Acara penganugerahan itu berlangsung Jumat malam. Firla tidak menontonnya secara langsung. Ia tahu acaranya ada — dari poster digital yang sudah berminggu-minggu beredar di Twitter, dari siaran pers yang dua kali masuk ke inbox SUDUT tanpa ada yang memintanya, dan dari ibunya yang menyebut soal itu sambil makan malam empat hari lalu dengan nada orang yang sedang memasukkan acara ke dalam kalender.
"Nanti malam ada penganugerahan Tokoh Penyejuk Bangsa. Ustadz Syukri yang dapat."
"Tahu."
"Mau nonton?"
"Nggak."
Ibunya tidak berkomentar. Ia menonton sendiri. Firla kerja di kamar sampai larut.
Yang Firla tonton adalah rekap dua puluh menit yang tayang pagi harinya.
Bukan karena ingin. Tapi karena ia duduk di ruang tengah ketika ibunya menyalakan TV, dan rekap itu sudah menyala sebelum ia sempat kembali ke kamar.
Acaranya mewah.
Gedung konser. Baris kursi penuh. Ada tata cahaya yang jelas disewa mahal. Host-nya dua orang, perempuan dan laki-laki, memakai setelan warna senada. Nama-nama tamu kehormatan yang ditampilkan di layar besar: beberapa anggota DPR, dua menteri, satu wakil menteri, dan seorang pejabat dari kantor kepresidenan yang namanya dicantumkan dengan tiga gelar akademik.
Di atas panggung, seorang MC membacakan profil penerima penghargaan.
"— figur yang tidak hanya menjadi penyejuk di tengah panasnya dinamika sosial, tetapi juga telah memberikan kontribusi nyata dalam membangun akhlak dan adab bangsa. Ustadz H. Syukri Mubarok telah menjangkau lebih dari tiga puluh juta umat melalui konten-konten yang menyentuh hati—"
Tepuk tangan.
Ustadz Syukri Mubarok naik ke panggung dengan langkah yang tenang.
Baju koko putih. Sorban hijau gelap yang sama dengan yang selalu ia pakai. Ia menunduk sedikit saat menerima piala — piala berbentuk menara masjid kecil dengan lapisan emas di bagian puncaknya — dan tersenyum ke arah penonton.
Rekap itu memotong ke reaction shot penonton. Beberapa menangis.
Pidato penerimaannya enam menit.
Firla duduk dengan cangkir teh yang sudah mendingin di tangan, tidak sepenuhnya mendengarkan sampai menit ketiga.
"— saya hanya orang kecil yang mencoba menyampaikan apa yang dititipkan. Kemarin malam, sebelum saya berangkat ke acara ini, saya duduk di kamar dan lampu di atas saya berkedip tiga kali. Tiga kali. Saya langsung tahu: ini pertanda baik. Allah sedang mengizinkan saya untuk hadir di sini."
Penonton tepuk tangan.
"Dan saya katakan kepada istri saya," ia melanjutkan dengan senyum yang hangat, "ini bukan tentang saya. Ini tentang kita semua. Bangsa ini sedang diberi tanda. Kita harus peka."
Tepuk tangan lagi. Lebih panjang kali ini.
"Bagus ya," kata ibunya.
Firla minum tehnya.
"Udah lama nggak ada tokoh yang bicaranya beneran menyentuh," lanjut ibunya. "Biasanya kalau ceramah ya ceramah. Tapi ustadz ini... beda. Kayak ngomong dari hati."
Firla menatap layar.
Rekap sudah pindah ke segmen wawancara pendek — kamera mengikuti Ustadz Syukri ke balik panggung, di mana beberapa reporter mengerumuninya. Lampu sorot. Pertanyaan bertabrakan.
"Ustadz, apa makna penghargaan ini bagi Anda?"
"Ini bukan penghargaan untuk saya. Ini penghargaan untuk umat."
Semua reporter mengangguk. Pertanyaan berikutnya masuk sebelum yang pertama selesai dicatat.
Di bagian bawah layar, running text berjalan.
...Aksi buruh pabrik tekstil di Vardhana berakhir setelah jaminan verbal dari manajemen, tanpa perjanjian tertulis...
...Dua aktivis lingkungan yang dilaporkan hilang di NaramBeya masih belum ada kejelasan. Polisi menyatakan...
Teks berganti.
...Piala Tokoh Penyejuk Bangsa diserahkan dalam Malam Anugerah yang dihadiri lebih dari dua ribu undangan di...
Firla kembali ke kamar.
Di ponselnya, Twitter sudah penuh dari tadi malam.
Klip-klip dari acara itu tersebar. Yang paling banyak di-share: momen ketika Ustadz Syukri menceritakan soal lampu yang berkedip. Ada yang mengunggahnya dengan caption subhanallah dan ada yang mengunggahnya dengan emoji tanda tanya.
Yang dengan emoji tanda tanya sudah banyak yang menghapus tweetnya.
Firla scroll ke bawah.
Kemarin pagi, sebelum acara penganugerahan, seorang dosen dari universitas di Mahesvara — nama depannya Dr. R., sisanya samarkan dengan inisial di thread yang sekarang Firla baca — mengunggah sebuah thread panjang.
Isinya bukan serangan. Lebih ke analisis — bahasa akademik, bertahap, dengan catatan kaki. Intinya: mengkritisi klaim-klaim supranatural Ustadz Syukri yang tidak memiliki dasar teologis yang jelas, dan mempertanyakan mengapa negara memilih tokoh semacam ini sebagai simbol nasional.
Thread itu diunggah pukul sembilan pagi. Dan jam dua belas, sudah ada dua ratus ribu tayangan.
Tapi bukan karena orang membacanya dengan serius.
Di bawah thread itu:
kafir lo ngomong gini tentang ulama
lapor ke polisi aja langsung ini penistaan agama
gue screenshot semua ini, siap-siap dipanggil Komnas
dosen apaan ga tau adab, dipecat aja dari kampus