Manggala

NRP
Chapter #2

Negara Yang Sibuk Menghibur

Warung Kopi Sriwedari buka dari pagi sampai pagi.

Begitu yang tertulis di papan kecil di atas pintunya, dengan cat yang sudah mengelupas di huruf pertama. Tidak ada yang tahu jam berapa tepatnya "pagi" pertama berakhir dan "pagi" kedua dimulai. Yang jelas, setiap kali Firla datang — pagi, siang, malam, tengah malam — selalu ada orang di dalam.

Papan itu sudah ada sebelum kebanyakan pelanggannya lahir.

Firla datang pukul sepuluh lewat.

Ia memarkirkan motornya di samping tembok yang muralsnya sudah sebagian pudar. Dulu ada gambar orang muda mengangkat tangan — atau mungkin bukan tangan, mungkin kepalan, sulit dibedakan sekarang. Yang tersisa hanya sepasang sepatu dan bagian bawah celananya.

Tangan, kepalan, atau apapun itu sudah hilang.

Ia masuk dan memesan kopi hitam yang murah.

Ia duduk di meja pojok. Kursinya punya satu kaki yang lebih pendek dari tiga kaki lainnya, jadi kalau ditinggal bergoyang sedikit.

Di meja dekat jendela, ada empat mahasiswa — tiga laki-laki, satu perempuan. Laptop salah satunya terbuka tapi tidak dipakai. Layarnya masih di halaman login kampus yang sudah lama tidak di-refresh. Yang lain pegang ponsel masing-masing.

Firla membuka laptopnya.

Draft artikel buruh masih di halaman yang sama.

"— gilak sih kalau dia jadi antagonis lagi di season baru—"

"Eh tapi kemarin gue baca spoiler—"

"Jangan spoiler! Gue belum nonton episode 347!"

"Oh sorry, sorry."

Bunyi sendok kopi. Salah satu dari mereka meletakkan gelasnya terlalu keras, tidak sengaja.

"Kalau dari gue sih, yang paling bikin kesel itu karakternya Dinda. Udah tau dibohongin, masih aja balik."

"Itu realistis. Orang beneran kayak gitu."

"Iya sih. Tapi tetep aja bikin frustrasi."

Di sudut warung, ada televisi kecil yang menempel di dinding dengan penyangga besi yang miring sedikit. Layarnya agak berdebu di bagian tepinya. Volumenya kecil, tenggelam di bawah suara warung.

Di layar, ada program berita. Reporter berdiri di depan sebuah gedung. Firla membaca nama gedungnya dari logo di background — salah satu kementerian. Reporter itu bicara dengan gestur yang serius. Running text di bawah bergerak, tapi dari sini Firla tidak bisa membacanya.

Tidak ada yang menatap televisi itu.

Firla mengetik beberapa kata di draftnya.

Menghapus.

Mengetik lagi.

"Eh kalian tau nggak soal yang kemarin?"

Suara dari meja mahasiswa tadi. Laki-laki yang paling ujung, yang dari tadi paling jarang bicara.

"Yang mana?"

"Yang demo di Ardhyakarta dibubarkan."

Hening sebentar.

"Oh itu."

Lihat selengkapnya