Manggala

NRP
Chapter #6

Mahesvara Setelah Tengah Malam

Pukul sebelas lewat dua puluh menit, lampu di tiga toko di bawah ruko ini sudah mati. SUDUT masih menyala.

Dari luar, kalau ada yang lewat — tapi tidak ada yang lewat, ini gang kecil, dan jam segini gang kecil di Mahesvara sudah milik kucing dan angin — yang terlihat hanya dua kotak cahaya di lantai dua. Satu dari jendela depan, satu dari jendela samping yang kacanya agak berembun karena AC unit dalam sedang berusaha keras melawan suhu akhir malam yang tidak pernah benar-benar turun di kota ini.

Di dalam, ada dua orang.

Firla di meja kosong yang paling jauh dari pintu.

Mejanya sudah tidak bisa disebut kosong lagi sejak tiga jam lalu. Ada laptop, ada gelas kopi yang sudah tidak mengepul, ada tiga lembar kertas print-out yang sebagian berisi coretan dengan pena biru dan sebagian lagi berisi garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak kecil — lebih mirip diagram yang digambar orang sedang bicara sendiri daripada dokumen kerja yang serius. Ada juga satu sticky note baru yang ditempel di sisi layar laptop, tulisannya kecil dan agak miring:

kenapa semuanya November–Desember?

Bagas di mejanya sendiri.

Ia sedang mengedit sesuatu — dari posisi tubuhnya, punggung sedikit membungkuk, mata tidak berkedip ke layar, jari bergerak di touchpad lebih dari di keyboard — terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan kalimat, bukan mengetiknya.

Di mejanya tidak ada coretan. Bagas tidak pernah coretan. Yang ada hanya laptop, satu gelas air putih yang diisi ulang dari galon kecil di dapur, dan selembar post-it kuning yang sudah menempel di pojok monitor sejak entah kapan. Isinya Firla pernah baca sekali waktu melewatinya: daftar nama. Narasumber yang belum dikonfirmasi ulang, mungkin. Atau hutang. Firla tidak tahu, dan tidak pernah bertanya.

Di luar jendela depan, sesekali terdengar suara motor yang lewat di jalan besar — jauh, tidak langsung, lebih seperti gema daripada suara aslinya. Warung kopi di ujung jalan yang biasanya buka sampai subuh masih menyala dari sini terlihat titik kuning kecil di antara gelap. Dari sana sesekali terbawa suara tawa atau suara orang yang sedang berbicara lebih keras dari seharusnya, campuran antara mahasiswa yang lembur dan ojol yang menunggu order yang tidak datang-datang.

AC unit di pojok berbunyi tik sebentar, lalu kembali ke desauan yang sudah tidak ada yang dengar karena sudah terlalu terbiasa.

"Lo mau mesen apa?" kata Bagas tanpa menoleh dari layar.

"Nggak lapar."

"Lo bilang nggak lapar dari jam delapan."

Firla tidak menjawab. Jarinya sedang di atas keyboard tapi tidak mengetik — hanya melayang, seperti orang yang sudah lupa mau nulis apa.

"Martabak telor mau nggak," kata Bagas. Kali ini bukan pertanyaan.

"Boleh."

Bagas membuka HP-nya. Mengetik sebentar. Meletakkan HP-nya kembali.

"Empat puluh menit katanya."

"Oke."

Hening lagi. Bunyi keyboard Bagas kembali. Firla menatap layarnya sendiri.

Apa yang ada di layar Firla bukan artikel.

Bukan draft, bukan notes, bukan arsip yang lagi dibuka. Yang ada adalah spreadsheet — bukan spreadsheet yang rapi dengan header yang jelas, tapi spreadsheet yang dimulai dari tidak ada rencana sama sekali, kolom-kolomnya ditambahkan satu per satu sesuai kebutuhan yang baru ketahuan setelah datanya masuk.

Kolom pertama: nama. Sebagian nama lengkap, sebagian hanya inisial, tiga di antaranya cuma keterangan seperti aktivis lingkungan, Mahesvara, perempuan, 23 th atau jurnalis freelance, Vardhana, ditemukan tidak bisa dihubungi sejak—.

Kolom kedua: tanggal terakhir diketahui aktif.

Kolom ketiga: afiliasi. Organisasi mahasiswa, media, lembaga riset, atau satu kata yang terasa sangat sederhana untuk sesuatu yang tidak sederhana: aktivis.

Kolom keempat: status sekarang. Ini yang paling banyak kosong. Untuk beberapa nama ia hanya bisa mengisi: tidak ada info lebih lanjut. Untuk beberapa lainnya: artikel tentang kasusnya dihapus. Untuk satu nama, yang paling lama ia temukan: dinyatakan meninggal, Desember 2025, tidak ada detail.

Kolom kelima — yang baru Firla tambahkan satu jam lalu, dan belum sepenuhnya ia mengerti sendiri kenapa ia menambahkannya: terakhir menulis/bekerja tentang apa.

Kolom itu yang sekarang sedang ia isi, pelan-pelan, dari serpihan-serpihan yang ia kumpulkan: artikel yang sudah terhapus tapi bisa ia temukan di cache, nama yang disebut sekilas dalam thread forum lama, satu kalimat dalam berita pendek yang langsung dilupakan semua orang kecuali Firla yang menyimpan screenshot-nya.

"Lo dari tadi ngapain?" tanya Bagas.

Nada suaranya tidak mempermasalahkan. Lebih ke obrolan pengisi hening.

"Ngisi data."

"Data apa?"

Firla berpikir sebentar — bukan apakah ia akan menjawab, tapi bagaimana menjelaskannya.

"Gue nyusun timeline."

"Timeline apa?"

"Orang-orang yang hilang."

Bunyi keyboard Bagas berhenti.

Ia menoleh ke arah Firla. Bukan dengan ekspresi khawatir atau penasaran yang berlebihan. Lebih ke ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa percakapan yang ia mulai dengan santai ternyata sudah ada di kedalaman yang berbeda.

"Kasus mana?"

"Beberapa. Yang gue temukan dari ticker, dari artikel yang setengah jalan, dari beberapa yang disebut sekilas di laporan kecil yang nggak pernah ada follow-up-nya."

Bagas memutar kursinya sedikit ke arah Firla.

"Berapa banyak?"

Firla menatap layarnya.

"Sekarang ada tiga belas baris. Tapi yang datanya lumayan lengkap mungkin delapan."

"Dalam berapa lama?"

"Yang paling lama Maret 2025. Yang paling baru bulan lalu."

Bagas diam sebentar. Ia meraih gelas air putihnya, meminumnya, meletakkannya kembali.

"Ini proyeknya SUDUT atau punya lo sendiri?"

Firla tidak langsung menjawab.

"Belum tahu," katanya akhirnya. "Belum sampai sana."

Bagas bangkit dari kursinya.

Ia pergi ke dapur kecil di belakang — empat langkah dari mejanya, itu satu hal yang membuat SUDUT terasa seperti bukan kantor sungguhan tapi lebih seperti kos yang kebetulan ada meja kerja di dalamnya. Dari dapur terdengar suara gelas diambil, suara galon air, suara langkah balik.

Ia kembali dengan dua gelas baru. Meletakkan satu di sisi meja Firla. Duduk di kursi yang tidak ada mejanya — kursi tambahan yang biasanya dipakai kalau ada tamu atau rapat, tapi lebih sering dipakai sebagai tempat naruh tas.

"Ceritain," katanya.

Firla memutar laptopnya sedikit supaya Bagas bisa lihat dari kursinya.

"Ini yang paling bikin gue mikir." Ia menunjuk kolom terakhir. "Bukan cuma siapa yang hilang. Tapi mereka terakhir kerja di bidang apa."

Bagas membaca dari tempatnya. Firla menunggu.

"Buruh," kata Bagas pelan, membaca. "Tambang. NaramBeya lagi. Tambang. Buruh. NaramBeya—" Ia berhenti. "Hm."

"Iya."

"Itu kelihatannya kebetulan atau—"

"Gue juga belum tahu. Mungkin kebetulan. Tapi gue udah cek ulang dua kali dan tiap kali gue tambah data, polanya nggak pergi."

Bagas menatap layarnya lagi.

"Dari delapan yang datanya lumayan, berapa yang NaramBeya atau Vardhana-related?"

"Lima."

"Lima dari delapan."

"Iya."

Bagas menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Sisanya?"

"Satu investigasi korupsi daerah. Satu advokasi penggusuran. Satu..." Firla melirik layar. "...ini sebenernya nggak jelas, yang ini cuma dua kalimat di forum dan forumnya udah dihapus. Jadi gue masukin tapi tandain dengan tanda tanya."

"Forum yang mana?"

"Anon. Salah satunya yang gue temukan waktu itu. Ketika nyari Heru."

Bagas tidak langsung merespons.

"Lo masih nyari soal itu," katanya. Bukan pertanyaan.

"Iya."

"Firla."

"Gue tahu."

"Kasusnya sudah ditutup."

"Gue tahu."

Mereka diam sebentar. Di luar, suara motor yang lewat di jalan besar. Lalu sepi lagi.

"Tapi lo tetap masukin dia," kata Bagas.

"Dia di kolom terakhir masuk kategori NaramBeya-related juga. Yang terakhir ia tulis — yang bisa gue temukan — tentang operasi militer di sana."

Bagas menatap kolom itu lagi.

"Kalau lo benar," kata Bagas pelan, "lo sedang menyusun sesuatu yang butuh lebih dari tiga belas baris."

"Gue tahu."

"Dan butuh narasumber yang mau bicara."

"Gue tahu."

"Dan waktu yang lo mungkin nggak punya."

"Gue tahu, Mas."

Bagas diam sebentar. Lalu tersenyum kecil — bukan senyum menghibur, tapi senyum orang yang mengenali sesuatu.

"Tapi lo nggak akan berhenti."

"Nggak."

"Oke." Ia bangkit, kembali ke mejanya. "Lanjut."

Martabaknya datang dua belas menit lebih lambat dari yang dijanjikan.

Ojolnya naik sampai lantai dua karena pintu bawah dikunci dari dalam, dan begitu ia ketuk pintu SUDUT ia terlihat seperti orang yang baru selesai mendaki gunung kecil.

"Kiri atau kanan yang SUDUT?"

"Ini yang SUDUT."

Ojol itu melihat ke dalam — dua meja, dua laptop, tumpukan kertas, cahaya fluorescent — dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Malem banget masih kerja, Mas, Mbak."

"Iya, Pak."

"Saya juga." Ia menyerahkan kantong plastik. "Semangat ya."

"Makasih, Pak. Hati-hati."

Lihat selengkapnya