Malam hari sepulang bekerja, jarum jam di pergelangan tanganku telah bergeser melewati angka delapan. Dengan masih mengenakan seragam kerja lengkap—kemeja kantor yang mulai sedikit kusut setelah seharian bergelut dengan berkas nasabah Maybank serta tanda pengenal yang masih tergantung di saku dada—aku kembali melangkah menuju kawasan Kampung Baru. Kali ini, aku bergerak seorang diri tanpa ditemani Zuhairi. Langkah kakiku didorong oleh sepetak tekad yang mengental di dalam dada, sebuah dorongan batin yang menolak untuk menyerah pada sekat penghalang ingatan yang kemarin siang sempat memutus harapanku di tepi meja nomor tiga.
Dari kejauhan, aku memperhatikan kedai makan Aceh itu perlahan mulai menurunkan tirai penutupnya. Lampu-lampu neon di dalam ruangan telah dipadamkan, menyisakan pendaran temaram dari lampu jalanan yang menyinari ruko kayu klasik tersebut. Inilah kesempatan terbaikku. Di luar jam sibuk operasional kedai, aku berharap bisa menemui sosok pemuda bernama Alif itu tanpa harus mengganggu tanggung jawab pekerjaannya atau memicu kepanikan dari para pramusaji lain yang kemarin sempat berbohong kepadaku.
Aku berdiri bersandar pada sebatang tiang lampu di seberang jalan, melipat kedua belah tanganku di dada sembari membiarkan semilir angin malam Negeri Jiran yang lembap mengelus permukaan kulitku. Penantianku sejak tadi di bawah kepungan sunyi akhirnya membuahkan hasil yang nyata. Dari balik pintu kayu samping ruko, muncul sesosok pemuda dengan tubuh berbalut kaus abu-abu kusam yang sangat kukenali di indra penglihatanku. Ia berjalan sendirian keluar dari area kedai, melangkah lambat dengan pundak yang sedikit membungkuk lelah, menuju ke arah jalan raya utama.
Melihat bayangan tegap namun ramping itu, jantungku melemparkan denyut ganjil yang aneh. Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku segera bergerak cepat memotong jalan, berusaha mengejar ketertinggalan langkahnya sebelum ia hilang di belantara keramaian malam kota.
"Mas Alif...!" panggilku lantang saat jarak di antara kami sudah semakin dekat.
Lelaki berkaus abu-abu itu tersentak kecil, menghentikan derap langkah kakinya di atas trotoar basah. Ia membalikkan poros tubuhnya secara perlahan. Wajahnya yang sangat serupa denganku itu terlihat terkejut luar biasa saat mendapati sosok pria kantoran yang siang tadi mencarinya di dapur kini kembali berdiri tegak tepat di hadapannya.
"Masih ingat dengan aku, kan?" tegasku sembari menatap lekat-lekat sepasang mata bulat teduhnya yang kemarin tampak begitu kosong dan berjarak.
Ada jeda beberapa detik yang menyiksa sebelum akhirnya ia mengangguk pelan secara terbata-bata, memberikan persetujuan bahwa keberadaanku telah meninggalkan bekas di dalam benaknya. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mencairkan suasana canggung khas antar lelaki yang baru saja dipertemukan oleh takdir yang rumit.
"Kamu mau ke mana malam-malam begini, Lif?" tanyaku dengan nada suara yang sengaja diperlembut.
"Mau pulang, Bang Joel... baru saja balik kerja," jawabnya dengan aksen gemersik bahasa ibu yang sayup, warna suara yang persis sama dengan slang Irfan dahulu, membuat dadaku kembali bergemuruh oleh letupan rindu yang sudah lama tersumbat.