Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #37

Ingatan yang Mengusik di Kedai Kopi

Aroma esens kopi yang tajam dan pendaran lampu gantung bercahaya kekuningan yang temaram malam ini menjadi latar dari rasa asing yang kian mengental di dalam dadaku. Sejak malam di kedai mamak Chow Kit itu—malam ketika lelaki bernama Joel Fahmy itu pertama kali mengajakku keluar menggunakan mobilnya—ritme hidupku yang biasanya monoton di balik pengapnya dapur Kampung Baru mendadak berubah haluan. Lelaki itu, dengan segala ketegasan dan sorot mata bulat teduhnya yang selalu sarat akan misteri, telah menjelma menjadi bayang-bayang yang teramat rajin bertamu dalam keseharianku.

Setiap hari, tanpa absen sekalipun, ia selalu datang pada jam makan siang. Ia duduk diam di sudut kedai, memesan sup ekor buatanku, dan menungguku dengan penuh kesabaran. Tak hanya itu, ketika malam hari tiba dan pintu-pintu ruko kayu mulai ditutup rapat, sosok tegap berbalut kemeja kantor yang rapi itu sudah berdiri bersandar di bawah lampu jalanan, menungguku melepaskan celemek kainku demi mengajakku lepak di berbagai sudut kota Kuala Lumpur. Kami telah menyusuri gemerlap Menara Kembar Petronas, membelah keramaian pedestrian Bukit Bintang, hingga menyesap teh tarik di pinggiran Dataran Merdeka. Namun, di tengah intensitas kebersamaan yang terjalin erat di antara dua orang lelaki yang beru bertemu ini, duniaku tetap mengambang di atas telaga kegelapan yang sunyi. Aku belum merasakan sedikit pun bahwa aku pernah mengenalinya di suatu masa lalu. Struktur ingatanku masih terkunci rapat oleh dinding amnesia yang kokoh, menolak untuk memberikan satu celah kecil pun bagi wajahnya untuk masuk sebagai bagian dari sejarah hidupku sebelum terdampar di lautan lepas.

Lelaki bernama Joel itu pun tampaknya sangat menghargai sekat pembatas yang mengurung mentalitasku. Ia seolah sama sekali tidak ingin memaksaku mengingat apa-apa tentang masa lalu, menyembunyikan segala rasa penasarannya di balik gurauan ringan atau diskusi santai khas kawan dekat. Sikapnya yang penuh kehati-hatian itu kemungkinan besar lahir karena aku sudah menceritakan perihal penyakit hilang ingatan jenisku yang teramat sensitif. Aku sudah berterus terang kepadanya bahwa cacat ingatan berjenis retrograde amnesia akibat benturan keras pascabencana ini memiliki aturan medis yang sangat ketat. Otakku tidak boleh dirangsang secara ekstrem untuk memanggil kembali memori yang telah terkikis. Jika aku nekat memaksa isi kepalaku bekerja melampaui batasan sistem sarafnya, akibatnya akan sangat fatal untuk keselamatan nyamuku sendiri. Saraf di kepalaku akan menegang kaku, memicu rasa pening dahsyat yang sanggup membuatku muntah darah hingga ambruk tak sadarkan diri dalam hitungan menit. Joel tahu risiko mengerikan itu, dan sebagai seorang kawan yang memosisikan diri sebagai pelindung, dia memilih untuk melangkah secara perlahan dalam kesabaran.

Seperti malam ini, gerak langkah kami kembali bersinggungan setelah lonceng penutupan kedai makan selesai berdentang. Setelah pulang bekerja, Joel sudah menungguku dengan kendaraannya, menjemputku untuk mengajakku pergi menuju kawasan segitiga emas Bukit Bintang. Sepanjang jalan membelah kemacetan malam Negeri Jiran yang lembap, ia beralasan minta diantar ke sebuah pusat perbelanjaan megah untuk membeli beberapa potong pakaian baru untuk keperluan kerjanya di perbankan Maybank. Aku yang duduk di samping kemudi hanya mengangguk setuju, memandangi gemerlap lampu kota tanpa menaruh prasangka apa pun. Namun, begitu kami melangkah masuk ke dalam gerai pakaian yang dipenuhi barisan maneken dan aroma wewangian mewah, skenario taktisnya baru tersingkap. Nyatanya, bukan dirinya yang berbelanja, melainkan aku juga dibelikan pakaian baru olehnya. Joel memilihkan sebuah kemeja katun berkualitas tinggi berwarna gelap yang pas dengan postur tubuhku.

Aku awalnya menolak dengan keras, merasa sungkan yang luar biasa atas kemurahan hatinya yang terlampau berlebihan untuk ukuran seorang pelayan kedai sepertiku. "Jangan, Bang Joel. Ini terlalu mahal untukku. Pakaian lamaku masih sangat bagus untuk dipakai jalan," ujarku mencoba menahan tangannya yang hendak mengambil dompet kulit dari saku celana. Namun, apa daya, ia adalah seorang lelaki dengan karakter yang teramat dominan. Genggaman tangannya yang mantap pada pundakku menahan gerakanku, dan ia sudah keburu menyerahkan kartu bermagnetnya kepada pelayan kasir untuk membayarnya tanpa memedulikan penolakanku. Hatiku sempat terusik oleh rasa tidak enak yang dalam, namun ketulusan yang terpancar dari senyumannya membuatku terpaksa mengalah dalam kepasrahan persahabatan yang baru bermula ini.

Kemudian, dengan pakaian baru yang langsung aku kenakan atas desakannya, ia menuntun langkahku melintasi lantai pedestrian yang ramai menuju sebuah kedai kopi ternama. Begitu melangkah melewati pintu kaca gesernya, aroma esens biji kopi Arabika yang dipanggang sempurna langsung menyergap indra penciumanku, berpadu dengan alunan musik jazz bertempo lambat yang mengalun dari pengeras suara langit-langit. Tempat ini adalah Starbucks Coffee, sebuah jaringan kedai kopi global yang visualnya dipenuhi oleh interior kayu bergaya modern, sofa-sofa kulit yang empuk, serta deretan kaum urban yang sibuk menghadap laptop mereka. Bagiku yang terbiasa hidup dalam ritme bersahaja di antara asap rumbia warung kopi kaki lima atau lantai semen dapur Kampung Baru, tempat ini terasa teramat sangat mewah, bahkan cenderung mennyudutkan kesadaranku. Apalagi saat mataku melirik papan menu digital di atas meja barista; harga segelas kopinya begitu fantastis, mencapai angka 20 ringgit. Sebuah nominal yang bagiku terlampau mahal hanya untuk dinikmati dalam beberapa sesapan cairan hitam.

Lihat selengkapnya