C—bahkan empat kali lebih tinggi dibanding yang terdapat dalam jeruk—terlihat ranum menguning di antara jalinan ranting yang kokoh. Namun, di mataku limpahan buah tersebut justru mendatangkan rasa hampa yang berkepanjangan. Air mataku menetes di pagi dingin, merindukan buah hatiku yang tak pernah kembali untuk memanjat dahan-dahannya lagi.

Aroma tanah basah setelah gerimis subuh tadi selalu punya cara tersendiri untuk mengorek kembali laci ingatan yang coba kukunci rapat-rapat. Di bawah naungan rimbun daun jambu inilah, empat tahun lalu, aku melepas kepergian dua orang pemuda tanggung dengan ransel besar di pundak mereka. Irfan dan Joel. Ingatanku tentang pagi itu masih teramat jernih, laksana air sumur masjid yang saban hari kubersihkan. Aku ingat betul bagaimana mata anakku berembun saat memelukku erat di ambang pintu ini sebelum ia melompati batas Pulau Jawa demi mengejar impian menjadi seorang backpacker sejati.

Lihat selengkapnya