Manggala

NRP
Chapter #1

Berita Pagi Bhantara

Alarm berbunyi pukul enam pagi.

Firla tidak langsung bangun.

Ia berbaring sebentar, menatap langit-langit kamar yang warnanya sudah tidak bisa disebut putih lagi. Ada noda kecoklatan di sudut kanan, bekas rembesan hujan musim lalu. Ibunya sudah tiga kali bilang akan diperbaiki. Noda itu masih di sana.

Alarm berbunyi lagi.

Ia mematikannya.

Kamarnya tidak besar. Kasur, meja kerja, lemari tua dengan satu pintu yang tidak bisa dikunci. Lantainya dingin kalau pagi. Di meja ada laptop, dua gelas air kosong, sebuah charger yang kabelnya mulai terkelupas, dan tumpukan kertas print-out yang sudah tidak jelas lagi urutannya.

Di atas tumpukan kertas itu ada satu pulpen dan sebuah sticky note bertuliskan: deadline artikel buruh — kamis.

Hari ini Rabu.

Firla menatap sticky note itu sejenak, lalu bangkit dari kasur.

Kamar mandi ada di ujung koridor kecil. Ia melewati pintu kamar ibunya yang masih tertutup. Dari sela bawah pintu, tidak ada cahaya. Ibunya belum bangun, atau sudah bangun dan sedang berdiam diri di dalam. Firla tidak tahu mana yang benar, dan ia tidak mengetuk untuk bertanya.

Air di kamar mandi agak keruh kalau pagi pertama. Keran harus dibuka dulu, ditunggu, sampai warnanya jernih.

Ia menunggu sambil menatap ubin dinding yang satu bagiannya sudah retak dari dulu.

Saat Firla keluar dari kamar mandi, suara televisi sudah menyala dari ruang tengah.

Ibunya ternyata sudah bangun lebih dulu.

Ruang tengahnya kecil. Sofa lama, meja kayu pendek, lemari plastik di sudut yang isinya campuran — dokumen, obat-obatan, plastik kresek, dan beberapa foto yang sudah mulai pudar warnanya. Jendela menghadap ke arah gang sempit. Kalau pagi, sinar matahari tidak banyak masuk.

Ibunya duduk di sofa dengan cangkir teh di tangan, menatap layar televisi.

Di layar, seorang presenter perempuan berbicara dengan senyum yang tidak pernah berubah intensitasnya. Rambutnya tersisir sempurna. Bajunya berwarna biru muda.

"— dan setelah break, kita akan bahas lebih lanjut soal kehidupan rumah tangga Rangga Singgih dan Aurel Natasya yang katanya sedang di ujung tanduk! Stay tuned, ya—"

Musik transisi berbunyi. Iklan masuk.

Iklan sabun. Iklan mie instan. Iklan pinjaman online dengan bunga yang tidak disebutkan di bagian yang besar. Iklan suplemen kesehatan dengan dokter yang tidak jelas kliniknya di mana.

Firla duduk di kursi plastik dekat pintu dapur.

"Mau teh?" kata ibunya tanpa menoleh dari layar.

"Nggak," kata Firla.

Hening sebentar.

"Makan dulu," kata ibunya.

"Nanti."

"Kamu bilang nanti dari kemarin."

Firla tidak menjawab. Ia menatap layar yang sekarang menampilkan iklan aplikasi ojek online — seorang pengemudi motor tersenyum lebar, seolah hidupnya sangat baik.

Iklan selesai. Acara kembali.

Presenter yang sama. Senyum yang sama. Sekarang ada dua narasumber di studio — seorang perempuan yang mengaku sahabat dekat Aurel Natasya sejak SMA, dan seorang laki-laki yang keterangannya di layar hanya bertuliskan: Pengamat Selebriti.

"Jadi menurut kamu, apa yang sebenarnya terjadi di rumah tangga mereka?" tanya presenter.

"Nah, ini yang saya dengar dari sumber terpercaya—"

Firla mengalihkan pandangan ke meja kayu. Ada koran kemarin yang sudah agak lecek. Ia menariknya, membukanya.

Halaman depan: foto gubernur baru sedang meresmikan jembatan di daerah yang namanya belum pernah ia dengar. Judul besarnya tentang jembatan itu. Di bawah, dalam font yang jauh lebih kecil, ada berita penggusuran warga di sebuah kawasan dekat proyek rel kereta. Tidak ada foto penggusurannya. Hanya teks pendek, empat paragraf, kemudian dilanjutkan dengan berita lain tentang artis yang sama yang sedang dibahas di televisi.

Di bagian bawah layar televisi, ada running text yang terus bergerak dari kanan ke kiri.

Firla membacanya.

Harga beras naik lagi. Aksi mahasiswa di Ardhyakarta dibubarkan aparat. Dua aktivis lingkungan dilaporkan hilang di Vardhana. Pemerintah bantah ada krisis di sektor energi. Mahkamah Konstitusi tolak gugatan soal batas usia pejabat. Banjir di NaramBeya, empat desa terisolir.

Teks itu terus bergerak, tidak berhenti, tidak ada yang mengomentarinya di studio.

Di atas running text itu, presenter masih membahas rumah tangga orang yang tidak Firla kenal.

"Ih, kasihan banget ya," kata ibunya dengan nada yang tulus.

"Siapa?"

"Aurel. Katanya anaknya juga ikut kena dampaknya."

Firla menaruh koran kembali ke meja. Ia berdiri.

"Firla mau ke mana?"

"Dapur. Ambil air."

Di dapur, Firla mengisi gelas dari galon yang sudah hampir habis. Sisa air di bawahnya bergerak pelan. Besok atau lusa harus beli galon baru.

Ia berdiri sebentar di dekat jendela dapur yang menghadap ke tembok tetangga. Di celah sempit itu, ada satu tanaman kecil dalam pot — entah apa namanya, ibunya yang menanamnya — yang masih hidup meski jarang kena sinar matahari langsung.

Firla menatap tanaman itu sejenak.

Lalu ia kembali ke ruang tengah.

Program berganti.

Kali ini bukan gosip artis. Ini siaran langsung dari sebuah studio besar yang lebih terang. Ada kursi-kursi tersusun rapi, dan di bagian depan berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan baju koko putih bersih, sorban hijau gelap, dan kumis tebal yang rapi.

Di bawah namanya, keterangan bertuliskan: Ustadz H. Syukri Mubarok — Tokoh Penyejuk Bangsa.

Penonton di studio tepuk tangan.

Firla berdiri di ambang pintu dapur, gelas air di tangan.

"Saudara-saudariku," kata laki-laki itu dengan suara yang berat dan teratur, seperti orang yang sudah lama terbiasa didengarkan, "kemarin malam, saya mendapat tanda. Bukan mimpi. Tanda. Saya sedang wudhu, dan tiba-tiba—" ia berhenti sebentar untuk efek dramatik, "—keran air itu berbunyi tiga kali dengan sendirinya. Tiga kali. Saya hitung. Dan saya langsung tahu: ini isyarat bahwa kita harus lebih banyak bersedekah di bulan ini."

Penonton di studio mengangguk-angguk.

Ada perempuan di baris kedua yang menangis pelan.

Presenter perempuan yang mendampinginya di kursi sebelah bertanya dengan ekspresi takjub: "Subhanallah, ustadz. Jadi maksudnya, Allah berbicara lewat keran?"

Lihat selengkapnya