Dering gawai usang di dalam saku celana katun hitam Alif terus melengking nyaring, memutus untaian kalimat yang baru saja hendak meluncur dari bibirnya. Pemuda di hadapanku tersentak, buru-buru meraba sakunya dan mengeluarkan perangkat seluler berlayar monokrom itu dengan gerakan yang agak kikuk. Ia menatap layarnya sejenak sebelum menekan tombol hijau dan mendekatkan benda itu ke telinganya.
Rupanya, ayahnya yang menelepon untuk mencari keberadaannya. Di bawah pendaran lampu kedai mamak yang benderang, aku sengaja menajamkan pendengaranku di tengah riuh rendah kepulan asap roti canai. Alif tampak berbicara dengan nada suara yang sangat pelan dan penuh santun, seolah tidak ingin obrolan pribadinya mengusik ketenangan meja kami. Ia beralih alasan kepada sang ayah, mengatakan bahwa dirinya sedang keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan barang di kedai dekat area Chow Kit.
Namun, dari sela-sela speaker gawai yang sedikit cempreng itu, samar-samar aku bisa mendengar suara bariton seorang pria paruh baya di seberang sana yang terdengar sangat cemas. Pria yang dipanggilnya ayah itu dengan nada mendesak memintanya untuk segera pulang ke rumah, lantaran ia teringat bahwa Alif tadi sempat mengalami penurunan kondisi kesehatan yang cukup parah saat berada di kedai makan siang tadi.
Mendengar informasi itu, aku tertegun di tempat dudukku. Seluruh jiwa pelindungku langsung terusik. Rasa cemas seketika merayap memenuhi rongga dadaku, meruntuhkan rasa canggung yang sempat mewarnai di antara kami berdua.
"Kamu sedang sakit, Lif?" tegasku cepat, menatap lurus ke arah sepasang mata bulat teduhnya begitu ia menurunkan gawainya dari telinga.
Alif menatapku dengan pandangan yang sedikit terkejut melihat reaksi cemasku yang terlampau panik untuk ukuran orang yang baru dikenalnya. Ia terdiam sejenak, menghela napas panjang yang sarat akan beban, lalu perlahan mulai membuka diri. Alif menceritakan bahwa selama beberapa tahun terakhir ini, ia memang sering kali didera oleh penyakit yang aneh. Kepalanya sering mendadak diserang rasa pening yang luar biasa hebat, yang kemudian disusul oleh rasa mual hingga tiba-tiba muntah dan tak sadarkan diri, pingsan selama beberapa menit. Ia juga mengakui dengan nada pasrah bahwa kejadian tragis ambruk pingsan itu baru saja menimpanya kembali di area dapur kedai siang tadi, tepat setelah aku pergi meninggalkannya.
Mendengar penuturan jujurnya, aku terhenyak di atas kursi logam yang dingin. Ada rasa perih yang menyengat ulu hatiku membayangkan betapa beratnya penderitaan fisik yang harus dipikul oleh pemuda yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan adikku ini. Namun, di sisi lain lubuk hati kecilku, ada rasa senang dan lega yang mendadak menyeruak. Aku merasa bahagia karena sikanpnya yang semula kaku perlahan mulai runtuh; ia sudah mulai menaruh rasa percaya dan terbuka padaku, berbagi rahasia kelemahan dirinya ibarat seorang adik yang sedang mengadu keluh kesah pada abangnya.
"Bang Joel tidak perlu risau. Saya sudah terbiasa dengan keadaan diri yang seperti ini sejak bertahun-tahun lalu," ujar Alif pelan, mencoba menyunggingkan senyum tipis yang tulus untuk menenteramkan kecemasanku.
Aku mengangguk, mencoba mengendalikan kembali debar jantungku. Setelah pelayan kedai mamak menyodorkan dua gelas jus mangga dingin dan roti canai yang masih mengepulkan uap panas ke atas meja, aku kembali memajukan posisi dudukku. Tekadku sudah bulat untuk menjemput kembali benang takdir kami yang sempat kusut. Mengikuti kata hati, aku pun mengulangi pertanyaanku yang sempat terputus oleh dering gawai tadi.
"Jadi, bagaimana, Lif? Kamu sebenarnya asli orang mana? Apakah kamu dulu berasal dari tanah Aceh?" tanyanya memulai obrolan dengan penekanan yang sarat akan harapan nyata dari takdir.