Lelaki berbalut pakaian kantoran yang rapi itu memanggilku Irfan. Panggilan itu meluncur dari bibirnya dengan nada suara yang bergetar hebat, sarat akan beban kerinduan yang teramat sangat. Tangannya yang sedikit gemetar refleks maju selangkah, lalu menyentuh permukaan kulit bahuku yang hanya dilapisi kaus abu-abu kusam ini. Aku tertegun di tempatku berdiri, menatap langsung ke arah sepasang matanya yang mendadak berkaca-kaca.
Tepat pada detik ketika telapak tanganku yang membawa tumpukan mangkuk kotor tertahan di udara, seketika itu juga ada getaran aneh yang mendadak menyengat sekujur sistem sarafku. Getaran ganjil itu merayap cepat dari bahu, menjalar lurus menuju ulu hati, dan membuat rongga dadaku mendadak bergemuruh hebat laksana dihantam gelombang tak kasat mata. Ada rasa akrab yang tipis, namun teramat pekat, sebuah sensasi melindungi yang membuat jiwaku berontak kebingungan. Terlebih lagi saat aku memandangi wajah lelaki asing di hadapanku ini. Pendaran cahaya matahari siang yang menembus sela-sela ventilasi kedai Kampung Baru memantulkan fitur wajahnya dengan teramat jelas. Garis rahangnya, bentuk hidungnya yang tegas, bahkan sorot mata bulat teduhnya... wajahnya itu membuatku merasa seperti sedang bercermin memandangi bayanganku sendiri di kaca yang bersih. Kemiripan kami begitu mutlak, cenderung tampak seperti dua orang saudara kembar yang sengaja dipermainkan oleh takdir.
Namun, di tengah badai emosi yang berkecamuk di antara kami, duniaku tetap terkunci di dalam ruang tunggu yang sunyi dan gelap. Aku menggelengkan kepala dengan terbata-bata, menarik langkah mundur secara halus demi memutuskan kontak fisik yang membuat dadaku sesak itu.
"Maaf, Mas... sepertinya salah orang," balasku dengan suara yang pelan dan berjarak.
Aku terpaksa berbohong dengan menolak pengenalan itu, bukan karena aku membencinya, melainkan karena aku sudah terlampau lama menderita hilang ingatan yang akut. Sebuah kegelapan mental yang menjerat seluruh kesadaranku akibat sebuah benturan benda keras yang teramat hebat di kepalaku tepat empat tahun yang lalu. Menurut penjelasan medis dan para ahli saraf yang pernah kudengar lamat-lamat dahulu, ada berbagai jenis gangguan memori di dunia ini. Salah satunya adalah retrograde amnesia, sebuah kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk mengingat kembali informasi atau peristiwa masa lalu yang terjadi sebelum cedera otak melanda. Dan aku, lelaki yang kini berdiri membisu di balik celemek kain kedai makan ini, adalah seorang pengidap akut dari salah satu jenis amnesia tersebut.
Dinding amnesia itu mengunci rapat-rapat lembaran sejarah hidupku sebelum angka tahun empat tahun lalu. Aku melupakan nama asliku, aku melupakan dari mana asal-usul daerahku, dan aku melupakan siapa saja orang-orang yang pernah melingkari garis hidupku di masa lalu. Namun, ada satu keganjilan medis yang membuat para ahli takjub atas sistem pertahanan otak manusia. Meskipun seluruh memori prosedural dan deklaratif tentang identitas diriku telah terkikis habis, bakat-bakat alami yang sudah mendarah daging di dalam sistem motorik tubuhku tetap menetap utuh tanpa kurang sedikit pun. Otak bawah sadarku masih menyimpan memori kinestetik yang luar biasa.
Tanpa perlu diajari kembali, jemariku tetap memiliki intuisi yang teramat tajam saat bersentuhan dengan pisau dapur, bumbu-bumbu tradisional, dan periuk besar. Aku tetap memiliki bakat luar biasa pandai memasak, seolah-olah sidik jari rasa di telapak tanganku telah menghafal luar kepala takaran rempah-rempah yang mahasempurna untuk semangkuk sup ekor yang gurih. Bukan hanya itu, setiap kali mataku menatap sebuah alat musik gitar yang tergeletak di sudut ruangan, jemariku secara refleks akan bergerak lincah memetik senar-senarnya, mengalunkan nada-nada indah yang menguar memenuhi kesunyian malam. Bakat seni dan memasak itu melekat erat laksana tato gaib di dalam jiwaku, menjadi sisa-sisa petunjuk dari misteri masa lalu yang menolak untuk mati.