"Irfan...?" desisku lirih, mencoba menyapa kembali lelaki yang berdiri tegap namun kaku di hadapanku.
Suasana di sekitar meja makan kedai Kampung Baru itu seolah membeku seketika. Lelaki itu sempat menatapku sebentar, memindai wajahku dengan sepasang mata bulat teduhnya yang hampa dan berjarak. Ada jeda beberapa detik yang menyiksa sebelum akhirnya sebaris kalimat meluncur pelan dari bibirnya yang kering.
"Maaf, Mas... sepertinya salah orang," balas pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan adik angkatku itu.
Jderrr..! Jantungku serasa dihantam keras untuk kesekian kalinya siang ini. Mendengar suara itu... dadaku mendadak bergemuruh hebat. Suaranya itu, Tuhan... gemersik seperti kenangan lama yang sengaja terusik dari tidur panjangnya. Suara pelayan kedai tersebut memiliki warna, intonasi, bahkan aksen Sunda-Bogor yang persis sama dengan aksen yang selalu kudengar dari lirik lagu atau rekaman audio amatir milik Irfan dahulu. Perbedaannya hanya satu; suaranya yang sekarang terdengar sedikit lebih lemah dan sayup jika dibandingkan dengan suara lantang Irfan yang kukenal di masa lalu.
"Oh... i-iya..." jawabku terbata-batah, nyaris tak mampu mengendalikan pergerakan tubuhku sendiri.
Tangan kananku yang sudah bergerak mendekat sejak tadi, refleks maju selangkah dan langsung menyentuh bahunya yang berbalut kaus abu-abu. Tepat pada detik ketika telapak tanganku bersentuhan dengan permukaan kulit bahunya, sebuah getaran ganjil yang aneh mendadak menyengat sistem sarafku. Getaran itu laksana anak kunci yang membuka paksa ruang memori terdalam di dalam kepalaku. Jiwaku berontak penuh keyakinan; ada getaran emosional yang persis sama, jenis getaran seorang pelindung yang selalu hadir setiap kali ragaku berada dekat atau bersentuhan fisik dengan Irfan dahulu. Ikatan persahabatan murni antarlelaki yang telah kami ikrarkan dunia akhirat tidak bisa berbohong melalui sentuhan fisik ini.
Namun, pemuda itu tampaknya merasa kurang nyaman dengan tindakan emosional yang kutunjukkan. Dia menarik tubuhnya mundur secara halus, memutuskan kontak fisik di antara kami, lalu bergegas meninggalkan posisinya. Dengan gerakan yang terampil namun kaku, dia membawa tumpukan mangkuk dan piring kotor di tangannya menuju ke bagian belakang ruko, masuk menembus pintu dapur yang pengap.
Aku masih terpaku membisu di tepi meja, menatap punggungnya yang menjauh hingga lenyap di balik tirai kain dapur. Napas dan logikaku seolah tertinggal di lorong waktu yang sempit.
"Jom, Joel... dah maso kene balek ni. Kejap lagi kito kono sambong kojo balek, mat," bisik Zuhairi dengan slang Melayu Johornya yang tebal, menepuk pundakku untuk menyadarkanku dari lamunan panjang.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba memunguti sisa-sisa ketegaran yang tersisa di dalam dada. Dengan langkah yang terasa berat laksana memanggul tas ransel enam puluh liter, aku berjalan pergi melangkah keluar kedai bersama Zuhairi, membelah terik siang Kampung Baru menuju mobil.