Manggala

Nguyen Rakai Pikatan
Chapter #14

Fairus dan Rossa

Pintu itu dibuka oleh seorang perempuan.

Tidak langsung lebar — sedikit dulu, selebar yang cukup untuk melihat tanpa sepenuhnya mempersilakan masuk. Cara orang yang sudah lama terbiasa menilai tamu di depan pintu sebelum memutuskan apa yang akan dilakukannya dengan kedatangan tamu itu.

Perempuan itu usianya mungkin pertengahan lima puluhan. Rambutnya sudah banyak putih di bagian depan, diikat ke belakang dengan cara yang tidak rapi tapi juga tidak acak-acakan. Ia memakai daster bermotif bunga kecil-kecil dan celemek dapur yang belum dilepas, seperti baru saja dari dapur dan belum sempat menyiapkan diri untuk ada tamu.

Matanya menatap Firla. Langsung. Tidak basa-basi.

Di matanya ada sesuatu yang bukan tidak ramah tapi juga bukan terbuka — sesuatu yang Firla sudah mengenali sejak warung Pak Jatmiko kemarin, sejak percakapan dengan Bu Wening semalam, sejak apa yang Pak Sutarno katakan dengan nada datar tentang kendaraan yang sudah beberapa bulan kadang berhenti di depan sini tanpa alasan: kehati-hatian yang sudah menjadi lapisan kedua dari cara seseorang menghadap dunia.

"Ya?"

"Permisi, Bu. Maaf mengganggu pagi-pagi." Firla bicara pelan, tidak tergesa-gesa. "Nama saya Firla. Saya jurnalis dari Mahesvara. Saya datang karena—"

"Tentang Ero."

Dua kata. Bukan pertanyaan.

Firla berhenti.

"Iya, Bu."

Perempuan itu — ini Rossa, Firla yakin — memandangnya beberapa detik lagi. Matanya bergerak sedikit, menilai. Lalu pintu itu dibuka lebih lebar.

"Masuk."

Di dalam rumah itu, ada sesuatu yang membuat Firla memperlambat langkahnya tanpa disadari.

Bukan gelap — cukup cahaya masuk dari jendela kecil di sisi kanan. Bukan bau atau kesan fisik apapun yang tidak biasa. Lebih seperti ruangan yang sudah lama menyimpan sesuatu yang berat dan tidak tahu cara menaruhnya ke mana selain terus disimpan.

Ruang tamunya sederhana. Satu sofa bahan kain yang warnanya sudah agak pudar di bagian sandaran tangannya. Satu meja kayu pendek. Dua kursi plastik. Dan di dinding sebelah kanan — itulah yang pertama Firla perhatikan — beberapa foto dalam bingkai yang berbeda-beda ukurannya, seperti dikumpulkan dari berbagai waktu dan dipasang bukan karena dekorasi tapi karena tidak ada tempat lain yang lebih tepat.

Foto keluarga hari raya. Anak-anak kecil. Orang-orang yang Firla tidak kenal.

Dan di satu sudut, bingkainya paling baru di antara yang lain — warnanya belum memudar seperti yang di sebelahnya — ada foto yang Firla kenali meskipun belum pernah melihatnya sebelumnya: seorang laki-laki muda dengan kacamata yang sama dengan di foto diskusi forum, tapi senyumnya berbeda. Lebih lebar. Lebih tidak dijaga. Senyum yang hanya muncul saat seseorang tidak sedang memikirkan bagaimana cara tersenyumnya.

Di sebelahnya, dua perempuan yang dari cara berdirinya terlihat jelas itu kakak-kakaknya.

"Itu lebaran 2023," kata Rossa dari belakangnya, pelan. "Yang terakhir kali semuanya lengkap."

"Duduk."

Firla duduk di kursi plastik. Rossa pergi ke dapur — suara gelas, suara sendok, bunyi air yang dituang. Firla menunggu dalam ruangan yang sunyi.

Di meja kayu ada sebuah Al-Quran kecil dengan sampul yang sudah aus di pinggirannya. Di sebelahnya, satu gelas kosong yang belum diangkat. Sesuatu tentang kedua benda itu — satu yang dirawat meski sudah tua, satu yang ditinggalkan meski sudah selesai dipakai — terasa seperti gambaran dari hal-hal lain yang ada di dalam rumah ini.

Dari arah pintu di sisi kiri yang setengah terbuka, ada suara langkah pelan. Seorang laki-laki masuk.

Fairus tidak setinggi yang Firla bayangkan.

Pendek dan kurus, dengan tangan yang dari kulitnya langsung terlihat sudah bertahun-tahun kerja luar. Rambutnya sudah lebih putih dari hitam, dipotong pendek. Di matanya ada sesuatu yang sama dengan Rossa tapi versi berbeda — bukan kehati-hatian yang menilai, lebih ke kesadaran diam yang sudah lama tinggal di sana dan sudah tidak merasa perlu diperlihatkan.

Ia melihat Firla. Tidak menawarkan jabatan tangan, tidak memperkenalkan diri. Menarik kursi plastik yang satu lagi, duduk, dan menatap Firla dengan cara orang yang sudah memutuskan untuk duduk dan melihat dulu sebelum bicara.

Rossa kembali dengan dua gelas teh. Meletakkan satu di depan Firla, satu di depan Fairus, dan duduk di sofa.

Hening yang tidak canggung tapi juga tidak nyaman — jenis hening yang sedang menunggu sesuatu untuk ditentukan.

"Dari Mahesvara," kata Fairus akhirnya. Bukan pertanyaan.

"Iya, Pak."

"Naik apa?"

"Travel dari Mahesvara, lalu ojol dari persimpangan."

"Sendiri?"

"Sendiri."

Fairus mengangguk sedikit. Menatap mejanya sebentar. Lalu mengangkat kepala dan menatap Firla lagi.

"Sebelum kamu, sudah ada dua orang yang datang dari kota. Satu bilang dari media besar, satu bilang dari lembaga hukum."

"Pak Jatmiko cerita sedikit."

"Pak Jatmiko yang juga kasih kamu nama kami?"

"Tidak langsung. Beliau bilang kalau kami mau bicara, harus kami yang memutuskan sendiri. Beliau tidak mau mengantar."

Fairus dan Rossa bertukar pandang. Sesuatu lewat di antara mereka — bukan percakapan, tapi sesuatu yang setara dengan percakapan yang sudah berlangsung berkali-kali sebelum pagi ini.

"Yang dari media besar," kata Rossa, "tanya macam-macam soal Ero. Kami tidak mau cerita. Mereka pergi."

"Yang dari lembaga hukum lebih aneh," sambung Fairus. "Pertanyaannya bukan soal Ero sebagai orang. Soal siapa yang pernah datang ke sini. Siapa yang kami kenal dari Mahesvara. Nomor HP siapa yang pernah menghubungi kami setelah kabar itu datang."

"Itu pertanyaan untuk apa?"

"Kami juga tidak tahu. Dan karena tidak tahu, kami tidak jawab." Fairus menatapnya. "Kamu mau tanya apa?"

Firla tidak langsung menjawab.

Ia minum tehnya sebentar — hangat, sedikit terlalu manis, cara orang yang membuat teh untuk tamu tanpa tahu selera tamunya. Ia meletakkan gelasnya dengan pelan.

"Saya ingin dengar tentang Ero," katanya. "Bukan dari dokumen. Bukan dari artikel yang sudah saya baca. Dari orang yang paling kenal dia."

"Untuk apa?" kata Rossa. Nadanya tidak bermusuhan — lebih ke seseorang yang sudah terlalu sering mendengar pertanyaan dan butuh tahu dulu tujuannya sebelum memutuskan apakah akan menjawab.

"Karena ada yang tidak beres dengan apa yang terjadi pada kasus Ero. Saya sudah cukup lama cari dan saya tidak bisa memahami kasusnya kalau saya tidak memahami orangnya."

Rossa menarik napas kecil. "'Tidak beres' itu banyak yang bilang. Tapi ujungnya semua pergi dan tidak ada yang berubah."

"Saya tidak bisa janji akan ada yang berubah," kata Firla. "Tapi saya tidak akan pergi tanpa memberitahu Bapak dan Ibu apa yang saya temukan. Dan apa yang saya tidak temukan."

Hening lagi.

Dari luar, suara anak kecil yang berlari di jalan. Suara sebentar, lalu menjauh. Kembali sepi.

Fairus menatap Rossa. Rossa menatap Firla.

"Oke," kata Fairus akhirnya.

Mereka mulai bercerita dengan cara yang tidak berurutan.

Bukan karena tidak tahu harus dari mana — lebih karena ingatan tentang seseorang yang sudah tidak ada tidak pernah datang linier. Rossa yang lebih banyak bicara. Fairus yang sesekali menambahkan satu kalimat yang terasa sudah dipilih dengan hati-hati.

Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang Firla perhatikan dari menit pertama dan tidak bisa pura-pura tidak perhatikan: Rossa berbicara tentang anaknya sambil menekan sesuatu. Bukan menekan ceritanya — menekan yang ada di belakang ceritanya. Sesekali ia berhenti di tengah kalimat, menelan sesuatu, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Fairus lebih terkontrol tapi ada momen-momen di mana matanya turun ke meja dan tidak segera kembali.

Mereka berdua percaya anaknya sudah mati.

Tidak ada keraguan itu di mata mereka. Hanya yang lebih berat dari keraguan: kehilangan yang sudah diterima tapi tidak pernah selesai diselesaikan.

"Ero itu anak bungsu," kata Rossa. "Dua kakaknya perempuan. Yang pertama sudah di Vardhana. Yang kedua masih di sini, sudah punya rumah sendiri. Ero yang paling beda dari keduanya."

"Beda bagaimana?"

"Dua kakaknya nurut. Tidak banyak komentar." Rossa mengambil tehnya, meniup, tapi tidak langsung minum. "Ero dari kecil susah diam. Semua hal ditanya. Semua hal dikomentari. Kalau makan tidak suka, langsung bilang. Bapaknya marah, dia ketawa. Ibunya marah, dia ketawa lebih keras."

Ada sesuatu yang bergerak di sudut mata Rossa. Ia minum tehnya.

"Tapi setelah ketawa, dia langsung bantu cuci piring tanpa disuruh," lanjut Rossa. "Cara minta maafnya memang tidak pernah langsung bilang maaf. Tapi selalu tahu apa yang harus dilakukan setelahnya."

Fairus menambahkan tanpa diminta: "Kalau debat, argumennya masuk akal. Itu yang bikin frustrasi. Susah marah sama orang yang argumennya tidak bisa dibantah."

Rossa bercerita tentang kucing Pak Bupati — nama yang disebut Pak Jatmiko kemarin tapi belum dijelaskan asal-usulnya. Heru yang membawa kucing kampung setengah mati ke rumah waktu SMP, membujuk Rossa yang tidak mau punya hewan peliharaan dengan argumen yang panjang dan melelahkan sampai akhirnya Rossa menyerah bukan karena diyakinkan tapi karena capek.

"Pak Bupati itu namanya kenapa?" tanya Firla.

"Karena suka tidur dan tidak mau diganggu." Rossa hampir tersenyum — ekspresi yang datang tapi tidak sepenuhnya tiba. "Bertahan tiga tahun. Waktu akhirnya mati, Ero tidak makan seharian. Tidak bilang sedih. Bilang 'nggak lapar'. Tapi bapaknya tahu."

Fairus tidak mengkonfirmasi atau menyangkal. Hanya menggeser posisi duduknya sedikit.

Rossa melanjutkan tentang semester pertama di Mahesvara — telepon pukul sebelas malam, suara yang jelas bermasalah dari ujung sana meski tidak langsung diakui. Rossa yang langsung tanya "Kamu nangis?" dan mendapat jawaban "Tidak, Ma, hidung saya berair."

"Dia kangen nasi saya," kata Rossa. Kali ini suaranya benar-benar berhenti di tengah. Ia menatap meja. "Itu yang akhirnya dia akui setelah setengah jam. Dan dua kakaknya dengar cerita itu dan sampai terakhir kali lebaran masih disinggung."

"Terakhir kali," ulang Firla pelan.

"Lebaran 2023," kata Rossa. Ia melihat ke foto di dinding — yang bingkainya paling baru itu. "Semuanya masih ada. Masih ramai. Ero masih yang paling berisik di antara semuanya."

Ia berhenti sebentar. Menelan sesuatu yang Firla tidak bisa lihat tapi bisa rasakan.

"Setahun kemudian, sudah tidak ada."

Firla membuka buku catatannya. Pelan, tanpa terburu-buru.

"Boleh saya catat beberapa hal?"

Fairus menatap buku itu. "Nama kami tidak dicantumkan di mana pun."

"Tidak akan."

"Bukan hanya nama. Lokasi, hubungan kami dengan Ero — tidak ada yang bisa menunjuk ke kami."

"Saya mengerti, Pak."

Fairus mengangguk. Bukan hangat — lebih ke pragmatis. Mereka sudah di sini, percakapan sudah sampai di titik ini, lebih baik ada syarat yang jelas dari awal.

"Sejak kapan kelihatan berubah?" tanya Firla. "Ero maksud saya."

Rossa dan Fairus bertukar pandang.

"Tahun ketiga kuliah," kata Rossa. "Cara teleponnya berubah. Sebelumnya telepon seminggu sekali, cerita panjang. Tahun ketiga masih telepon tapi lebih pendek. Lebih pilih-pilih."

"Pilih-pilih?"

"Dulu kalau ada sesuatu, langsung cerita. Tahun ketiga mulai belajar mana yang diceritakan dan mana yang tidak."

"Bapak dan Ibu tidak tanya?"

"Kami tanya," kata Fairus. "Bilang banyak kegiatan. Kami tidak kejar. Dia sudah besar, sudah bisa pilih urusannya sendiri."

"Tapi ada yang terasa beda?"

"Ada satu telepon," kata Fairus. Nada suaranya sedikit berubah — lebih hati-hati, seperti orang yang sedang mengingat sesuatu sambil memilih berapa banyak yang akan disampaikan. "Akhir 2023. Malam. Bukan telepon biasa — bukan karena kangen, bukan karena ada cerita. Dia tanya: 'Bapak sehat? Ibu sehat?' Kami bilang sehat. Lalu dia bilang: 'Hati-hati ya kalau ada orang asing yang datang nanya-nanya tentang saya.'"

Lihat selengkapnya