Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #38

Kehangatan Kian Tercipta di Titi Wangsa

Pagi hari di kawasan Chow Kit selalu datang dengan tempo yang tergesa-gesa. Desau angin subuh yang membawa sisa aroma rempah dan sayuran segar dari pasar tradisional lamat-lamat menyusup melalui celah jendela kamar ruko tempatku bertumpu. Namun, fajar di hari libur kali ini tidak berjalan seperti biasanya. Sebelum kepulan uap air dari sumur kamar mandi sempat mengering dari pori-pori kulitku, sebuah deru mesin mobil yang halus sudah berhenti tepat di pelataran bawah.

Lelaki bernama Joel Fahmy itu rupanya memegang teguh setiap untaian kalimat yang ia ucapkan di kedai kopi Bukit Bintang semalam. Pagi-pagi sekali, saat matahari bahkan belum sepenuhnya berhasil menembus kepekatan kabut tipis Kuala Lumpur, ia sudah menjemputku ke rumah. Aku melangkah turun dengan kemeja katun gelap pemberiannya yang melekat pas di tubuh tegapku, berpadu dengan celana panjang dan sepatu baru yang semalam dipaksakannya untuk kubeli. Ada rasa sungkan yang masih mengental di ulu hatiku, namun sorot mata bulat teduhnya yang memancarkan binar ketenangan seorang lelaki pelindung seketika meruntuhkan sekat canggung di antara kami dua orang lelaki.

"Ayo, Lif. Kita cari angin segar sebelum jalanan kota dikepung kemacetan," ujarnya bersahaja sembari membukakan pintu mobil untukku.

Aku mendudukkan diri di kursi samping kemudi, membiarkan desah mekanis pintu yang tertutup mengunci kami dalam ruang yang sejuk. Joel memacu kendaraannya perlahan, membelah gang-gang remang Chow Kit yang mulai menggeliat. Sepanjang perjalanan, ia tidak banyak mengumbar kata-kata puitis yang mendayu-dayu. Persahabatan sejati sesama lelaki memang memiliki keunikan tersendiri; kami bisa saling memahami hanya lewat keheningan yang solid atau ketukan jemari pada setir mobil yang mengikuti ritme musik dasbor. Joel beralasan ingin mengajakku ke suatu tempat yang istimewa di sudut ibukota, sebuah tempat yang menurut penuturannya memiliki lanskap yang teramat mirip dengan sebuah wilayah yang pernah ia datangi bersama sahabat karibnya di masa lalu. Sebuah tempat yang kaya akan rimbun pepohonan tua dan memiliki telaga jernih di dalamnya.

Setelah menempuh waktu sekitar lima belas menit membelah jalanan yang mulai benderang, mobil perlahan membelok masuk ke sebuah area pelataran parkir yang luas. Begitu aku melangkah turun menapakkan kaki di atas tanah yang basah, seisi jiwaku mendadak bergetar oleh rasa takjub yang luar biasa. Lanskap di hadapanku sungguh menjelma menjadi sepetak mahakarya hijau yang megah di tengah kepungan belantara beton Kuala Lumpur.

Rupanya, Joel mengajakku ke Taman Tasik Titiwangsa, sebuah taman legendaris yang membentang luas menjadi paru-paru utama bagi kehidupan warga ibukota. Di tengah-tengah taman, terhampar sebuah telaga raksasa yang airnya tampak begitu tenang dan jernih, memantulkan siluet megah Menara Kembar Petronas dan Menara Kuala Lumpur di kejauhan yang berdiri angkuh menembus awan pagi. Di sekeliling danau, barisan pohon-pohon rindang dengan dahan yang menjalar kokoh meliuk gemulai ditiup angin lepas, menjatuhkan sisa-sisa embun pagi ke atas hamparan rumput hijau yang terawat bersih. Udara di sini terasa begitu bersih, dingin, dan menyegarkan rongga dada, mengusir seluruh penat yang saban hari menumpuk di balik pengapnya dapur Kampung Baru.

Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Saat aku masih terpaku mengagumi bentang alam yang molek itu, aku terkejut melihat Joel berjalan menuju bagian belakang mobil. Ia membuka pintu bagasi, lalu mengambil sebuah benda berukuran memanjang yang dibungkus di dalam sebuah softcase hitam yang masih tampak sangat baru dan bersih.

"Ini buat kamu, Lif. Anggap saja hadiah persahabatan dari abangmu ini," ujar Joel dengan suaranys yang berat dan maskulin, menyodorkan benda itu langsung ke hadapanku.

Genggaman tanganku bergetar halus saat menerima benda tersebut. Ketika aku membuka ritsleting pembungkusnya, sepasang mataku terbelalak lebar menghadapi sebuah kenyataan penampakan di depan mata. Itu adalah sebuah gitar akustik baru yang terbuat dari kayu pilihan berwarna cokelat gelap berkilauan, memancarkan aroma khas pernis kayu yang masih gres.

"Ban Joel... ini terlalu mewah untukku. Aku tidak bisa menerimanya," ujarku terbata-bata, mencoba menolak karena kepungan rasa tidak enak yang kembali menyerang batin.

Joel justru terkekeh pelan, lalu menepuk bahu kiriku dengan yang pelan, sebuah gestur untuk menegaskan sebuah keputusan yang tak bisa diganggu gugat. "Nggak ada penolakan, Alif. Pak Nas waktu di kedai pernah bilang padaku kalau kamu itu sangat pandai memetik gitar saat malam hari di rumah, tapi gitarmu sekarnag sudah terlalu tua untuk digunakan lagi. Kebetulan aku punya rezeki lebih dari boss di Maybank, jadi kupikir alat musik ini akan jauh lebih berguna jika berada di tangan seorang koki yang punya jiwa seni seperti kamu."

Lihat selengkapnya