Manggala

Nguyen Rakai Pikatan
Chapter #13

Malgan

Ibunya sedang menyeduh teh ketika Firla keluar dari kamar dengan tas yang sudah dikemas.

Bukan koper. Tas ransel kecil yang biasa ia pakai ke mana-mana — yang sudutnya sudah sedikit lusuh karena terlalu sering dilempar ke bagasi motor — dengan isi yang ia pertimbangkan cukup lama semalam sebelum tidur: pakaian dua hari, laptop, charger, power bank, satu buku catatan kosong, dan folder tipis berisi printout beberapa hal yang ia anggap penting untuk dibawa dalam bentuk fisik.

"Pergi ke mana?" kata ibunya tanpa menoleh dari kompor.

"Luar kota. Ada yang mau gue wawancara."

"Berapa hari?"

"Dua. Mungkin tiga."

Ibunya menuang air panas ke cangkir. Pelan, konsentrasi, seperti menuang air panas itu adalah hal yang memerlukan perhatian penuh.

"Naik apa?"

"Motor sampai terminal. Dari sana ada travel."

Ibunya mengangguk. Tidak bertanya lebih. Tidak bertanya ke mana. Tidak bertanya untuk apa.

Firla meletakkan ranselnya di kursi, mengambil gelas air minum yang ada di meja, meminumnya habis.

"Nanti makan di jalan," kata ibunya. Bukan pertanyaan. "Jangan skip."

"Iya."

"HP-nya di-charge dulu sebelum berangkat."

"Sudah."

Ibunya akhirnya menoleh. Menatap Firla sebentar — bukan lama, tidak dramatis — dengan ekspresi yang Firla sudah hafal sejak bertahun-tahun: bukan khawatir yang diperlihatkan, tapi sesuatu yang ada di balik tidak memperlihatkannya.

"Hati-hati," kata ibunya.

"Iya."

Dua kata. Cukup untuk keduanya.

Di luar, langit masih abu-abu belum memutih sepenuhnya.

Firla memasang ransel, mengikat helm, menyalakan motor. Mesin bunyi satu kali melambat sebelum stabil — kebiasaan lama dari mesin yang tidak suka pagi. Ia tunggu sebentar seperti biasa. Tangan di stang, mata ke depan, pikiran di tempat yang bukan di gang sempit ini.

Bagas sudah kirim nama itu dua hari lalu.

Pak Jatmiko. Guru SD pensiun. Tinggal di RT 4 Malgan. Lo bisa tanya siapapun di sana, semua kenal dia. Gue bilang lo jurnalis dari Mahesvara yang nulis soal pembangunan di daerah. Jangan sebut Heru duluan. Biarkan dia yang buka.

Satu pesan lagi setelahnya:

Dan nomor anonim itu — gue coba lacak, tidak bisa. Nomornya sudah tidak aktif. Tapi Fir: kalau di sana ada yang terasa aneh, langsung kabari. Jangan tunggu sampai yakin.

Firla menyimpan pesan itu dan berangkat.

Jalan dari Mahesvara ke arah selatan berbeda dari yang ia lewati sehari-hari.

Bukan buruk — berbeda. Lebih lebar di beberapa ruas, lebih sempit di tempat lain. Ada titik di mana jalan yang tadinya dua lajur menjadi satu setengah karena trotoar yang sudah meluap jadi pedagang kaki lima dan parkir liar. Ada juga ruas yang tiba-tiba mulus dan bersih karena baru diperbaiki — dan di ujung perbaikan itu ada papan nama proyek dengan logo pemerintah daerah dan tanggal pengerjaan.

Firla tidak terlalu memperhatikan papan itu.

Tapi ia memperhatikan bagaimana perbaikan itu berhenti tepat di titik di mana batas kabupaten berganti.

Terminal kecil di selatan kota. Bukan terminal besar — lebih ke tempat orang berkumpul sebelum naik travel atau angkot antarkota. Ada warung kecil di sudut yang jual nasi uduk dan teh manis. Firla membeli keduanya, makan di bangku plastik sambil menunggu travel yang berangkat pukul tujuh.

Tiga orang lain naik travel yang sama.

Seorang ibu paruh baya dengan dua tas belanjaan yang tidak muat di bawah kursi dan akhirnya dipegang di pangkuan. Seorang bapak dengan topi yang langsung tidur begitu travel jalan. Seorang laki-laki muda — mungkin dua puluh satu atau dua dua tahun — dengan earphone yang talinya sudah kusut dan buku catatan di tangan yang terlihat lebih untuk menutupi layar HP daripada untuk ditulis.

Mereka tidak saling bicara. Travel jalan dengan suara mesin yang sedikit berisik dan lagu dangdut dari radio yang volumenya dikecilkan tapi tidak dimatikan.

Dua jam perjalanan ke persimpangan terakhir.

Dari persimpangan itu, masih ada dua puluh kilometer lagi ke Malgan. Travel tidak masuk ke sana — rutenya tidak sampai. Firla turun di sebuah minimarket yang jadi penanda orang-orang yang mau naik ojol lokal ke dalam.

Tiga ojol berdiri di depan minimarket. Yang paling depan langsung menawari.

"Ke mana, Mbak?"

"Malgan."

Ojol itu sedikit mengangkat alisnya — bukan terkejut, lebih ke ekspresi seseorang yang mendengar tujuan yang tidak sering disebut. "Malgan yang dalam?"

"Iya."

"Jalannya kasar, Mbak. Motor bisa, tapi pelan-pelan."

"Berapa?"

Mereka negosiasi harga sebentar. Tidak lama — Firla tidak pandai menawar dan ojol itu terlihat sudah punya angka yang wajar dari awal. Mereka sepakat.

"Pernah ke sana sebelumnya?" tanya ojol itu saat mereka jalan.

"Belum."

"Ada keperluan apa?"

"Liputan."

"Wartawan?"

"Semacam itu."

Ojol itu mengangguk, tidak bertanya lagi. Cara orang yang sudah terbiasa mengantarkan macam-macam orang ke macam-macam tempat tanpa perlu tahu semua alasannya.

Dua puluh kilometer itu tidak semuanya mulus.

Lima kilometer pertama masih aspal. Lima kilometer berikutnya aspal yang sudah mulai retak di pinggirannya, ditambal di beberapa titik dengan campuran yang warnanya berbeda dari aspal aslinya. Lima kilometer berikutnya, jalanan berganti jadi paving block yang tidak rata — ada bagian yang masih bagus, ada yang sudah terangkat karena akar pohon di bawahnya. Dan lima kilometer terakhir: tanah keras yang kering di musim ini, dengan cerukan di sisi jalan tempat air mengalir kalau hujan.

Ojol mengendarai motornya dengan cara seseorang yang sudah hafal di mana cerukannya, di mana batu yang perlu dihindari, di mana jalan sedikit lebih lebar untuk berpapasan.

Firla memegang ranselnya di depan, bukan di punggung.

Di kanan kiri jalan, pemandangan berganti pelan. Pertama: kebun campuran, tanaman yang tidak rapi tapi hidup. Rumah-rumah dengan jarak yang semakin berjauhan. Lalu semakin ke dalam, pohon-pohon yang lebih besar, lebih lama. Tanah yang warnanya lebih merah dari tanah di pinggiran Mahesvara.

Tidak ada billboard. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada kios pulsa.

Hanya jalan, pohon, dan langit yang terasa lebih besar dari biasanya karena tidak ada gedung yang membingkainya.

Malgan bukan desa yang salah.

Firla sudah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih kecil — tapi yang ia temukan bukan kampung mati. Ada kehidupan di sini. Ada anak-anak yang berlari di depan rumah yang pagar bambunya masih baru. Ada warung dengan plastik merah yang diisi minuman. Ada suara radio dari dalam rumah yang jendelanya terbuka. Ada ibu-ibu yang menjemur pakaian dengan cara seseorang yang sudah melakukannya ribuan kali dan tahu persis sudut tali jemurannya.

Yang berbeda dari Mahesvara bukan ketiadaan kehidupan.

Yang berbeda adalah kecepatannya.

Di sini semuanya bergerak satu tingkat lebih lambat. Bukan malas. Lebih seperti kecepatan yang menyesuaikan diri dengan jenis waktu yang berbeda — waktu yang tidak diukur oleh deadline dan klakson dan notifikasi.

Ojol berhenti di depan sebuah warung dengan papan nama yang tidak ada tulisannya — hanya cat hijau yang sudah memudar.

"Ini pusatnya, Mbak. Kalau mau cari siapapun di Malgan, tanya di sini dulu."

"Pak Jatmiko di sini?"

Ojol itu sebentar terlihat berbeda — bukan kaget, tapi agak lebih menatap Firla dari yang tadi. "Kenal Pak Jatmiko?"

"Ada yang kasih kontak beliau."

"Oh." Ia mengangguk. "Rumahnya di belakang sana. Tapi beliau biasanya pagi-pagi ke sini dulu. Ngopi."

Di dalam warung itu: tiga meja kayu, enam kursi plastik, satu kipas angin dinding yang berputar pelan, dan satu TV kecil di sudut yang tidak menyala. Di balik meja kasir yang juga berfungsi sebagai dapur kecil, seorang perempuan paruh baya sedang menggoreng sesuatu. Minyaknya berbunyi, aromanya seperti pisang.

Dua meja sudah ada penghuninya.

Di meja pertama: dua bapak yang sedang main domino dengan konsentrasi yang tidak sepenuhnya pada permainan karena mereka lebih banyak ngobrol.

Di meja kedua: seorang laki-laki tua — Firla perkirakan usianya pertengahan enam puluhan — duduk sendiri dengan gelas kopi yang masih mengepul sedikit dan sebuah koran lokal yang dilipat setengah. Ia membaca dengan posisi yang terlihat sudah sangat familiar: siku di meja, kepala sedikit miring ke kiri, kacamata yang agak terlalu besar untuk wajahnya.

Firla mendekati mejanya.

"Pak Jatmiko?"

Laki-laki itu menurunkan korannya. Menatap Firla di atas kacamatanya — bukan curiga, lebih seperti seseorang yang sedang mengkalibrasi siapa yang ada di depannya.

"Iya," katanya. "Lo yang dari Mahesvara?"

"Iya, Pak. Firla. Temannya Bagas."

"Bagas yang kemarin telepon." Bukan pertanyaan. "Duduk."

Firla duduk di kursi seberang Pak Jatmiko.

Pemilik warung datang tanpa ditanya, meletakkan segelas teh di depan Firla. "Dari jauh, Mbak?"

"Dari Mahesvara."

"Wah, jauh. Mau pesan apa?"

"Nasi goreng kalau ada, Bu."

"Ada. Sebentar."

Perempuan itu kembali ke dapurnya. Suara minyak berbunyi lagi, kali ini beda ritmenya.

Pak Jatmiko menutup korannya. Meletakkannya di sisi meja dengan cara yang teratur — bukan dibuang, tapi dilipat rapi. "Bagas bilang lo nulis tentang pembangunan di daerah."

"Iya, Pak. Tentang kondisi daerah-daerah yang pembangunannya belum merata."

"Malgan masuk ke sana?"

"Ada beberapa hal yang menarik dari sini."

Pak Jatmiko mengangguk pelan. Cara mengangguknya orang yang sudah mendengar kalimat seperti itu beberapa kali dan tahu bahwa kalimat seperti itu biasanya lebih complicated dari yang terdengar. Tapi ia tidak mengejar lebih jauh.

"Sudah lama ke sini terakhir ada yang datang dari media," katanya. "Beberapa tahun lalu ada yang nulis soal kasus tanah. Setelah itu nggak ada lagi."

"Kasusnya selesai?"

"Kasusnya dipendam," katanya. "Beda."

Nasi gorengnya datang setelah sepuluh menit.

Firla makan. Pak Jatmiko melanjutkan kopinya. Mereka tidak buru-buru. Di meja sebelah, dua bapak masih main domino dengan komentar yang sesekali keras dan direspons tawa oleh yang lain.

Dari luar warung, suara motor yang lewat. Satu. Kemudian sepi lagi.

"Pak," kata Firla setelah nasinya hampir habis, "boleh saya tanya soal warga sini?"

"Boleh. Tanya apa?"

"Ada yang pernah dari sini kuliah ke Mahesvara? Dari generasi yang lebih muda."

Pak Jatmiko menatapnya. "Ada beberapa. Kenapa?"

"Saya coba petakan mobilitas penduduk. Siapa yang pergi, siapa yang balik, apa yang berubah setelah mereka balik."

"Itu pertanyaan yang bagus." Pak Jatmiko meletakkan cangkir kopinya. "Salah satunya murid saya. Nama aslinya Heru. Di sini panggilannya Ero. Pergi ke Mahesvara, nggak balik."

Firla tidak mengangkat kepala dari piringnya.

Lihat selengkapnya