Manggala

NRP
Chapter #7

Orang-Orang Yang Hilang

Nama itu muncul di grup WhatsApp angkatan Rini.

Rini sendiri yang memberitahunya — bukan karena menganggap itu penting, tapi karena ia sedang membuka HP di dapur SUDUT sambil menunggu air mendidih dan membacanya keras-keras dengan nada orang yang baru saja menemukan berita yang aneh.

"Eh, Dimas Pratama hilang."

Firla sedang mengetik. Ia tidak langsung mengangkat kepala.

"Siapa?"

"Dimas. Teman angkatan teman gue. Aktivis di Komisariat Hukum."

"Hilang gimana?"

"Kata temennya, nggak pulang sejak Senin. HP mati. Kos-nya masih ada barangnya, tapi orangnya nggak ada."

Firla berhenti mengetik.

"Sudah lapor?"

"Sudah. Keluarganya lapor ke polisi kemarin. Katanya masih diproses."

Air di dapur mulai mendidih. Rini menuangkannya ke gelas, memasukkan teh celup, kembali ke mejanya. Tangannya sudah kembali ke keyboard sebelum ia selesai duduk.

Firla menatap layarnya sendiri.

Nama Dimas Pratama tidak ada di spreadsheet-nya.

Belum.

Ia membuka tab baru.

Mengetik nama itu di kolom pencarian. Hasilnya sedikit — beberapa mention di akun Twitter yang tidak ia kenali, satu foto dari acara diskusi kampus yang diunggah bulan Oktober, dan satu artikel pendek dari situs berita mahasiswa internal kampus yang judulnya tentang pernyataan Komisariat Hukum soal penggusuran di pinggiran Mahesvara.

Foto dari diskusi itu: laki-laki dengan kacamata, rambut agak panjang, duduk di kursi pembicara dengan mikrofon di depannya. Ada orang lain di foto itu — meja panjang, empat orang, latar belakang banner acara yang tulisannya setengah terpotong.

Firla memperbesar bagian banner itu.

Ia membacanya. Lalu membacanya sekali lagi.

Di pojok kanan banner, di bawah logo lembaga penyelenggara, ada tema acara: Regulasi Tambang dan Hak Adat: Kasus NaramBeya.

Oktober. Dua bulan lalu.

Ia membuka spreadsheet.

Bagas masuk ke SUDUT pukul sebelas dengan tas di satu bahu dan plastik kantong kopi dari warung ujung jalan yang sudah mulai bocor di bagian bawahnya.

"Bocor lagi," kata Rini tanpa menoleh.

"Iya, gue tahu. Gue sudah megang dari tadi."

Ia meletakkan kantong itu di atas tisu bekas yang diambil dari meja. Duduk.

"Lo denger soal Dimas Pratama?" tanya Firla.

Bagas menatapnya. "Dari Rini?"

"Iya."

"Sudah denger dari tadi pagi. Dari grup alumni sebelah."

"Lo tahu orangnya?"

"Ketemu sekali. Waktu liputan diskusi. Dia yang koordinir acaranya." Bagas membuka laptopnya. "Kenapa?"

Firla memutar layarnya ke arah Bagas. Di layar: spreadsheet-nya, baris baru paling bawah, nama Dimas Pratama dengan kolom terakhir yang baru diisi: regulasi tambang, NaramBeya, Oktober.

Bagas membaca.

Tidak ada ekspresi yang berubah di wajahnya. Hanya seseorang yang membaca sesuatu dengan teliti.

"Belum confirmed hilang," kata Bagas akhirnya.

"Empat hari. HP mati. Barang masih di kos."

"Tetap belum confirmed."

"Gue tahu." Firla memutar layarnya kembali. "Gue cuma masukkan dulu."

Siangnya Firla keluar.

Bukan untuk liputan — ia tidak punya jadwal hari itu. Lebih ke jenis pergi yang tidak bisa ia jelaskan dengan satu alasan, jenis pergi yang biasanya terjadi ketika ada sesuatu yang berputar di kepalanya dan diam di dalam kantor hanya membuatnya berputar lebih cepat.

Ia pergi ke arah kampus.

Bukan ke dalam — ia tidak punya akses setelah lulus, dan lagipun bukan itu tujuannya. Hanya ke kawasan sekitarnya: deretan warung kopi kecil yang selalu penuh mahasiswa, toko fotokopi yang papan namanya sudah miring tapi tidak pernah diganti, angkringan yang buka dari pagi sampai hampir subuh.

Ia duduk di warung yang Firla ketahui paling sering jadi tempat orang dari Komisariat Hukum nongkrong — bukan karena ia tahu dengan pasti, tapi karena pernah meliput diskusi di dekat sana dan melihat beberapa mahasiswa yang sama berkali-kali di tempat yang sama.

Ia memesan es teh. Duduk.

Tidak butuh lama.

Dua meja dari tempatnya duduk, tiga orang mahasiswa sedang makan siang dengan cara orang yang sudah sangat lapar — cepat, tidak banyak bicara, konsentrasi ke piring. Tapi ketika makanan mulai habis dan tempo melambat, salah satu dari mereka mulai bicara.

"Gimana update si Dimas?"

Yang di seberangnya menggeleng. "Belum ada. Polisi bilang masih diproses."

"Keluarganya?"

"Datang kemarin ke kos. Ibunya nangis."

Hening.

"Pasti lagi sembunyi," kata yang ketiga — laki-laki dengan kaos bergambar band yang Firla tidak kenal. Nada suaranya bukan dingin. Tapi juga tidak terdengar seperti seseorang yang benar-benar khawatir. Lebih seperti seseorang yang sudah membuat kesimpulan dan nyaman di sana.

"Sembunyi dari siapa?"

"Ya dari siapapun. Dia emang sering ngilang kalau lagi ada masalah. Kemarin juga pernah pas mau sidang organisasi."

"Beda lah. Ini HP mati."

"HP bisa dimatiin."

Hening lagi. Sedikit lebih panjang dari yang pertama.

"Eh mau order minuman?" kata yang pertama.

Topik berganti ke menu.

Firla minum es tehnya.

Ia tidak merekam. Tidak mencatat. Hanya duduk dan mendengarkan suara warung yang penuh dengan pembicaraan lain — tentang tugas, tentang dosen, tentang jadwal ujian yang bentrok, tentang sinetron yang episodenya semalam dramatis, tentang harga kos yang naik lagi.

Lihat selengkapnya