Empat tahun telah berlalu sejak badai laut di ujung barat Sumatera itu mengoyak jalinan takdir kami, namun bagiku, detak waktu seolah berjalan melambat di dalam ruang tunggu yang sunyi di dalam dadaku. Sebagai marbot masjid yang menghabiskan sisa usia di antara derit pintu kayu dan sapuan lantai rumah Tuhan, aku telah terbiasa berteman dengan sepi. Kehilangan anak semata wayang, Irfan, adalah sebuah hantaman yang sempat melumpuhkan seluruh sendi kehidupanku. Namun, di tengah kepungan duka yang membubung, menembus langit-langit bangunan ini, ada sepetak mukjizat kecil yang selalu kurawat dengan penuh ketekunan di dalam ulu hatiku.
Meskipun duka membubung tinggi dan kenyataan pahit telah mencantumkan nama anakku dalam manifes korban yang tiada, dalam setiap hamparan sujud salat tahajud di sepertiga malam, aku selalu merasa Irfan masih hidup. Keyakinan itu bukan lahir dari sebuah penolakan emosional yang buta, melainkan dari sebuah getaran ganjil yang aneh yang selalu hadir menenteramkan jiwaku setiap kali keningku menyentuh ubin masjid yang dingin. Di bawah pendaran lampu yang temaram, saat badai luar berganti menjadi desau angin malam Kota Hujan yang lembut, seisi jiwaku sering kali bergetar hebat oleh sebuah kehadiran sosok yang tak kasat mata.
Beberapa kali, di sela-sela tidurku yang tanpa mimpi utuh setelah tahajud, Irfan hadir dalam mimpiku dengan wujud yang teramat jernih ibarat air sumur yang suci. Di dalam dimensi bawah sadar itu, situasi gundah yang biasa mengurungku mendadak sirna. Anakku melangkah mendekat dengan balutan kaus putih longgar yang biasa ia kenakan sewaktu bersiap di rumah kami. Wajahnya bersih, memancarkan binar ketenangan seorang pemuda yang tangguh, sangat kontras dengan bayangan berdarah yang sempat menghantui mimpi Joel di masa lalu. Irfan tersenyum teduh, menatapku langsung dengan sorot mata yang penuh dengan ketulusan seorang anak, lalu berjalan mendekat dan berbisik lirih tepat di telingaku, "Sabar ya Yah, Irfan akan pulang."
Kalimat pendek yang keluar dari bibir anakku di dalam mimpi itu selalu berhasil menjadi penawar luka yang paling mustajab bagi rongga dadaku yang hampa. Begitu kelopak mataku terbuka membelah kabut subuh perkampungan Dramaga, rasa cemas dan sesak yang biasanya menumpuk runtuh seketika, berganti dengan rasa damai yang mendalam. Aku percaya, bahwa di dunia yang fana ini, bersandar pada firasat yang dititipkan Tuhan melalui jalur langit adalah sebuah kebenaran hakiki yang takkan pernah bisa ditenggelamkan oleh pendapat manusia. Ikatan batin antara seorang ayah dan anak, sebagaimana ikatan persahabatan sejati antara dua lelaki, memiliki jalannya sendiri untuk saling menyapa menembus sekat ruang dan waktu.
Keyakinan yang kurawat bertahun-tahun itu mendadak menemukan jawabannya pada suatu sore yang tenang di awal bulan ini. Sebuah getaran dari telepon genggam tua di dalam saku baju kokoku membawa gema suara yang teramat kurindukan dari seberang lautan Selat Malaka. Joel menghubungiku melalui sambungan internasional. Suara anak angkatku itu terdengar jauh lebih matang, mantap, dan dipenuhi oleh kewibawaan seorang lelaki sejati yang telah berhasil menaklukkan keterpurukan hidupnya di Negeri Jiran.
Jantungku berdegup kencang, melepaskan rasa haru yang luar biasa saat Joel mengabarkan bahwa ia akan pulang ke Indonesia menghabiskan cuti tahunannya, dan ia memantapkan hati untuk memboyong keluarga kecilnya. Namun, letupan kegembiraan yang sesungguhnya meledak di dalam dadaku ketika Joel menambahkan satu kalimat yang snagat berarti di akhir percakapan kami: ia juga akan ke Bogor mengunjungiku.
Mendengar kabar kepulangannya yang mendadak itu, jiwaku yang renta seolah mendapatkan suntikan energi baru yang meluap-luap. Rumah sederhana kami yang selama empat tahun ini berdiri membisu diselimuti debu kesunyian, harus segera dipersiapkan untuk menyambut kehadiran momen besar ini. Joel mengabarkan bahwa ia tidak akan datang sendirian; ia akan berkunjung bersama istri asalnya dari Melayu Semenanjung, Ain, serta putra lelakinya yang berumur dua tahun, Julfanain.