Manggala

NRP
Chapter #3

Orang-Orang Yang Terlalu Capek

Motornya menyala dengan satu kick yang agak lama.

Firla menunggu mesinnya panas dulu. Bapaknya dulu selalu bilang jangan langsung digas kalau mesin belum siap. Bapaknya sudah lama meninggal, tapi kebiasaan itu masih ada.

Jalan di depan warung sudah ramai.

Bukan jam sibuk, bukan jam kantor, bukan jam pulang sekolah. Tapi di kota seperti Mahesvara tidak ada yang benar-benar sepi. Yang ada hanya tingkat padat yang berbeda-beda.

Di kanan, di depan sebuah SPBU, antrean panjang.

Motor dan mobil berjajar sampai ke badan jalan. Pengendara yang paling depan berdiri di samping kendaraannya sambil memegang ponsel. Petugas SPBU di depan pompa juga memegang ponsel. Keduanya menatap layar masing-masing dengan ekspresi yang sama — bingung, tapi juga sudah terlalu lelah untuk benar-benar marah.

Firla memperlambat motornya.

Sudah tahu soal ini.

Seminggu lalu pemerintah mengumumkan sistem baru distribusi BBM bersubsidi. Mulai bulan ini, subsidi hanya bisa diakses lewat aplikasi resmi — Bhantara Sejahtera Digital — yang harus diunduh, didaftarkan, dan diverifikasi dengan NIK.

Kebijakan itu diumumkan dalam konferensi pers yang videonya sempat Firla tonton potongannya. Seorang pejabat dengan dasi biru di podium. Slide presentasi warna hijau dengan grafik yang naik ke atas.

"Sistem baru ini adalah wujud transparansi dan keadilan distribusi nasional," katanya.

Di bawah video yang viral itu, komentar pertama: apk-nya nggak bisa diinstall di hp ram 2gb.

Dua belas ribu likes.

Firla memutar arah, menghindari antrean SPBU.

Jalan alternatifnya lebih sempit, tapi lebih kosong.

Di kiri, seorang ibu-ibu duduk di depan gerobak gorengan. Tahu isi, pisang goreng, ubi. Tidak banyak pembeli siang ini. Ibu itu duduk dengan kipas plastik di tangan, mengipasi wajahnya, menatap jalan dengan ekspresi yang sudah melewati bosan dan masuk ke sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Di samping gerobaknya, ada selembar kertas yang ditempel dengan lakban. Tulisan tangan, agak miring:

MAAF BELUM BISA PAKAI QRIS BARU. TUNAI AJA YA.

Firla melewatinya.

Di perempatan berikutnya, lampu merah.

Di sebelah kirinya berhenti seorang ojol — jaket hijau yang sudah kusam di beberapa bagian, helm dengan visor yang ada goresan panjang dari ujung ke ujung. Pengendara itu membuka ponselnya. Mengetik sesuatu. Menutup. Membuka lagi. Mengetik lagi.

Firla tidak tahu kenapa ia bicara.

"Trouble?"

Ojol itu menoleh. Tidak terlihat kaget. Mungkin terlalu lelah untuk kaget.

"Aplikasinya error. Tiga kali begini dari tadi pagi."

"Order nggak masuk?"

"Masuk. Tapi nggak bisa di-accept. Nunggu terlalu lama, ordernya hangus sendiri."

"Support-nya?"

"Kalau lapor, tunggu 24 jam katanya." Ojol itu melihat kembali ke layar ponselnya. "Tapi kalau dalam 24 jam ordernya nggak keselesaiin, kena penalti rating."

Lampu hijau.

Ojol itu langsung jalan. Firla juga.

Mereka berpisah di pertigaan berikutnya tanpa kata-kata lagi.

Warteg tanpa nama di ujung gang itu Firla tahu sudah ada sejak ia masih kuliah.

Menunya tidak pernah banyak berubah: nasi, sayur, lauk yang bergantian tiap hari. Satu kipas angin yang kalau sudah lama menyala berbunyi seperti ada batu kecil tersangkut di dalamnya. Bangku plastik yang beberapa sudah retak di bagian dudukan tapi masih bisa dipakai kalau tidak terlalu bergerak.

Firla memesan nasi, sayur asem, tahu goreng.

Duduk di ujung yang agak jauh dari pintu.

Di meja seberang, dua orang buruh makan dengan tenang. Baju seragam biru tua, ada logo di punggung yang sudah agak pudar. Shift tengah, mungkin, atau baru keluar dari shift pagi yang panjang.

Mereka makan tanpa banyak bicara. Sesekali satu mengatakan sesuatu, yang lain merespons singkat, lalu kembali ke makanan.

Di antara piring mereka ada satu ponsel menghadap ke atas. Ada video yang sedang diputar — judulnya dari posisi ini tidak terbaca. Suaranya hampir tidak terdengar. Sesekali salah satu dari mereka melirik layar dan tertawa kecil.

Lihat selengkapnya