Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #34

Memori yang Menyakitkan

Pendaran lampu neon di dalam kedai makan Kampung Baru siang ini terasa begitu menyengat indra penglihatanku, berbaur dengan kepulan uap panas yang menguar dari barisan periuk besar di balik sekat kaca dapur. Suasana jam makan siang masih berada pada kesibukan tertingginya. Riuh rendah dentang sendok yang beradu dengan mangkuk, deru kipas angin gantung yang berputar maksimal, serta hiruk-pikuk suara pramusaji yang saling bersahutan mengantarkan nampan, menciptakan suasana yang memenuhi setiap jengkal ruangan berukuran sederhana ini. Namun, di tengah kerumunan manusia yang sedang melepas penat itu, fokus mataku mendadak terkunci pada satu titik yang mulai familier di sudut ruangan.

Lelaki itu datang lagi, sendirian.

Tanpa ditemani oleh kawan berkacamata minus yang kemarin bersamanya, ia melangkah masuk melewati pintu kedai dengan tegap. Tubuhnya yang kokoh berbalut pakaian kantoran yang rapi—kemeja formal yang disetrika licin serta tanda pengenal bermagnet yang tergantung di saku dadanya, menandakan eksistensinya sebagai seorang pekerja profesional di gedung bertingkat Kuala Lumpur. Langkah kakinya langsung diarahkan menuju meja nomor tiga, tempat yang sama di mana rentetan peristiwa emosional kemarin siang telah mengacak-acak seluruh pikiranku. Aku memperhatikan pergerakannya dari balik sekat dapur dengan napas yang tertahan, membiarkan jemariku yang sedang memegang kain lap bersih mendadak kaku seketika.

Pria itu sengaja berusaha mencari perhatianku. Begitu mendudukkan diri di kursi plastik seorang diri, ia langsung mengangkat tangan kanannya dengan cekatan, memberi isyarat kepada seorang pelayan yang sedang melintas untuk mendekat. Melalui celah tirai kain dapur yang sedikit terbuka, aku bisa melihat pramusaji itu mengangguk hormat setelah mendengarkan pesanan dari sang pelanggan itu, lalu berbalik arah melangkah lebar menujuku.

"Alif, encik dekat meja nomor tiga tu datang sorang hari ni. Dia minta kau sendiri yang hantar sup ekor dia," bisik pelayan itu padaku, nadanya sarat akan keheranan.

Aku mengembuskan napas panjang yang terasa berat, mencoba menguatkan sisa-sisa ketegaran yang kupunya. Dengan nampan aluminium yang menopang semangkuk sup buntut yang masih mengepulkan aroma tajam bumbu rempah tradisional, aku melangkah keluar dari area dapur. Langkah kakiku terasa berat dan penuh debaran ganjil yang menuntut jawaban.

Begitu aku tiba di tepi meja dan meletakkan mangkuk itu secara perlahan, lelaki di hadapanku mendongak. Ia menatapku langsung dengan sepasang mata bulat teduhnya.

"Nama saya Joel. Joel Fahmy," ujarnya memperkenalkan diri dengan nada suara yang berat, mantap, namun menyimpan getaran emosional yang teramat sangat.

Saat aku berdiri tegak di depannya, lagi-lagi aku merasakan getaran aneh yang mendadak menyengat sekujur sistem saraf di dalam dadaku. Sebuah gelombang kehangatan dan kedekatan yang teramat luar biasa mengalir cepat ke seluruh pembuluh darahku, menghadirkan sebuah rasa protektif yang murni, yang entah karena alasan apa dan dari mana asalnya, menolak untuk bisa dijelaskan oleh nalarku. Berada dekat dengannya seolah memaksaku berhadapan dengan sebuah cermin; garis rahangnya, bentuk hidungnya, bahkan pembawaannya ibaran kembaran identik yang sengaja dipisahkan dari kehidupanku.

Aku melihat tangan lelaki itu sedikit bergetar hebat saat ia menyendok kaldu sup buntut hasil racikanku. "Sup buntut yang kamu buat ini... sangat sedap, Alif. Rasanya benar-benar juara dan tidak ada duanya di kota ini," ucapnya tulus sembari menatapku lekat-lekat.

Ia terdiam sejenak, lalu meletakkan sendok logamnya sebelum melayangkan sebuah pertanyaan yang menghujam langsung ke lubuk kesadaranku. "Kalau boleh tahu... di mana kamu belajar memasak masakan dengan cita rasa sespesifik ini?"

Aku menautkan kedua belah jemariku di depan apron kusam yang kukenakan, menggelengkan kepala terbata-bata karena kepungan rasa canggung yang mendadak menekan dada. "Saya tidak pernah belajar memasak secara formal pada siapa pun, Bang Joel. Keahlian dan bakat meracik bumbu ini sudah ada di dalam diri saya, entah sejak kapan... saya sendiri tak ingat sama sekali," jawabku jujur, meratapi sekat ingatan akut yang selama empat tahun ini telah mengunci rapat-rapat lembaran masa laluku.

Lihat selengkapnya