Manggala

NRP
Chapter #10

Daftar Yang Tidak Untuk Dibaca

Seragamnya terlalu besar di bagian bahu.

Sudah setahun begini. Bahu sebelah kanan selalu turun sedikit, kurang dua sentimeter dari posisi yang seharusnya, dan Wawan tidak pernah mengurus tambalannya ke logistik karena antreannya panjang dan waktu tunggunya dua minggu dan dua minggu selalu bisa ditemukan alasan untuk tidak pergi ke sana.

Ia mengatur tali helm dengan cara yang sama setiap pagi. Dua tarikan ke bawah, satu klik, satu cek dengan jempol di bawah dagunya.

Lalu ia keluar dari loker.

Pos pengamanan distrik Bhantaramura — yang orang-orang di dalam menyebutnya Pos Kuda karena dulu ada patung kuda kecil di depan gedung lama sebelum gedungnya diganti dan patungnya hilang entah ke mana — terletak di jalan yang tidak terlalu ramai tapi tidak juga sepi.

Di seberangnya ada warung mie ayam yang buka dari jam enam pagi. Pemiliknya seorang bapak dengan kumis tebal yang selalu ada di balik mejanya, selalu memakai celemek yang warnanya tidak bisa dipastikan lagi karena sudah terlalu banyak dicuci. Setiap kali ada anggota pos yang makan di sana — yang sering, karena warung itu murah dan tidak ada pilihan lain dalam radius tiga ratus meter — bapak itu tidak pernah menyapa lebih dari sekadar mengangguk.

Bukan karena tidak ramah.

Ia hanya tidak tahu harus bicara apa kepada orang-orang berseragam yang makan di mejanya dengan helm di lutut dan pandangan yang tidak sepenuhnya ada di ruangan.

"Kan, hari ini lo ikut rombongan saya," kata Sersan Eko dari pintu ruang briefing.

Wawan menoleh. "Jam berapa?"

"Sembilan. Sebelum mereka kumpul."

"Berapa rombongan?"

"Empat. Dua saya, dua dari Pos Selatan."

Wawan mengangguk. Ia memasukkan tangannya ke saku seragamnya, mengecek sesuatu yang sudah ia cek tiga kali dari tadi — bukan karena lupa, tapi karena itu kebiasaan yang sudah ada lebih lama dari ia bisa ingat kapan mulainya.

"Demo berapa orang?" tanya Wawan.

Eko mengangkat bahu. "Laporan kemarin bilang dua ratus. Laporan tadi pagi bilang tiga puluh."

"Yang mana yang bener?"

"Entah. Mungkin dua ratus datang, dua ratus tujuh puluh balik sebelum mulai." Eko tersenyum kecil — bukan lucu sungguhan, lebih ke jenis senyum orang yang sudah melihat terlalu banyak hal serupa untuk bisa benar-benar terkejut. "Atau ya memang tiga puluh dari awal. Laporan itu tergantung siapa yang nulis."

"Tuntutannya apa?"

"Transparansi UKT."

"Yang mana?"

"Kampus tengah. Yang sebelah sana."

Wawan menatap jendela yang menghadap ke jalan. Di luar, pagi sedang mengumpulkan kesibukan dengan pelan. Warung mie ayam sudah ramai dari tadi — asap rebusan mengepul, seseorang memesan sesuatu dengan suara yang terdengar tapi tidak jelas kata-katanya.

"Sebelah sana agak jauh," kata Wawan.

"Dua kilo. Jalan kaki dari pos cukup."

"Kita jalan kaki?"

"Mobilnya sedang dipakai tim Barat. Ada kunjungan pejabat."

Wawan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit — gestur yang sudah sering cukup sebagai jawaban di tempat seperti ini.

Mereka berangkat pukul delapan empat puluh, bukan jam sembilan.

Eko yang memutuskan, tanpa penjelasan khusus. Wawan tidak bertanya. Di antara empat orang yang berjalan meninggalkan pos itu — Wawan, Eko, dan dua orang dari Pos Selatan yang namanya Wawan tahu tapi tidak pernah benar-benar hafal karena mereka jarang bertugas bersamaan — tidak ada yang bilang banyak.

Jalannya sudah mulai terik meski masih sebelum pukul sembilan.

Kota ini tidak pernah punya jeda antara pagi yang nyaman dan siang yang membakar. Transisinya selalu tiba-tiba, seolah suhu memutuskan berpindah tanpa pemberitahuan.

Di jalan menuju kampus, mereka melewati deretan warung kecil yang sebagian belum buka penuh, sebagian sudah tutup setelah sarapan, dan sebagian lagi tampak bingung dengan kategori jam apa mereka sekarang.

Di depan sebuah minimarket, seorang ibu sedang memarkirkan motornya. Melihat empat orang berseragam berjalan di trotoar, ia menundukkan kepalanya sedikit — bukan karena takut persis, tapi karena begitulah orang-orang melakukannya. Bukan perlu, bukan terpaksa. Sudah lama jadi otomatis.

Wawan melihatnya.

Lalu tidak melihatnya lagi.

"Lo udah berapa tahun di pos ini?" tanya salah satu dari Pos Selatan — yang lebih pendek, dengan kumis tipis yang sepertinya sedang dalam proses tumbuh tapi belum memutuskan mau ke arah mana.

"Tiga," kata Wawan.

"Sebelumnya?"

"Pos lain."

"Mana?"

Wawan berpikir sebentar. "Beberapa."

Yang bertanya mengangguk. Bukan karena puas dengan jawaban itu, tapi karena mengerti bahwa beberapa kadang berarti tidak perlu dilanjutkan.

"Gue baru setahun," katanya. "Masih adaptasi."

"Adaptasi apa?"

"Ya... ini." Ia menggayunkan tangannya sedikit ke udara — gestur yang tidak terlalu jelas maksudnya tapi Wawan mengerti. "Jalan-jalan gini, nunggu-nunggu, terus balik. Nggak banyak yang terjadi."

"Biasanya memang begitu," kata Wawan.

"Katanya pernah ada yang besar?"

"Kapan?"

"Nggak tahu. Denger-denger aja dari senior."

Wawan tidak langsung menjawab.

"Pernah ada," katanya akhirnya. "Tapi besar kecilnya tergantung dari sudut mana lo lihat."

Kampus tengah itu namanya resminya panjang — ada kata nasional di dalamnya dan ada kata unggulan dan ada nama kota — tapi orang-orang di sekitarnya cukup menyebutnya Kampus Tengah karena memang terletak di tengah.

Pintu utamanya menghadap ke jalan besar. Di kiri dan kanannya ada pohon-pohon yang cukup tua untuk punya lingkar batang yang lebar. Di halaman depan ada papan pengumuman resmi kampus yang kaca penutupnya pecah di bagian sudut kiri tapi tidak pernah diganti, sehingga kertas-kertas pengumuman di dalamnya selalu sedikit basah kalau habis hujan.

Sekarang di depan gerbang itu, sudah ada beberapa orang.

Bukan tiga puluh. Bukan dua ratus.

Mungkin empat puluh. Mungkin lima puluh.

Sulit dihitung karena mereka bergerak — ada yang duduk di taman kecil di depan gerbang, ada yang berdiri dalam kelompok dua-tiga orang, ada yang masih datang dari arah yang berbeda dengan spanduk yang digulung dan belum dibentangkan.

Eko berhenti di tepi jalan, sedikit jauh dari gerbang. Mereka berempat berdiri tanpa terlalu mencolok — cukup terlihat untuk tujuan deterrence, tidak terlalu dekat untuk terlihat mengancam.

"Sambil menunggu tim Selatan kedua," kata Eko.

"Jam berapa mereka tiba?"

"Katanya sembilan."

Sekarang pukul delapan lima puluh tiga.

Wawan menatap kerumunan yang terbentuk pelan-pelan di depan gerbang kampus itu. Di antara mereka, seseorang sedang membentangkan spanduk — kain putih, tulisan biru tua, cukup besar untuk dibaca dari sini kalau anginnya tidak berhembus ke arah yang salah. Wawan membacanya.

TRANSPARANSI UKT SEKARANG.

Itu saja. Lima kata. Tanpa ornamen, tanpa slogan tambahan, tanpa gambar.

Seseorang di sebelahnya — yang satu lagi dari Pos Selatan, yang lebih tinggi dan lebih pendiam — membaca spanduk yang sama tanpa komentar.

"Lima puluh paling," kata Eko, menilai kerumunan. "Mungkin kurang."

"Ada yang dari luar kampus?" tanya Wawan.

"Biasanya ada beberapa. Tapi belum kelihatan."

"Dari mana cara kita tahu?"

Eko menatapnya sebentar. "Lo belum dapat briefingnya?"

"Saya dapat. Tapi singkat."

Eko mengeluarkan ponselnya — bukan ponsel dinas, yang pribadi — membuka sesuatu, lalu memutar layarnya ke arah Wawan.

Di layar: dokumen PDF, formatnya resmi. Judulnya Wawan bisa baca: Laporan Prapengawasan Demo Kampus Tengah — [tanggal].

"Di halaman tiga," kata Eko.

Wawan mengambil ponsel itu. Membuka halaman tiga.

Halaman tiga berisi tabel.

Kolom pertama: nomor.

Kolom kedua: nama.

Kolom ketiga: status — mahasiswa aktif, mahasiswa non-aktif, alumni, eksternal, tidak diketahui.

Kolom keempat: afiliasi — nama-nama organisasi, singkatan-singkatan yang beberapa Wawan kenali dan beberapa tidak.

Kolom kelima: catatan — sebagian kosong, sebagian berisi kalimat pendek seperti riwayat kehadiran demo sebelumnya atau diketahui pendukung kelompok X atau hanya tanda centang tanpa keterangan.

Ada dua puluh tiga baris.

Dua puluh tiga nama.

Wawan mengembalikan ponsel itu ke Eko tanpa berkata apa-apa.

"Dari mana ini?" tanya Wawan.

"Dibagikan tadi pagi dari atas. Siapa yang menyusunnya, nggak ada keterangan."

"Semua nama di situ ada di sini sekarang?"

Eko menatap kerumunan. "Belum tahu. Kita lihat nanti."

Wawan menatap kerumunan itu lagi.

Lima puluh orang, mungkin lebih sekarang. Sebagian membawa spanduk kedua yang baru dibentangkan — tuntutan yang sama, kain yang berbeda, tulisan yang lebih besar. Ada yang membawa kertas HVS bertulisan tangan, ada yang membawa poster kecil dicetak hitam-putih. Seseorang memegang pengeras suara kecil — yang di jalanan biasa disebut TOA — tapi belum dipakai.

Di antara mereka: wajah-wajah yang berbeda-beda.

Ada yang tegang, berdiri dengan postur yang menunjukkan bahwa ini pertama kali mereka melakukan ini dan mereka belum terlalu yakin apakah ini keputusan yang tepat.

Ada yang santai, sudah terlihat seperti ini bukan pertama kali dan belum akan jadi yang terakhir.

Ada yang sibuk dengan ponsel masing-masing — mungkin merekam, mungkin hanya melihat apa yang orang lain katakan tentang ini di media sosial.

Ada yang duduk di tangga dan terlihat lebih seperti menunggu sesuatu yang lebih besar, mungkin sebuah pengumuman, mungkin seseorang yang belum datang.

Wawan mengamati semuanya dengan cara yang sudah lama jadi kebiasaan tanpa ia sadari kapan mulainya: tidak melihat ke satu titik, tidak melihat ke mana-mana. Hanya ada. Mata terbuka, pikiran mencatat, tanpa menghakimi apa yang dicatat.

"Dingin ya ini," kata yang berkumis tipis tadi.

"Maksudnya?"

"Demo-nya. Maksud gue... nggak panas. Orang-orangnya anteng."

"Masih awal," kata Eko.

"Biasanya kalau soal UKT nggak sepanas soal lain," kata Wawan.

"Soal apa yang paling panas?"

Wawan berpikir.

"Tergantung musim," katanya.

Yang bertanya terlihat ingin bertanya lagi tapi tidak jadi. Mungkin karena pertanyaan berikutnya terasa terlalu besar untuk ditanyakan di pinggir jalan pagi-pagi seperti ini.

Tim Pos Selatan kedua datang pukul sembilan lewat delapan menit.

Dua orang. Keduanya sudah kenal Eko rupanya — ada saling angguk yang terasa seperti lebih dari sekadar protokol formal. Salah satunya, perempuan dengan rambut dikepang rapi dan helm yang terlihat lebih baru dari yang lain, langsung minta briefing singkat dari Eko.

Eko menjelaskan dengan suara yang dipelankan — tujuan hari ini, distribusi posisi, kode komunikasi yang akan dipakai.

Wawan berdiri sedikit di luar lingkaran percakapan itu. Ia mengamati kerumunan yang sekarang mulai lebih aktif — seseorang sudah memegang TOA, ada yang bersiap-siap mengatur barisan meski barisan itu belum terlalu jelas akan seperti apa.

"Berapa baris?" tanya perempuan itu kepada Eko, menoleh sebentar ke arah gerbang.

"Satu baris buat sekarang. Kalau mereka maju ke jalan, kita geser ke sini." Eko menunjuk titik yang kurang lebih di antara kerumunan dan jalan besar.

"Sudah ada perintah untuk intervensi?"

"Tidak ada sampai ada instruksi."

"Kalau mereka blokir jalan?"

"Tunggu instruksi dulu."

Perempuan itu mengangguk. "Siap."

"Kenapa demo UKT?" tanya si berkumis tipis, kali ini ke Wawan secara khusus, dengan nada yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya — bukan ingin tahu fakta, tapi lebih seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu dan butuh tempat untuk meletakkan pikirannya.

"Universitas naikkin UKT lagi kemarin," kata Wawan.

"Berapa persen?"

"Nggak tahu tepatnya. Tapi cukup untuk mereka turun ke sini."

"Kenaikan UKT itu... gimana ya. Gue dulu kuliah juga."

"Di mana?"

"Di sini, justru. Kampus Tengah ini." Ia menoleh ke gedung-gedung di balik gerbang. "Tahun berapa ya... dua belas tahun lalu."

"Kenapa masuk sini?" Wawan menganggukkan kepala ke arah seragam yang mereka pakai.

Si berkumis tipis — yang sekarang Wawan tahu namanya Pramono, karena Eko menyebutnya tadi — mengangkat bahu.

"Nggak lolos CPNS jalur lain. Ini yang ada."

"Oh."

"Lo sendiri?"

Wawan menatap gerbang kampus itu.

"Keputusan lama," katanya. "Sudah nggak terlalu ingat prosesnya."

Pramono mengangguk. Ia mengerti jenis jawaban itu — bukan penghindaran, tapi kebenaran yang memang sudah tidak terlalu relevan untuk ditelusuri lebih jauh.

Kerumunan mulai bergerak.

Bukan ke jalan — mereka masih di dalam area halaman kampus. Tapi mulai ada formasi yang lebih terlihat, ada yang membagi posisi, ada yang mulai menyanyikan sesuatu dengan TOA yang volumenya belum penuh.

Wawan mendengarkan.

Bukan lagu — lebih ke yel-yel. Pendek, berulang, dengan nada yang tidak terlalu merdu tapi cukup ritmis untuk diikuti. Isinya tentang tuntutan UKT. Kalimatnya langsung dan tidak banyak metafora.

"Berapa orang sekarang?" tanya Eko.

Wawan menghitung. Atau mencoba menghitung — kerumunan yang bergerak susah dihitung.

Lihat selengkapnya