Jika kau menyayangi seorang sahabat, pasti kau akan merasakan hampa yang berkepanjangan jika dipaksa berpisah dengannya oleh suatu keadaan yang tak pernah kau harapkan itu terjadi. Misalnya sahabatmu harus pindah keluar negeri demi menggapai mimpinya sedangkan dirimu stuck pada satu tempat atau keadaan yang itu-itu saja, tentu kau merasa jadi orang yang tergagal, dan malu untuk bertemu dengan sahabatmu yang pulang membawa keberhasilan. Padahal bertahun-tahun lamanya kau ingin bertemu dengannya.
Atau, ketika sahabat terbaikmu telah menemukan tambatan hatinya dan hidup berbahagia dengan keluarga kecilnya, kau merasa tak punya tempat lagi, lalu kau terpaksa menghindar, sedangkan kau tak bisa memungkiri hati kecilmu kalau kau masih ingin sesering mungkin bisa bersamanya, minimal bertanya kabarnya, tetapi kau malu.
Namun, semua pengandaian pelik itu sungguh berbeda dengan apa yang kualami. Ketika persahabatanku dengan Irfan berbuah persaudaraan sejati antara dua lelaki, sahabat yang sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri itu dipisahkan begitu saja dariku oleh amuk gelombang raksasa, tanpa aku tahu ke mana lagi aku harus menemuinya di belahan dunia ini. Nahas bagiku, logika warasku sering kali lumpuh oleh ikatan batin yang terlampau kuat; aku selalu menganggap Irfan masih hidup dan suatu hari yang entah kapan, kami pasti akan dipertemukan kembali oleh garis takdir. Apatah lagi dalam mimpi-mimpi malamku, aku selalu bertemu dengannya dalam keadaan sehat dan tersenyum teduh. Kehadirannya yang kerap di alam bawah sadar itu membuat harapan untuk bertemu dengannya pun kian membukit tinggi, mengalahkan vonis mati yang dijatuhkan oleh kenyataan setalah bencana dahsyat itu.
Rasa kehilangan seorang sahabat sejati bukanlah perkara yang bisa sembuh hanya dengan berpindah koordinat geografi. Empat tahun merantau di Negeri Jiran, menata karier di kantor Maybank Kuala Lumpur, nyatanya belum sanggup mengikis nama Irfan dari dinding jiwaku. Di kota metropolitan yang bising ini, duniaku bergerak dalam tempo yang kaku dan penuh tuntutan profesionalisme. Aku tumbuh menjadi lelaki yang tampak tangguh dan mapan dari luar, namun di dalam dada, aku tetaplah seorang abang yang kehilangan adiknya, seorang sahabat yang merindukan rekan bertukar cerita dan keluh kesah kehidupan.
Siang itu, terik matahari Kuala Lumpur membakar aspal dengan begitu terik, menciptakan fatamorgana tipis di atas jalanan yang padat oleh deretan taksi merah-putih dan mobil-mobil pekerja kantoran. Jam dinding di lobi kantor baru saja melewati angka dua belas siang ketika rekan kerjaku, Zuhairi, menepuk pundakku dengan ramah. Pria asal Muar, Johor itu tersenyum lebar, memaklumi wajah lesuku yang agaknya mulai jenuh dengan tumpukan berkas analisis pasar modal sejak pagi subuh.
Zuhairi mengajakku makan siang ke kawasan Kampung Baru. Rupanya, dia sengaja mengajakku ke sana karena dia tahu betul kalau aku adalah orang Aceh asli. Di wilayah Kampung Baru tersebut, ada sebuah kedai makan yang sudah lama berdiri dan menjadi salah satu destinasi kuliner favorit bagi banyak orang di Kuala Lumpur. Walaupun selama empat tahun merantau aku sudah terbiasa menemui kedai makan Aceh di sekitaran wilayah Kuala Lumpur, anehnya aku belum pernah menginjakkan kaki ke kedai favorit yang satu ini.
"Joel, jom kita keluar makan siang. Kau asyik menghadap komputer sahaja dari tadi, boleh pusing kepala tu. Aku tahu satu tempat baik punya untuk sejukkan hati kau," ajak Zuhairi dengan dialek khas Johor-Riau.
Aku mendongak, menyeka pelipis yang sedikit berkeringat, lalu mengangguk setuju. "Boleh juga, Hairi. Ke mana kita siang ini? Perutku memang sudah minta diisi."
"Kita ke Kampung Baru. Ada satu kedai makan Aceh kat sana yang selalu jadi favorit orang ramai," jawabnya bersemangat.