Pukul tujuh pagi, Twitter menunjukkan sesuatu yang menarik selama sekitar dua belas menit.
Sebuah akun dengan foto profil gambar burung — bukan foto orang, bukan nama asli — mulai mengunggah thread tentang Dimas Pratama. Bukan panjang: empat tweet, bahasa hati-hati, tidak menyebut nama institusi secara langsung, tidak menuduh siapapun. Hanya kronologi. Tanggal. Fakta yang sudah tersebar di grup-grup kecil tapi belum pernah dikumpulkan di satu tempat.
Firla membacanya dari kasur, dengan HP di atas dada, matanya belum benar-benar terbuka.
Tweet pertama: tiga puluh like.
Tweet kedua: tujuh belas.
Tweet ketiga: dua belas.
Tweet keempat dan terakhir, yang mengajukan pertanyaan spesifik tentang apa yang terjadi setelah laporan polisi: empat.
Lalu akun itu berhenti. Tidak ada tweet lagi. Tidak dihapus — thread-nya masih ada. Tapi akun itu berhenti, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu yang baru dibukanya lebih besar dari yang mereka kira, dan memilih untuk tidak melangkah lebih jauh.
Firla menaruh HP-nya di samping kasur.
Menatap langit-langit.
Ia mandi, sarapan dengan nasi goreng sisa yang ibunya panaskan tanpa ditanya, dan keluar pukul setengah sembilan dengan tas selempang di satu bahu dan helm di tangan yang lain.
Ibunya sudah di dapur, merapikan sesuatu.
"Mau ke mana?"
"Ketemu orang. Nanti siang balik."
"Makan siangnya di luar?"
"Kayaknya iya."
Ibunya mengangguk. Tidak bertanya ketemu siapa. Tidak bertanya untuk apa. Sudah cukup lama untuk tahu bahwa jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan membuatnya merasa lebih tenang.
Pak Hendra bekerja di sebuah majalah gaya hidup yang kantornya ada di gedung lama di pusat kota Mahesvara, dua lantai di atas minimarket yang selalu ramai.
Firla mengenalnya dari dua tahun lalu — waktu itu ia baru masuk SUDUT, masih sering ke sana ke sini mencari koneksi, dan Pak Hendra adalah salah satu nama yang namanya sering disebut kalau orang bicara tentang jurnalisme investigatif di Mahesvara. Dulu, selalu dengan kata itu. Pak Hendra dulu pernah nulis soal ini, Pak Hendra dulu pernah sampai ke sana.
Sekarang Pak Hendra menulis tentang restoran baru dan tren interior rumah dan tokoh lokal yang berbisnis kopi.
Mereka janjian di sebuah kafe di dekat kantornya. Pak Hendra sudah di sana ketika Firla tiba — kopi hitam di depannya, kacamata di atas kepala, memakai kemeja yang kancing paling atasnya tidak dikancingkan.
"Firla." Ia mengangkat tangan sedikit. "Sudah lama."
"Sudah lama, Pak." Firla duduk. "Makasih mau ketemuan."
"Santai. Gue memang butuh keluar dari kantor."
Mereka ngobrol dulu — hal-hal kecil, SUDUT kabarnya gimana, Bagas masih di sana, Rini juga. Pak Hendra bertanya apa yang sedang Firla kerjakan dan Firla menjawab dengan versi umum: riset soal beberapa kasus yang kelihatannya punya pola.
Pak Hendra mengangguk. Minum kopinya.
"Pola seperti apa?" katanya, tapi nadanya sudah berbeda dari tadi. Sedikit lebih datar.
"Orang-orang yang menghilang," kata Firla. "Dengan latar belakang yang mirip. Dan tidak ada yang menginvestigasi."
Pak Hendra memutar gelasnya pelan di meja. Bunyi kecil.
"Gue dulu juga pernah bikin list kayak gitu," katanya akhirnya.
Firla tidak bergerak. "Berapa lama?"
"Tiga bulan. Dua ribu dua puluh dua."
"Terus?"
Ia tidak langsung menjawab. Menatap gelasnya.
"Narasumber gue yang pertama minta ketemu untuk klarifikasi. Laki-laki yang biasa. Sopan. Nggak ada yang mengancam." Satu jeda. "Dia cuma minta gue pikir ulang apakah ini cerita yang penting untuk diceritakan sekarang. Dengan kata-kata itu persis."
"Dan lo pikir ulang."
"Gue pikir ulang." Nada suaranya tidak minta maaf. Bukan defensif. Hanya seseorang yang sudah selesai bernegosiasi dengan fakta tentang dirinya sendiri dan tidak lagi mempermasalahkannya. "Dan gue memutuskan bahwa waktu itu bukan saat yang tepat."
"Kapan saat yang tepat?"
Pak Hendra menatapnya. Di matanya ada sesuatu yang sulit dibaca — bukan kasihan, bukan peringatan, lebih seperti seseorang yang melihat dirinya sepuluh tahun lalu dari jarak yang cukup jauh untuk tidak terlalu sakit.
"Firla," katanya. "Gue nggak akan bilang jangan lanjut. Itu hak lo. Tapi gue mau lo tahu satu hal."
"Apa?"
"Yang paling berat bukan ancamannya. Yang paling berat adalah ketika lo sudah tahu semuanya, sudah nulis semuanya, sudah publish — dan tidak ada yang berubah. Dan lo harus bangun keesokan harinya dan tetap hidup normal."
Firla tidak menjawab.
Pak Hendra menyelesaikan kopinya.
"Gue masih nulis," katanya. "Tentang restoran, tentang desain, tentang hal-hal yang tidak membahayakan siapapun." Ia meletakkan gelas. "Dan gue masih bisa tidur malam."
Mereka berpisah di depan kafe dengan cara yang sopan, saling bilang hati-hati dan semoga lancar, dan Firla berjalan kembali ke motornya dengan perasaan yang sulit ia beri nama.
Bukan marah. Bukan juga mengadili.
Hanya sesuatu yang terasa seperti melihat cermin yang tidak ia minta untuk dilihat.
Dari kafe itu ia mengirim pesan ke seorang dosen hukum yang namanya ia temukan di artikel universitas dari Agustus — Ibu Kartika, yang profilnya mencantumkan spesialisasi hukum adat dan sumber daya alam. Persis bidang yang relevan dengan apa yang ada di spreadsheet-nya.
Pesannya singkat: memperkenalkan diri, menyebut SUDUT, dan menanyakan apakah bisa berbincang sebentar tentang penelitian yang sedang berjalan di bidangnya.
Balasan datang empat puluh menit kemudian.