Manggala

NRP
Chapter #9

Arsip Lama

Cara paling jujur untuk menggambarkan apa yang Firla lakukan pagi itu adalah: menggali.

Bukan secara harfiah. Ia duduk di meja kamarnya dengan dua gelas air di sisi kanan dan satu kopi sachet yang sudah dingin di sisi kiri, dengan laptop yang sudah menyala sejak sebelum ia selesai mandi. Tapi rasanya seperti menggali — tangan masuk ke dalam tanah, mencari sesuatu yang tidak kelihatan dari atas, dan tidak tahu seberapa dalam harus pergi sebelum menemukan apa yang dicari. Atau sebelum memutuskan bahwa yang dicari memang sudah tidak ada di sana.

Ia memulai dari yang paling sederhana.

Ada sebuah layanan arsip web — bukan resmi, bukan dari pemerintah, dikelola oleh komunitas kecil yang percaya bahwa internet seharusnya punya ingatan — yang menyimpan snapshot halaman-halaman lama secara berkala. Tidak semua. Tidak sempurna. Tapi cukup untuk menemukan jejak dari sesuatu yang sudah dihapus, kalau waktunya tepat dan kalau ada yang sempat menyimpannya sebelum dihapus.

Firla sudah tahu layanan ini. Sudah pernah memakainya sebelumnya, untuk hal-hal yang lebih kecil.

Kali ini ia mengetikkan URL dari forum mahasiswa yang threadnya mengarah ke 404 — thread yang ia temukan di chapter awal investigasinya, thread dengan delapan belas balasan yang terakhirnya hanya: hati-hati.

Layanan itu memuat hasilnya dengan lambat. Progress bar merangkak.

Halaman muncul.

Yang ada bukan forum yang hidup.

Yang ada adalah kerangka forum — struktur masih ada, tata letak masih ada, kolom-kolom masih ada. Tapi isinya: hampir semua sudah diganti dengan tiga kata yang sama, berulang-ulang, di setiap baris yang seharusnya berisi teks.

[Konten telah dihapus]

Username-nya: [Akun telah dihapus]

Thread setelah thread. Baris setelah baris. Seperti buku yang halamannya masih ada tapi semua kata sudah dihapus dengan tipp-ex, yang tersisa hanya garis-garis putih di atas halaman yang masih berbentuk halaman.

Firla scroll ke bawah.

Di bagian bawah halaman, ada satu thread yang berbeda.

Bukan karena isinya ada — isinya tetap sebagian besar [konten telah dihapus]. Tapi karena satu balasan, balasan ketujuh dari delapan belas, tersimpan setengah jalan. Seperti proses penghapusannya terpotong di tengah jalan, atau layanan arsip ini sempat menyimpan snapshot di momen yang tepat sebelum baris itu ikut dihapus.

Isinya tidak lengkap. Kalimatnya putus di tengah:

gue denger dari orang yang ikut langsung. Heru bukan cuma nulis. Dia sudah punya data yang—

Sampai situ.

Sisanya: [konten telah dihapus]

Firla membaca potongan kalimat itu tiga kali.

Lalu menyalinnya ke dokumen catatan di laptopnya. Bukan karena ia tahu artinya. Tapi karena sesuatu yang dipotong di tengah terasa penting justru karena dipotongnya.

data yang—

Data apa.

Ia melanjutkan menggali.

Selama dua jam berikutnya, ia memetakan jejak digital Heru Anggara Rosallia Putra di tempat-tempat yang tidak biasa orang cari.

Bukan di artikel aktivisme. Bukan di media nasional. Di tempat-tempat kecil — komentar di bawah postingan Instagram akun komunitas buku mahasiswa Mahesvara, tertanggal Februari 2024: rekomendasinya bagus, thanks. Dua kata, tidak ada yang bisa disimpulkan dari dua kata itu kecuali bahwa ia membaca, bahwa ia berinteraksi dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan tambang atau aktivisme, bahwa ia adalah seseorang yang punya waktu untuk mengomentari rekomendasi buku.

Di thread Twitter tentang pertandingan futsal antarkampus, Oktober 2024, tiga mention berturut-turut dari akun yang sekarang sudah tidak ada, menggoda seseorang yang kalah: next time latihan dulu baru tantang. Nada bercandanya berbeda dari cara seseorang bicara di podium forum.

Di sebuah thread diskusi panjang tentang sebuah novel yang direkomendasikan di group chat yang entah bagaimana tersimpan di cache sebuah blog agregator, namanya muncul di screenshot sebagai salah satu peserta diskusi — foto profilnya gambar gunung, nama tampilnya hanya h.a. — komentarnya tentang karakter utama novel itu: dia bukan pengecut. dia cuma tahu kapan waktunya.

Firla berhenti di kalimat terakhir itu.

Ia tidak tahu konteks diskusinya. Tidak tahu novel yang dibicarakan. Tapi kalimat itu terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar komentar tentang fiksi.

Ia menyalinnya juga.

Pukul sebelas, HP-nya bergetar.

Pesan dari nomor yang ia kenal — Sita.

Firla berhenti mengetik.

Ia membuka pesan itu.

maaf lama. gue baik-baik aja. nggak jadi ya.

Tiga kalimat. Tidak ada penjelasan. Tidak ada konteks tentang apa yang "nggak jadi." Tidak ada tanda tanya, tidak ada maaf yang lebih panjang dari itu.

Firla menatap layar HP-nya. Tiga kalimat itu tidak menjawab apapun. Bahkan menambah pertanyaan.

Ia mengetik: Sita, lo yakin baik-baik aja? Gue bisa nemuin lo kalau perlu.

Mengirim.

Centang dua biru. Langsung.

Artinya Sita membacanya.

Tidak ada balasan.

Firla menunggu tiga menit. Lima menit. Delapan.

Tidak ada balasan.

Ia meletakkan HP dan kembali ke laptopnya.

Perpustakaan kampus buka pukul delapan.

Firla tiba di sana pukul satu siang — setelah makan siang singkat dari nasi bungkus yang dibeli dari warung depan dan dimakan di motor — dengan tas selempang di satu bahu dan daftar yang sudah ia tulis di HP: nama-nama majalah mahasiswa yang pernah ia temukan sitasinya dalam artikel-artikel lama, edisi-edisi tertentu, rentang waktu yang spesifik.

Ini bukan kampusnya sendiri. Kampusnya dulu kecil, perpustakaannya lebih kecil lagi. Ini kampus yang lebih besar di Mahesvara, yang koleksi terbitannya lebih lengkap, yang Heru pernah tercatat sebagai salah satu kontributornya di artikel universitas Agustus 2025.

Petugas perpustakaannya seorang perempuan paruh baya dengan kacamata berbingkai coklat dan rambut yang dikepang ke belakang. Namanya tertulis di plakat kecil di meja: Sri Handayani, Pustakawan.

"Ada yang bisa dibantu?"

"Saya cari terbitan mahasiswa. Majalah dari Fakultas Hukum. Kalau ada."

"Nama majalahnya?"

"Perspektif Hukum. Atau mungkin ada yang namanya berbeda, terbitan internal."

Bu Sri mengetik sesuatu di komputer mejanya. Menunggu. Mengetik lagi.

"Ada. Tapi koleksi kami tidak lengkap. Edisi mana yang dicari?"

"Dua ribu dua puluh empat sampai dua ribu dua puluh lima."

Satu jeda kecil.

"Dua ribu dua puluh empat sebagian ada. Edisi satu sampai empat." Bu Sri membaca dari layarnya. "Dua ribu dua puluh lima — edisi satu sampai dua ada. Edisi tiga sedang dalam proses inventarisasi. Edisi empat dan lima—" Ia mengetik sesuatu. "Belum terdaftar di sistem."

"Belum terdaftar artinya?"

"Kami belum menerima salinan untuk edisi-edisi itu. Mungkin belum diserahkan dari fakultas."

"Atau?"

Bu Sri menatapnya sebentar di atas kacamatanya. Bukan curiga. Hanya menilai pertanyaan.

"Atau memang tidak ada salinan yang diserahkan," katanya. Datar. Faktual. "Itu di luar kendali kami."

Edisi satu sampai empat tahun 2024 ada di rak terbitan berkala, bagian ujung, di antara jurnal-jurnal lain yang jarang disentuh. Punggungnya tipis, sampulnya dicetak hitam-putih dengan layout yang sederhana.

Lihat selengkapnya