Waktu ibarat sapuan angin malam yang berembus lembut memutari dinding masjid, membawa pergi hela demi hela napas kedamaian yang pernah mampir di hidupku. Ingatanku mendadak terlempar dengan teramat kejam menuju garis waktu empat tahun yang lalu. Sebuah runtutan hari di penghujung Desember yang selamanya telah mengubah jalannya sejarah hidupku yang bersahaja ini. Hari itu, setelah aku selesai menunaikan ibadah salat dhuha di dekat pilar depan masjid, ketenangan pagi Kota Hujan mendadak pecah berkeping-keping oleh kedatangan sepupu anakku yang terengah-engah membawa kabar dari dunia luar.
Dadan melangkah masuk ke dalam masjid dengan wajah yang pucat pasi laksana kain kafan. Langkah kakinya yang terburu-buru bergetar hebat di atas lantai ubin yang dingin. Dengan suara serak yang nyaris habis di tenggorokan, ia mengabarkan bahwa sebuah gempa tektonik berkekuatan 9,1 Skala Richter baru saja mengguncang dasar samudra di ujung barat pulau Sumatra, memicu gelombang ombak raksasa yang melumat habis pesisir Tanah Rencong.
Jderrr..! Berita itu terasa laksana hantaman keras yang tepat mengenai ulu hatiku. Napasku seketika sesak. Jantungku berdetak dengan ritme yang menyiksa, melepaskan gelombang ketakutan purba yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Di luar dinding masjid, hujan Bogor yang sisa gerimis tipis mendadak terasa begitu membekukan bulu kudukku. Pikiran dan anganku langsung terbang melintasi batas lautan, tertuju sepenuhnya pada nasib dua pemuda tanggung yang baru kemarin subuh kulepas dari ambang pintu rumahku: Irfan, anak semata yang paling kucintai, dan Joel, sahabat karibnya yang sudah kuanggap sebagai anak sendiri.
Situasi pascabencana itu berubah menjadi sebuah labirin kegelapan yang teramat pekat bagi jiwaku. Jaringan komunikasi lintas pulau terputus total selama tiga hari berturut-turut. Tidak ada sinyal, tidak ada barisan teks digital di layar komputer, dan tidak ada suara operator mekanis yang bisa memberikan secercah kejelasan tentang kondisi di sana. Dunia seolah sengaja mengurungku dalam kesunyian yang mencekam.
Aku terpuruk di lantai masjid, membiarkan tubuhku yang gempal ini bersujud lama di atas hamparan karpet hijau yang sunyi. Di tengah kepungan rasa panik yang nyaris melumpuhkan logika, aku memaksakan raga ini untuk melakukan salat dua rakaat, melangitkan doa-doa khusyuk di sepertiga malam demi memohon keselamatan bagi Irfan dan Joel. Air mataku meleleh, membasahi kain sujud di bawah wajahku yang berjanggut. Hidupku benar-benar diliputi rasa waswas yang teramat sangat, sebuah ketakutan amat besar bahwa jalinan persahabatan murni di antara kedua lelaki itu akan berakhir tragis di bawah puing-puing kehancuran bumi Serambi Mekah. Aku terus menjaga ruang tunggu yang sunyi di dalam dadaku, berharap takdir Tuhan akan membawa mereka pulang dengan selamat.