Tiga hari setelah bertemu Maulidia, Firla menemukan bahwa delapan dari dua belas link yang ia simpan di folder bookmark-nya sudah mati.
Bukan error server. Bukan koneksi bermasalah. Mati dalam arti paling literal: halaman tidak ditemukan, domain tidak aktif, atau — yang paling sering — redirect ke halaman utama situs yang bersangkutan tanpa penjelasan kenapa artikel spesifik yang dituju tidak bisa diakses lagi.
Ia menemukan itu Selasa pagi, dari kamarnya, sebelum mandi, masih dengan kaos tidur dan rambut yang belum disisir. Ia membuka laptop seperti biasa, folder bookmark terbuka seperti biasa, dan ia klik satu per satu seperti biasa.
Klik. 404.
Klik. Redirect.
Klik. Domain expired.
Klik. Halaman dimuat, tapi artikel yang seharusnya ada diganti dengan tulisan: Artikel ini telah dihapus oleh penulis.
Firla berhenti di link kelima.
Menatap layarnya.
Lalu mulai membuka yang lain, lebih cepat dari biasanya.
Delapan dari dua belas.
Dua yang tersisa masih ada tapi sudah berbeda dari terakhir kali ia buka — satu artikel yang dulu punya empat paragraf sekarang hanya punya dua, potongan yang hilang ada di bagian yang membahas nama-nama sumber. Satu lagi masih utuh tapi komentar-komentarnya sudah hilang semua, hanya tinggal tulisan kecil di bawah artikel: Kolom komentar ditutup.
Yang dua belas terakhir adalah tautan ke arsip web — layanan yang menyimpan snapshot halaman lama. Itu masih ada. Tapi ketika ia klik artikel pertama yang sudah 404 tadi untuk melihat versi arsipnya, yang muncul bukan halaman. Yang muncul adalah pesan:
Halaman ini tidak tersedia dalam arsip kami atas permintaan pemilik konten.
Permintaan pemilik konten.
Firla membaca kalimat itu dua kali.
Ia mandi dengan cepat. Sarapan tidak — hanya minum air dari gelas yang masih ada di meja dari semalam. Ibunya sudah keluar entah ke mana, pintu kamarnya terbuka dan ruang tengah sepi.
Motor menyala dalam satu kick.
Di SUDUT, pukul delapan lebih sepuluh, Bagas belum ada. Rini ada — ia biasanya datang paling pagi kalau ada yang perlu diedit dan malam sebelumnya tidak selesai. Sekarang ia duduk dengan kacamata baca yang baru dibelinya minggu lalu dan secangkir kopi dari warung ujung jalan yang masih mengepul.
"Kok pagi?" kata Rini tanpa menoleh.
"Mau cek sesuatu."
"Sarapan?"
"Nanti."
Rini melirik sebentar. Cara melirik seseorang yang mau bilang sesuatu tapi memutuskan tidak perlu. Lalu kembali ke layarnya.
Firla membuka laptopnya.
Membuka spreadsheet. Tiga belas baris. Delapan kolom. Empat sticky note di sisi monitor.
Lalu ia membuka folder bookmark dan mulai mengecek satu per satu dari awal — bukan hanya delapan yang tadi, tapi semua. Dua puluh tiga link. Beberapa untuk sumber primer, beberapa untuk referensi, beberapa untuk hal-hal yang belum ia tahu akan jadi apa tapi disimpan karena terasa penting.
Ia catat hasilnya di dokumen terpisah. Bukan di spreadsheet — dokumen baru, kosong, judulnya hanya tanggal hari ini.
Hasil akhir: sebelas dari dua puluh tiga sudah tidak bisa diakses. Empat lagi berubah dari terakhir kali ia buka — konten dikurangi, komentar dihapus, metadata diubah. Delapan masih utuh.
Delapan dari dua puluh tiga yang masih utuh. Sepertiga lebih sedikit.
"Rini."
"Hm."
"Lo pernah punya pengalaman di mana artikel yang lo simpan tiba-tiba hilang?"
Rini mengangkat kepala dari layarnya. "Hilang gimana? Di mana lo simpannya?"
"Bookmark. Artikel-artikel yang lo pakai untuk referensi. Tiba-tiba 404 atau dihapus."
"Sesekali." Rini memutar kursinya sedikit ke arah Firla. "Biasanya karena situs-nya tutup, atau medianya bangkrut, atau penulis yang hapus sendiri."
"Kalau sebelas dari dua puluh tiga dalam satu malam?"
Rini tidak langsung menjawab.
"Berapa?"
"Sebelas. Dari semalam sampai pagi ini."
Rini melepas kacamata bacanya. Meletakkannya di meja. "Itu beda."
"Iya."
"Topiknya apa?"
Firla menatap layarnya. "Yang hilang semuanya tentang hal yang sama."
Rini menunggu.
"Aktivis hilang. Dokumen tambang. NaramBeya. Heru Anggara."
Rini diam cukup lama.
Bukan diam yang tidak bisa merespons — lebih ke diam seseorang yang sedang menempatkan informasi itu di dalam konteks yang sudah ada, mengukur bobotnya, memutuskan seberapa berat itu seharusnya terasa.
"Lo yakin itu bukan kebetulan?" katanya akhirnya. "Bisa saja beberapa situs itu memang sudah mau tutup, dan lo baru notice sekarang karena lo cek serentak."
"Mungkin."
"Tapi?"
"Tapi ada satu yang bukan situs kecil." Firla menggeser layarnya ke arah Rini — dokumen catatannya. Di baris ketujuh, nama sebuah platform arsip berita yang Rini kenal: bukan media kecil, bukan blog pribadi. Platform besar, masih aktif, dengan track record menyimpan artikel-artikel yang dihapus dari tempat lain justru karena itu tugasnya. "Ini biasanya menyimpan yang lain. Bukan yang dihapus."
Rini membaca nama itu.
"Artikel yang dari sana judulnya apa?"
"'Daftar Kematian yang Tidak Diinvestigasi: Aktivis Bhantara 2024–2025'. Diunggah tiga bulan lalu. Sudah punya dua ribu delapan ratus pembaca waktu terakhir gue cek."
"Sekarang?"
"404."
Rini meletakkan cangkir kopinya.
"Dan platformnya tidak punya backup kebijakan?"
"Punya. Gue coba akses backupnya. Ada tulisan: 'konten ini dihapus atas permintaan hukum yang sah dari pihak berwenang.'"
"Pihak berwenang."
"Pihak berwenang."
Bagas masuk pukul sembilan kurang lima.
Dari cara ia membuka pintu — lebih lambat dari biasanya, berhenti sebentar sebelum masuk — Firla bisa melihat bahwa ia sudah membaca sesuatu di jalan atau di parkiran. Orang yang membuka pintu dengan cara seperti itu biasanya sedang memproses sesuatu yang baru mereka baca.
"Kalian sudah lihat?" katanya.
"Lihat apa?" tanya Rini.
Bagas menaruh tasnya. Duduk. Membuka laptop dengan gerakan yang lebih cepat dari rutinnya. "Tadi pagi ada laporan dari JPPI — Jaringan Pers Independen. Enam belas platform dan media online menerima notice takedown dari lembaga yang mengatasnamakan Badan Komunikasi Nasional. Kontennya: artikel-artikel tentang kasus aktivis 2024 dan 2025."
Rini dan Firla bertukar pandang.
"Enam belas," kata Firla.
"Enam belas. Sebagian sudah comply. Sebagian menolak tapi situsnya sekarang loading lambat — kayak di-throttle."
"Di-throttle dari mana?"
"Belum jelas. Bisa dari ISP. Bisa dari server DNS. Bisa dari keduanya." Bagas menggeser layarnya — di sana ada screencap dari laporan JPPI, teks panjang dengan nama-nama platform yang terdampak. "SUDUT tidak ada di daftar ini. Tapi beberapa yang ada di daftar itu adalah tempat-tempat yang artikel kita pernah disitasi."
Firla membuka dokumen catatannya lagi.
Membandingkan nama-nama yang ada di sana dengan daftar yang Bagas tunjukkan.
Empat nama cocok.
"Berapa dari link lo yang hilang?" tanya Bagas.
"Sebelas dari dua puluh tiga."
"Semuanya tentang?"
"Aktivis. Tambang. NaramBeya. Heru."
Bagas mengangguk pelan — anggukan orang yang sedang mengkonfirmasi sesuatu yang sudah ia perkirakan tapi tidak berharap benar.
"Berarti bukan hanya SUDUT yang melihat ini," katanya.
"Tapi kita tidak ada di daftar mereka," kata Rini.
"Belum."
Kata itu menggantung di udara.
Belum.
Rini meletakkan kacamata bacanya ke atas kepala — kebiasaan yang ia lakukan ketika sedang berpikir dengan serius. "Kalau mereka mau takedown artikel kita, mereka bisa. Kita kecil. Tidak ada backup hukum yang kuat. Satu notice saja sudah cukup."
"Tapi belum dilakukan," kata Firla.
"Karena belum kena radar," kata Bagas. "Atau karena ada yang lebih penting untuk dikerjakan dulu."
Atau, pikir Firla, karena ada cara lain yang lebih tidak terlihat.
Ia tidak mengucapkan itu. Tapi ia mencatatnya.
Pukul sepuluh, Rini keluar untuk meeting dengan narasumber di luar.
Bagas dan Firla tinggal di SUDUT. Suara keyboard keduanya mengisi ruangan dengan ritme yang tidak selaras — Bagas lebih cepat, lebih teratur, seperti orang yang sudah tahu mau menulis apa. Firla lebih pelan, lebih banyak berhenti.
"Fir," kata Bagas tanpa menoleh dari layarnya.
"Apa."
"Setelah ketemu Maulidia kemarin — lo cerita dia hati-hati sekali."
"Iya."
"Lo pikir dia tahu soal ini?"
Firla berhenti mengetik. "Ini yang mana — penghapusan, atau Heru?"
"Keduanya. Atau salah satunya."
Firla menatap layarnya sendiri. Foto grup dari majalah mahasiswa masih terbuka di tab yang lain — enam orang, satu bayangan orang ketujuh di latar belakang yang hampir di luar frame.
"Mungkin," kata Firla. "Tapi kalau dia tahu, kenapa dia mau ketemuan sama gue?"
"Pertanyaan yang sama bisa ditanya dari sudut lain," kata Bagas. "Kenapa dia mau ketemuan sama lo justru karena dia tahu?"
Firla menatap punggung Bagas. Laki-laki itu tidak menoleh — matanya masih ke layar, tangannya masih di keyboard. Tapi cara punggungnya agak lebih tegang dari tadi.
"Lo curiga sama dia?" tanya Firla.
"Gue tidak cukup tahu soal dia untuk curiga. Tapi gue juga tidak cukup tahu untuk tidak curiga."
"Bedanya apa?"
Bagas berhenti mengetik. Memutar kursinya pelan-pelan. "Kalau gue curiga, gue akan minta lo menghentikan kontak. Kalau gue tidak cukup tahu — gue minta lo hati-hati tapi tidak berhenti."
"Jadi lo minta lo hati-hati."
"Gue minta lo hati-hati."
Siang itu Firla tidak keluar.
Ia makan dari nasi bungkus yang Bagas beli — tidak ada yang pesan, Bagas hanya kembali dengan dua bungkus seperti biasa, seperti sudah menjadi prosedur yang tidak pernah dibicarakan. Firla makan di mejanya. Bagas di mejanya.
Di antara makan itu, Firla melanjutkan apa yang sudah ia mulai pagi tadi: memetakan apa yang masih ada dan apa yang sudah hilang.
Bukan hanya dari link-nya sendiri. Ia membuka kembali semua platform yang pernah ia kunjungi dalam dua bulan terakhir dan mengecek satu per satu apakah konten yang ia ingat masih ada atau tidak.
Hasilnya lebih sistematis dari yang ia bayangkan.
Ada pola dalam penghapusan itu.
Bukan semua tentang aktivis dihapus. Artikel tentang demonstrasi besar, artikel tentang pernyataan resmi LSM, artikel tentang dosen yang berkomentar soal kebijakan — itu masih ada. Yang hilang lebih spesifik dari itu.
Yang hilang: artikel yang menyebut nama tertentu. Artikel yang memuat data lapangan, bukan pernyataan resmi. Artikel yang menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain — terutama yang menghubungkan kasus-kasus di NaramBeya, Vardhana, dan perbatasan wilayah tambang.
Dan artikel yang menyebut Protokol Clearance Wilayah Perbatasan Sektor 7.
Firla mencari nama itu lagi sekarang, dengan kata kunci berbeda.
Tidak ada hasil.
Seminggu yang lalu ada satu blog. Sekarang tidak ada.
Ia mencoba Google Cache untuk blog itu.
Halaman ini tidak tersedia.
Ia mencoba layanan arsip web.
Konten ini dihapus atas permintaan hukum yang sah dari pihak berwenang.