Manggala

NRP
Chapter #4

Pemimpin Yang Tidak Pernah Menjawab

Bagas sudah di kantor sebelum Firla datang. Itu bukan hal yang luar biasa. Bagas hampir selalu datang lebih dulu. Bedanya pagi ini ia tidak menyeduh kopi dulu. Ia duduk di mejanya dengan selembar kertas di tangan, membacanya, dan ketika Firla masuk pintu ia langsung bilang:

"Konferensi pers Kementerian Komunikasi jam dua siang. Lo yang pergi."

Firla menaruh tasnya di meja kosong.

"Bukan lo?"

"Editorial call jam tiga. Nggak bisa barengan." Bagas menaruh kertas itu di meja, mendorongnya ke arah Firla. "Baca dulu."

Firla mengambilnya. Siaran pers resmi. Kop surat kementerian, logo garuda di pojok kiri atas, font yang terlalu besar untuk sebuah dokumen resmi. Judulnya tiga baris panjang dengan banyak kata kapital.

"Topiknya apa?"

"Implementasi Bhantara Sejahtera Digital dan komitmen pemerintah terhadap kebebasan pers yang bertanggung jawab."

Bagas membaca kalimat terakhirnya dengan nada yang berbeda — pelan, hati-hati, seperti orang yang mencicipi makanan yang baunya sudah mencurigakan.

Firla menatap kertas itu.

"Kebebasan pers yang bertanggung jawab."

"Iya."

Mereka diam sebentar.

"Berarti mereka bakal bahas soal wartawan yang kena surat peringatan itu?" tanya Firla.

"Kata siaran persnya 'dalam rangka menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan kondusif.'"

"Kondusif."

"Kondusif."

Firla membaca siaran pers itu dari awal. Dua halaman. Banyak kata. Setelah selesai, ia tidak yakin ia mengerti apa yang akan dibahas.

"Pembicara utamanya siapa?" tanya Firla.

"Pak Dwi Prasetyo. Dirjen Komunikasi Publik."

"Yang kemarin di TV bilang program digitalisasi ini 'melampaui ekspektasi rakyat'?"

"Yang itu."

Firla meletakkan siaran pers itu ke meja.

"Oke."

"Tanya soal wartawan yang kena surat peringatan," kata Bagas. "Tiga jurnalis Mahesvara. Belum ada respons resmi dari kementerian sampai sekarang."

Firla mengangguk. Ia membuka laptopnya, mencari artikel yang ia simpan dari beberapa hari lalu. Tiga jurnalis freelance. Surat peringatan. Tidak ada keterangan lebih lanjut.

"Kemungkinan mereka bakal jawab?" tanya Firla.

Bagas berpikir sebentar — cara ia berpikir yang selalu terlihat seperti ia sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk ditimbang.

"Kalau dijawab," katanya akhirnya, "pasti nggak kejawab."

"Bedanya?"

"Dijawab itu ada kata-katanya. Kejawab itu ada isinya."

Firla mencatat itu dalam pikirannya tanpa mencatatnya di mana-mana.

Ia berangkat pukul dua belas lewat.

Motornya menyala lebih cepat dari biasanya — mungkin karena cuaca, mungkin karena tidak ada alasan khusus. Firla tidak terlalu memikirkan mesin.

Kementerian Komunikasi dan Transformasi Digital Bhantara terletak di kawasan Distrik Garuda. Jauh dari pusat kota tempat orang-orang biasa bekerja. Gedungnya baru direnovasi dua tahun lalu — fasad kaca, bersih, ada logo kementerian besar di sisi kanan, dan sebuah semboyan dalam huruf emas di atas pintu masuk:

INFORMASI UNTUK KEMAJUAN BANGSA.

Firla memarkir motornya di area parkir pengunjung yang sudah hampir penuh. Ia menatap gedung itu dari area parkir.

Kacanya bersih. Dua satpam di pintu masuk berdiri lurus. Di lobi yang terlihat dari luar, ada beberapa tanaman hias yang terlalu hijau untuk tanaman yang hidup tanpa sinar matahari langsung.

Plastik, mungkin.

Atau nyata, tapi dirawat oleh orang yang dibayar khusus untuk itu.

Di meja registrasi, dua petugas berseragam kementerian menyambut dengan senyum terlatih.

Firla menyerahkan kartu persnya. Petugas yang mengambilnya menatap sebentar, lalu mengetik di komputer.

"SUDUT?" kata petugas itu. Bukan tidak sopan. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya yang membuat Firla merasa perlu menjelaskan sesuatu meski tidak ditanya.

"Ya."

"Media independen?"

"Iya."

Petugas mengetik lagi. Menunggu. Mengetik lagi.

"Nama Firla Dyah Rahayu?"

"Iya."

Selembar tanda pengenal dicetak. Warna merah muda. Nama Firla di bagian tengah, nama SUDUT dalam font kecil di bawahnya. Dan di bagian paling bawah, dalam kotak tersendiri:

MEDIA TAMU.

Firla mengalungkan tanda pengenal itu. Ia melewati pintu kaca.

Di leher orang-orang yang sudah di dalam, tanda pengenal mereka hanya bertuliskan MEDIA — tanpa kotak tambahan, tanpa kata tamu.

Beda dua kata.

Tapi entah kenapa terasa lebih jauh dari itu.

Ruang konferensi di lantai dua.

Di koridor menuju ruangan, beberapa kelompok orang berdiri sambil memegang kopi kertas. Kamera besar dari stasiun televisi sudah dipasang di bagian belakang. Ada logo-logo yang Firla kenali — dua stasiun televisi nasional besar, tiga media online terkemuka, satu koran.

Dan beberapa yang lebih kecil. Media daerah. Media independen.

Mereka berdiri di kelompok yang berbeda. Tanpa sepenuhnya memisahkan diri, tapi jelas terpisah.

"Pertama kali?"

Suara dari kirinya.

Firla menoleh. Seorang laki-laki paruh baya, badan agak berisi, rambut memutih di pelipis, memegang gelas kopi kertas dengan cara orang yang sudah memegang gelas kopi di tempat seperti ini ratusan kali. Lanyardnya merah. Namanya tercetak: Hartono — Harian Berita Nasional.

"Ketahuan?" kata Firla.

Laki-laki itu tersenyum. "Cara lo liatin kamera."

"Cara gimana?"

"Kayak nggak percaya mereka beneran di sini."

Firla menatap kamera-kamera besar itu lagi. Tiga stasiun televisi. Dua di antaranya Firla tahu siapa pemiliknya.

"Sering ke sini?" tanya Firla.

"Dua puluh tahun," kata laki-laki itu. "Nama gue Tono."

"Firla. Dari SUDUT."

"SUDUT yang di Mahesvara itu?" Ia terlihat sedikit terkejut — bukan tidak menyenangkan, lebih ke penasaran. "Kalian yang nulis soal upah buruh konveksi?"

Firla berhenti sebentar. "Belum publish. Masih proses."

"Oh." Tono mengangguk. "Hati-hati."

Bukan ancaman.

Hanya pernyataan — seperti orang yang menyebut bahwa jalanan basah setelah hujan.

Mereka masuk bersamaan.

Kursi tersusun dalam tiga blok. Bagian depan hampir penuh oleh media besar. Kamera sudah menyala, lampu liputan sudah dipasang. Di depan podium ada logo kementerian, dua bendera kecil, dan sebuah layar putih yang belum menampilkan apa-apa.

Di sisi kiri podium, meja panjang untuk staf kementerian. Mereka bicara dalam bisikan. Sesekali menoleh ke pintu di belakang panggung.

Firla duduk di baris keempat, sisi kanan.

Tono duduk dua kursi di sebelahnya.

"Biasanya mulai molor berapa menit?" tanya Firla.

"Dua puluh sampai tiga puluh. Tergantung Pak Dwi."

"Pak Dwi orangnya gimana?"

Tono minum kopinya. Berpikir sebentar — benar-benar berpikir, bukan berpura-pura.

"Pintar," katanya akhirnya.

"Pintar bagaimana?"

"Kalau dia selesai ngomong, lo ngerasa udah dapet jawaban." Tono mengangkat bahu sedikit. "Tapi kalau lo tulis ulang di atas kertas, nggak ada yang bisa lo kutip."

Firla mencatat itu — kali ini secara literal, di laptopnya yang baru terbuka.

pintar: tidak ada yang bisa dikutip.

Dua puluh tiga menit setelah jadwal, pintu di belakang podium terbuka.

Lihat selengkapnya