Namanya ada di halaman terakhir majalah itu.
Bukan di halaman dua belas tempat artikel Heru dicetak. Bukan di halaman utama, bukan di daftar kontributor. Di halaman paling belakang, di kolom kecil yang judulnya Ucapan Terima Kasih — bagian yang hampir tidak ada yang baca karena letaknya setelah semua konten selesai dan sebelum halaman sponsor yang juga tidak ada yang baca.
Di sana, dalam font yang lebih kecil dari font isi artikel, di antara delapan belas nama lain yang disebut sebagai pendiri dan pembimbing awal Perspektif Hukum (2018–2020):
Maulidia Wardani.
Firla menemukan itu Sabtu pagi, dua hari setelah ia dari perpustakaan.
Ia sudah membuka foto halaman belakang majalah itu enam kali sejak pulang — bukan karena tidak bisa membacanya, tapi karena setiap kali ia membacanya ia merasa ada sesuatu yang hampir muncul tapi belum cukup jelas bentuknya.
Pada bacaan ketujuh, ia menyadari nama itu.
Maulidia Wardani. Pendiri dan pembimbing awal. 2018–2020.
Heru masuk Perspektif Hukum sebagai kontributor tahun 2023 atau 2024 — itu yang tertera di artikel April. Artinya Maulidia sudah lama pergi sebelum Heru masuk. Tapi seseorang yang pernah jadi pembimbing awal majalah mahasiswa biasanya masih punya jejaring dengan generasi setelahnya. Dan seseorang yang namanya ada di kolom terima kasih itu artinya cukup penting untuk disebut, bahkan empat tahun setelah ia tidak lagi aktif.
Firla mencari nama itu di internet.
Dan inilah yang tidak ia perkirakan: nama itu sangat mudah ditemukan.
Maulidia Wardani, tiga puluh empat tahun, analis media dan politik. Wajahnya ada di situs tiga stasiun televisi sebagai narasumber tetap. Profilnya ada di tiga media nasional besar sebagai kolumnis. Fotonya di LinkedIn menunjukkan perempuan dengan blazer hitam dan ekspresi yang sudah terlatih untuk terlihat seperti baru selesai memikirkan sesuatu penting.
Spesialisasi: analisis media, komunikasi politik, ekosistem pers Indonesia.
Pendidikan: Hukum dan Komunikasi, Universitas Negeri Mahesvara. Alumni aktivis pers mahasiswa.
Dua puluh empat menit setelah menemukan profilnya, Firla mengirim email ke alamat kontak yang tercantum di situs konsultannya.
Singkat: memperkenalkan diri, menyebut SUDUT, menyebut bahwa mereka sedang mengerjakan artikel panjang tentang tekanan terhadap media independen dan kebebasan pers, dan bertanya apakah Maulidia bersedia diwawancara sebagai narasumber.
Balasan datang Senin siang.
Firla sedang di SUDUT waktu itu, mengerjakan draf lain, ketika notifikasi email itu masuk. Ia buka. Baca sekali. Baca lagi.
Halo Mbak Firla, terima kasih sudah menghubungi. Saya familiar dengan SUDUT — kalian mengerjakan hal-hal yang penting. Untuk wawancara, bisa kita jadwalkan minggu ini? Saya lebih prefer tatap muka untuk diskusi mendalam. Ada waktu Rabu atau Kamis sore?
Salam, MW.
Firla menatap dua inisial itu cukup lama.
MW.
Lalu mengetik balasan bahwa Rabu bisa.
Bagas tidak tahu soal wawancara ini.
Bukan karena Firla menyembunyikannya — lebih karena ketika ia mau memberitahu, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin pergi dulu, mendengar sendiri dulu, sebelum membawa nama itu ke dalam percakapan dengan orang lain. Kalau ia ceritakan ke Bagas sekarang, Bagas akan bertanya kenapa ia menghubungi Maulidia, dan jawaban yang jujur adalah: karena namanya ada di halaman paling belakang majalah yang sama dengan artikel Heru, dan itu mungkin bukan apa-apa, tapi mungkin juga bukan kebetulan.
Alasan itu terlalu tipis untuk diucapkan kepada orang lain.
Tapi cukup kuat untuk tidak bisa diabaikan sendiri.
Kafe tempat Maulidia minta ketemuan bukan di kawasan yang biasa Firla datangi.
Ia tahu kawasannya — kawasan media dan konsultan, gedung-gedung yang fasadnya lebih bersih dari kawasan lain, kafe-kafe yang harga kopinya sudah mencakup konsultasi bisnis yang berlangsung di sekitarnya. Bukan tempat yang tidak bisa Firla masuk, tapi cukup berbeda dari warung Sriwedari atau warteg tanpa nama untuk membuat ia perlu berpikir dua kali soal baju yang dipakai.
Ia pakai kemeja abu-abu yang tidak terlalu kusut. Tasnya yang biasa. Hoodie ditinggal di rumah.
Di motor, di tengah jalan, ia sempat memeriksa ulang email Maulidia — nama kafenya, lantainya, jam-nya — dua kali.
Kafenya di lantai tiga gedung yang lobi bawahnya sudah penuh dengan orang-orang berpakaian rapi yang memegang tas mahal sambil bicara di ponsel. Lift-nya bekerja dengan senyap dan terbuka ke ruang yang baunya seperti kayu mahal dan kopi yang diseduh dengan peralatan yang Firla tidak bisa sebut namanya.
Tempat duduknya setengah booth, setengah meja biasa. Lampunya hangat. Tidak ada televisi. Tidak ada running text.
Firla memilih meja dekat jendela — bukan pojok, karena pojok terasa seperti menyembunyikan diri, dan ia tidak mau terlihat menyembunyikan diri sebelum orang yang ia tunggu bahkan datang.
Ia memesan kopi hitam.
Harganya dua kali lipat dari Sriwedari.
Ia meminumnya pelan.
Maulidia datang pukul empat lewat lima belas.
Bukan terlambat secara formal — masih dalam rentang yang bisa disebut tepat waktu. Tapi ia datang dengan cara seseorang yang tahu bahwa pihak lain sudah ada di sana dan sudah menunggu, dan memilih untuk tidak mengubah langkahnya karena itu.
Firla melihatnya dari jauh sebelum ia mendekat.
Perempuan dengan blazer biru tua — bukan hitam seperti di foto LinkedIn, tapi warna yang cukup dekat sehingga terlihat seperti pilihan yang konsisten. Rambutnya ditata rapi, tidak berlebihan. Tasnya bahu, kulit coklat. Caranya berjalan seperti seseorang yang sudah terbiasa memasuki ruangan dan membaca siapa yang ada di dalamnya sebelum ia bahkan duduk.
Matanya menemukan Firla dari dekat pintu.
Ia tersenyum — senyum profesional yang bisa terlihat tulus kalau kamu tidak memperhatikannya terlalu lama.
"Mbak Firla?"
"Iya. Makasih sudah mau datang."
"Tentu." Maulidia duduk dengan gerakan yang tidak membuang waktu. Ia meletakkan tasnya di kursi di sebelahnya — bukan di lantai. "Saya sudah lama tertarik daengan pekerjaan SUDUT. Kalian konsisten."
"Terima kasih."
"Bukan pujian yang mudah di sini. Banyak yang mulai konsisten, tapi bertahan konsisten itu urusan lain."
Cara ia berbicara terasa sudah dikalibrasi — tidak terlalu hangat sampai terasa palsu, tidak terlalu formal sampai terasa tertutup. Firla mencatat itu tanpa menunjukkan bahwa ia mencatat.
Pelayan datang. Maulidia memesan teh — jenis yang namanya panjang dan Firla tidak hafal — tanpa membuka menu.
"Jadi," kata Maulidia setelah pelayan pergi, "artikel tentang tekanan terhadap media independen. Sudut pandangnya dari mana?"
"Dari pola yang kami lihat beberapa bulan terakhir," kata Firla. "Narasumber yang mundur. Artikel yang tidak jadi terbit. Ada yang lebih sistematis dari sekadar self-censorship biasa."
Maulidia mengangguk. "Fenomena itu sudah lama. Tapi kalian mau fokus ke dimensi yang mana — struktural, kultural, atau kasusnya per kasus?"
"Struktural dulu. Lalu coba hubungkan ke yang konkret."
"Bijak." Ia meletakkan tangannya di atas meja — tangan kiri, cincin tidak ada. "Kalau boleh saya tanya dulu sebelum mulai — artikel ini akan ditargetkan ke pembaca mana? Karena framing-nya beda kalau untuk akademisi dan untuk publik umum."
"Publik umum. Tapi publik yang sudah melek isu, bukan yang butuh penjelasan dasar."
"Oke. Jadi bisa masuk ke yang lebih dalam."
"Iya."
Maulidia minum tehnya — cepat, satu tegukan kecil untuk mengecek suhu. "Mulai dari mana yang paling nyaman untuk Mbak Firla?"
Dua puluh menit pertama berjalan seperti wawancara yang normal.
Maulidia berbicara dengan lancar dan terstruktur — menjelaskan mekanisme tekanan terhadap media independen dengan cara seseorang yang sudah menjelaskan hal yang sama berulang kali dan sudah menemukan urutan yang paling efisien. Bukan monoton. Tapi terasa seperti versi yang sudah dipoles.
Firla mencatat. Mengajukan pertanyaan lanjutan. Mendengarkan jawaban.
Sebagian besar isinya berguna untuk artikel tentang tekanan media — artikel yang memang ada niat Firla untuk tulis, bukan hanya kedok. Tapi bukan karena itu ia datang ke sini.
"Kasus konkretnya," kata Firla setelah Maulidia selesai menjelaskan satu mekanisme, "sering tidak masuk ke dalam analisis besar karena terlalu kecil untuk terlihat sistematis. Tapi kalau dikumpulkan—"
"Baru kelihatan polanya," kata Maulidia. "Iya. Itu memang masalahnya. Satu kasus terlihat insiden. Sepuluh kasus mulai terlihat tren. Tapi untuk mengumpulkan sepuluh kasus yang bisa diverifikasi, butuh sumber daya yang kebanyakan media kecil tidak punya."
"SUDUT sedang mencoba," kata Firla.
"Saya tahu." Mata Maulidia tidak bergerak dari Firla. "Artikel buruh konveksi bulan lalu bagus. Tapi datanya tipis karena narasumbernya tidak mau disebut."
Firla berhenti sebentar. Bukan karena terkejut — ia sudah bersiap bahwa Maulidia mungkin sudah membaca tulisan SUDUT. Tapi ada yang berbeda dari cara ia menyebut artikel itu. Bukan saya baca artikel SUDUT tentang buruh. Tapi langsung ke kekurangan spesifiknya.
"Narasumber memang tidak mau," kata Firla. "Bisa dimengerti."
"Bisa dimengerti tapi membatasi dampak," kata Maulidia. Nada suaranya tidak menghakimi — lebih ke kolega yang mengomentari pekerjaan rekan. "Itu trade-off yang hampir semua jurnalis di sini yang harus hadapi. Seberapa jauh kamu bisa pergi kalau yang kamu lindungi justru tidak bisa bicara?"
"Pertanyaan yang belum ada jawaban bagusnya."
"Tidak ada. Tapi bagusnya kamu masih bertanya."
Firla minum kopinya.
Di luar jendela, gedung-gedung kawasan media berdiri dengan cara gedung-gedung seperti ini berdiri — tegak, kaca, tidak banyak catatan waktu di dindingnya. Di bawah, di jalan, orang-orang berjalan dengan langkah yang berbeda dari jalan di dekat rumah Firla. Lebih cepat. Lebih tujuan.
"Saya mau tanya sesuatu yang agak di luar topik utama," kata Firla. "Kalau tidak relevan, bisa diskip."
Maulidia menatapnya. "Silakan."
"Mbak pernah terlibat dengan pers mahasiswa?"
"Pernah. Waktu kuliah. Kenapa?"
"Perspektif Hukum — majalah mahasiswa dari Kampus Tengah. Mbak pernah dengar?"
Jeda.
Bukan jeda yang panjang — mungkin satu detik, mungkin dua. Tapi ada jeda.
"Nama itu familiar," kata Maulidia. "Itu majalah yang—" Ia berhenti sebentar. "Itu majalah yang awalnya fokus ke isu hukum adat, kalau saya tidak salah ingat."
"Iya." Firla mengangguk. "Majalah itu punya kolom ucapan terima kasih di edisi-edisi awal. Nama Mbak ada di sana. Sebagai pendiri dan pembimbing."
Maulidia menatapnya.
Kali ini tidak ada jeda. Hanya mata yang tidak berkedip selama dua detik, lalu tersenyum tipis.
"Kamu melakukan riset," kata Maulidia.
"Iya."
"Kenapa Perspektif Hukum yang kamu cari?"