Hari libur kali ini benar-benar menjadi sebuah pertaruhan batin yang teramat besar bagiku. Sebagai seorang lelaki yang pernah kehilangan separuh jiwanya akibat terjangan ombak tsunami empat tahun silam, aku tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun kesempatan yang diberikan oleh takdir. Seluruh waktu luang yang kupunya di penghujung pekan ini kukerahkan sepenuhnya untuk menghabiskan waktu bersama Alif—atau belahan jiwaku yang sesungguhnya, Irfan.
Langkah berani yang kuambil untuk mendekati Alif secara intensif ini tidak lepas dari restu dan ketulusan istriku, Ain. Wanita berdarah Malaysia itu sungguh memiliki hati seluas samudra. Ain sangat mendukung setiap rencana dan ikhtiar yang kulakukan untuk memancing kembali ingatan Alif yang masih mati suri. Ain paham betul betapa perihnya siksaan rindu yang kutahan selama bertahun-tahun ini. Dia ingin membantuku, berdiri di belakangku, menopang kekuatanku sampai suatu saat nanti pemuda malang itu menyadari dan mengingat dengan utuh bahwa diriku adalah kakak angkatnya di masa lalu. Tepatnya empat tahun lalu di bawah langit Bogor dan tanah Aceh, sebelum bencana mahadahsyat mengikis habis memori di dalam kepalanya. Bahkan, kotak bekal sarapan berisi nasi lemak dan lauk-pauk hangat yang kami santap dengan lahap di tepian Tasik Titiwangsa pagi tadi adalah buah dari kebaikan tangan Ain yang menyiapkannya sejak subuh buta.
Setelah melalui awal hari yang penuh dengan luapan emosi di Taman Tasik Titiwangsa—momen ketika petikan gitar dan desau angin telaga sempat meretakkan dinding amnesianya—aku memutuskan untuk membawanya bergerak lebih jauh. Aku ingin membawanya keluar dari kungkungan hawa lembap kota Kuala Lumpur. Aku mengajak Irfan pergi menjauh sedikit menuju Genting Highlands, sebuah kawasan puncak pegunungan megah yang teramat terkenal dengan hawa sejuk dan kabut tebalnya yang menembus tulang.
Bagi orang-orang yang menetap di Kuala Lumpur, Genting Highlands yang terletak di perbatasan antara wilayah Selangor dan Pahang adalah sebuah pelarian alam yang sempurna. Jaraknya hanya sekitar lima puluh kilometer di timur laut ibu kota, namun bentang alamnya berubah drastis dari hutan beton menjadi hamparan perbukitan hijau purba yang berselimut udara dingin ekstrem.
Untuk perjalanan kali ini, aku dan Alif memilih untuk menanggalkan kemewahan mobil pribadiku. Aku ingin kami menikmati petualangan bersahaja layaknya sepasang sahabat lama yang sedang menjelajah benua baru dengan transportasi umum. Kami memulai rute petualangan pagi itu dengan menaiki monorail dari stasiun terdekat, membiarkan tubuh kereta listrik meliuk cepat di atas jalur layang kota, menampilkan pemandangan ruko-ruko tua dan kesibukan warga urban di bawah sana. Setelah itu, kami berpindah menaiki bus penghubung khusus menuju stasiun kereta kabel di kaki gunung, pintu gerbang utama menuju puncak Genting Highlands.
Dari stasiun kereta kabel bernama Awana SkyWay, petualangan yang sesungguhnya dimulai. Kami menaiki sebuah alat angkut khusus ke Genting Highlands berupa kereta gantung atau gondola yang melayang tinggi menembus awan. Keberuntungan tampaknya berpihak pada kami; kabin gondola yang kami tumpangi sore itu tidak diisi oleh turis lain. Kami hanya berdua saja di dalam kotak kaca yang bergerak merayap naik membelah tebing-tebing curam dan pucuk-pucuk pohon hutan hujan tropis yang menghampar hijau di bawah kaki kami.