Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #31

Pemuda Bernama Alif

Rasa hangat yang menjalar di tenggorokanku setelah sesapan pertama kaldu sup buntut itu tidak serta-merta menguap begitu saja. Ia justru berubah menjadi sebentuk debaran ganjil yang aneh, yang terus-menerus memukul dinding dadaku dengan tempo yang kian tak beraturan. Logikaku yang terbiasa berjalan cepat dan dingin sebagai seorang pekerja kantoran di bank, mendadak lumpuh total oleh kepungan intuisi yang teramat kuat. Cita rasa ini terlampau spesifik. Ramuan ketumbar, pala, kapulaga, dan sentuhan cengkih yang berpadu dengan gurihnya sumsum tulang ini bukanlah produk massal yang bisa ditiru secara sembarangan oleh kedai-kedai lain di belantara Kuala Lumpur. Ini adalah ibarat 'sidik jari' rasa dari sebuah tangan yang pernah membimbingku memahami arti kehangatan sebuah rumah sederhana di sudut Dramaga, Bogor.

Aku meletakkan sendok logam di atas meja dengan sedikit hentakan, menimbulkan bunyi klenting tipis yang memotong riuh rendah suasana jam makan siang di Kampung Baru. Mataku bergerak liar menyapu seisi kedai makan Aceh favorit ini, mencari-cari sebuah celah atau pintu tersembunyi yang menghubungkan ruang makan yang padat ini dengan area dapur di bagian belakang. Persahabatan sejati di antara dua lelaki yang telah ditempa oleh bencana mahadahsyat sering kali melahirkan sebuah radar batin yang tak kasat mata. Radar itu saat ini sedang meraung keras di dalam kepalaku, meneriakkan sebuah kemungkinan yang teramat gila namun menolak untuk kuabaikan begitu saja.

"Joel? Kau sungguh oke ke, Mat? Wajah kau dah macam tengok hantu," suara Zuhairi kembali mampir di telingaku, nadanya sarat akan keheranan melihatku yang tiba-tiba saja mematung dengan pandangan yang tajam.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemuruh di dalam dada, lalu melambaikan tangan dengan cekatan memanggil salah seorang pelayan kedai yang sedang melintas di dekat meja kami membawa nampan kosong. Pelayan muda berkaus oblong gelap itu segera berbalik dan menghampiri kami dengan sikap yang ramah.

"Ya, encik? Ada apa-apa yang boleh saya bantu? Ada yang kurang ke dengan sup ekor tu?" tanya pelayan itu dengan logat Melayu setempat yang sopan.

Aku memajukan posisi dudukku, menumpukan kedua lengan di atas meja kayu pinus yang bersahaja. "Maaf, Mas. Saya mau tanya, kalau boleh tahu... siapa juru masak atau koki yang meracik sup ekor ini di dapur?" suaraku terdengar agak serak, menahan debar jantung yang tak biasanya.

Pelayan itu tersenyum tipis, tampak bangga dengan pujian terselubung yang tersirat dari pertanyaanku. "Oh, sup ekor tu memang menjadi kegemaran ramai kat sini, encik. Juru masak yang sediakan hidangan tu seorang pemuda, namanya Alif."

Alif.

Mendengar nama lelaki yang teramat asing dan berbeda itu meluncur dari bibir si pelayan, harapanku yang sempat membukit tinggi laksana menara kembar Petronas langsung pupus dan runtuh berkeping-keping dalam sekejap mata. Dadaku mendadak terasa hampa dan dingin seketika. Sebuah hantaman kekecewaan yang teramat telak melumpuhkan seluruh semangatku. Aku mengangguk pelan dengan senyum tipis yang dipaksakan demi menjaga adab sopan santun.

"Oh, begitu ya. Rasanya enak sekali, Mas. Terima kasih banyak," ujarku lirih sembari mempersilakan pelayan itu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi plastik dengan lemas, menatap sisa kuah sup di dalam mangkuk dengan pandangan yang mendadak kosong. Betapa bodohnya aku, batinku meratapi kecerobohan yang baru saja kulakukan. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir bahwa Irfan—yang telah dinyatakan hilang tergulung ombak raksasa setinggi tiga puluh meter empat tahun lalu di Pantai Ulee Lheue—tiba-tiba saja berada di sini, menjadi koki di sebuah kedai makan di jantung Kuala Lumpur? Nama Alif adalah sebuah tamparan telak yang membangunkanku dari fatamorgana yang selama ini kurawat di dalam relungku. Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menerima kenyataan pahit bahwa rasa hangat yang kurasakan tadi hanyalah sebuah sensasi kebetulan yang mempermainkan kerinduanku yang terlampau dalam.

Lihat selengkapnya