Firla tiba kembali di Mahesvara pukul empat sore.
Motor dititipkan di parkiran terminal. Travel jalan dari persimpangan tadi pagi. Dua jam lebih diperjalanan, sebagian duduk diam, sebagian tidur setengah — bukan karena ngantuk tapi karena kepala terlalu penuh untuk melakukan hal lain.
Di terminal, ia naik ojol ke rumah.
Mahesvara sore hari terasa berbeda dari yang ia tinggalkan empat hari lalu. Bukan berbeda secara nyata — jalan yang sama, macet yang sama, warung-warung yang sama dengan papan nama yang sama. Yang berbeda adalah kecepatannya. Di Malgan, sore hari adalah sore hari yang punya bobot sendiri — cahaya oranye di ujung barat, suara dapur yang mulai masak, ayam yang berhenti berkokok. Di Mahesvara, sore hari adalah siang yang belum selesai tapi sudah capek.
Firla tidak tahu mana yang lebih benar.
Ibunya ada di ruang tengah ketika Firla masuk.
TV menyala. Program sore — bukan berita, bukan ceramah. Drama keluarga dengan aktor-aktor yang ibunya sudah hafal nama dan hubungan keluarganya masing-masing.
"Baru balik."
"Iya."
"Makan?"
"Nanti."
Ibunya mengangguk. Tidak tanya dari mana, tidak tanya untuk apa. Sudah lama mereka punya kesepakatan diam tentang hal-hal yang tidak perlu ditanyakan kalau jawabannya tidak akan membuat salah satu dari mereka merasa lebih baik.
Firla masuk ke kamarnya. Meletakkan ransel. Duduk di tepi kasur.
Di mejanya: laptop, gelas air kosong, lima sticky note di sisi monitor, tumpukan printout yang ia tinggalkan dengan urutan tertentu yang sekarang masih di urutan yang sama.
Tidak ada yang berubah.
Tapi ada yang berbeda.
Malam itu ia tidak membuka laptop.
Berbaring saja. Menatap langit-langit. Noda kecoklatan di sudut kanan — sama seperti selalu, tidak ke mana-mana.
Di kepalanya: Pak Jatmiko yang memanggil nama Ero bukan Heru. Rossa yang memegang gelas dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil. Fairus yang bilang terlalu rapi dengan nada yang lebih dalam dari marah. Buku catatan dengan tulisan kecil-kecil. Tanda bintang di depan satu nama.
Ratna Kusuma.
Dan di halaman terakhir, kalimat yang Heru tulis seperti titip pesan:
Kalau dokumen ini ada di tangan orang yang tepat, mulailah dari pasal 37. Mulailah dari konversi Sektor 7. Dan cari Ratna.
Firla menutup matanya.
Tidur pukul dua belas. Bangun pukul delapan lewat. Lebih lama dari biasanya.
Tiga hari setelah kembali dari Malgan, Firla menyadari bahwa ia lebih sering diam dari biasanya.
Bukan karena tidak ada yang perlu dikatakan. Lebih karena ada terlalu banyak yang belum tahu harus dikatakan ke siapa.
Di SUDUT, hari pertama setelah kembali adalah hari yang padat tapi tidak dramatis.
Bagas sudah menunggu dengan kopi yang sudah ia seduh sejak pukul delapan, dan cara duduknya — agak ke depan dari biasanya, siku di meja — menunjukkan bahwa ia sudah membaca semua WhatsApp yang Firla kirim dari Malgan dan sudah menyiapkan pertanyaan.
Rini juga ada. Jarang untuk hari Senin.
Mereka membiarkan Firla bicara dari awal.
Ia menceritakan semuanya — bukan dari catatan, tapi dari ingatan. Warung Bu Wening dengan papan nama tanpa tulisan. Pak Jatmiko dengan koran lokal dan kacamata yang terlalu besar. Cara ia menyebut nama Ero setiap kali, tidak pernah Heru, seperti nama resminya adalah nama untuk keperluan lain dan bukan untuk orang yang ia kenal. Rumah Fairus dan Rossa di ujung jalan, pagar besi catnya sudah coklat, foto di dinding dengan bingkai yang paling baru dan senyum di foto itu yang berbeda dari senyum di foto forum.
Ia menceritakan isi buku catatan — kronologi NaramBeya per peristiwa per tanggal, skema koneksi dengan garis-garis yang menghubungkan kotak, perubahan pasal yang dibahas dalam sidang yang tidak ada risalah publiknya.
Dan nama di halaman terakhir dengan tanda bintang.
Ketika Firla selesai, ketiganya diam cukup lama.
"Ratna Kusuma," kata Bagas akhirnya.
"Iya."
"Gue sudah coba dari malam lo WhatsApp. Semalam lagi."
"Ketemu apa?"
Bagas meraih gelas airnya. Meminumnya pelan — bukan karena haus, lebih karena butuh sebentar sebelum menjawab.
"Dua belas tahun di kejaksaan. Spesialisasi lingkungan dan sumber daya alam. Beberapa kasus tambang yang sebagian besar berakhir di arsip. Terakhir aktif di jurnal hukum 2022. Satu makalah dari tahun itu."
"Tentang apa?"
"Celah hukum dalam penetapan konsesi di wilayah adat." Bagas meletakkan gelasnya. "Pasal 37."
Firla menatapnya.
"Persis pasal yang Heru tulis di buku catatannya," kata Firla.
"Persis."
"Dan setelah 2022?"
"Tidak ada. Mundur Maret 2023 dengan keterangan resmi: kesehatan. Setelah itu — tidak ada jejak apapun. Tidak ada akun aktif. Tidak ada nama di forum. Tidak ada obituari." Bagas mengangkat bahunya sedikit. "Seseorang yang memilih untuk tidak ada, atau yang dibuat tidak ada. Gue belum bisa bedakan mana."
Rini yang dari tadi diam akhirnya bicara.
"Atau keduanya."
Mereka tidak melanjutkan kalimat itu. Tidak perlu.
Hari-hari berikutnya bergerak pelan.
Firla mencari Ratna Kusuma dari sudut yang berbeda-beda. Dari jaringan pengacara yang pernah bersinggungan dengan kasus yang sama. Dari alumni hukum yang mungkin ada irisan. Dari nama-nama yang disebut bersama dalam satu makalah atau satu seminar, bertahun-tahun yang lalu, ketika nama itu masih muncul.
Yang ia temukan: beberapa mention lama. Nama di daftar peserta seminar hukum 2021. Nama di ucapan terima kasih sebuah jurnal terbitan 2020. Satu foto dari konferensi yang sudah empat tahun lalu, perempuan berdiri di antara tiga orang lain di depan banner acara, resolusinya tidak cukup untuk diperbesar.
Setelah Maret 2023: tidak ada.
Seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk menjadi tidak ada, dan melakukannya dengan sangat hati-hati.
Firla mencatat semua yang ia temukan, meski tidak banyak. Bukan karena berguna sekarang, tapi karena ada hal-hal yang perlu ada di suatu tempat, diakui ada, dan tidak bisa dikatakan tidak pernah ada.
Kalimat itu datang dari suatu tempat yang belum bisa ia tunjuk — mungkin dari Malgan, mungkin dari seseorang yang belum ia kenal.
Rabu siang, HP-nya bergetar.
Pesan dari Rini: ada forum diskusi besok malam. Kampus Timur. Soal kebebasan pers dan kriminalisasi aktivis. Lo ada waktu?
Firla mengetik balik: siapa yang speak?
Rini: tiga orang. yang utama coba lo cari sendiri dulu.
Firla menatap pesan itu sebentar. Cara Rini memberitahu sesuatu sambil membiarkan orang menemukan sendiri. Cara yang sudah Firla kenal.
Ia membuka browser. Mengetik: forum hukum Kampus Timur besok.
Hasilnya muncul dalam beberapa detik.
Poster digital dengan desain yang tidak terlalu rapi — jenis desain yang dibuat oleh orang yang lebih memikirkan isi daripada tampilan. Judul panjang dan akademis, tentang impunitas dan mekanisme hukum perlindungan ekspresi. Tiga nama pembicara.
Dua nama Firla kenali dari sirkuit diskusi publik Mahesvara — seorang dosen dan seorang pengacara publik yang pernah beberapa kali ia lihat di acara serupa.
Satu nama yang tidak ia kenali sebelumnya tapi terasa seperti nama yang seharusnya sudah pernah ia dengar.
Arsyad Nur Rohman, S.H., M.H. — Mantan Dosen Hukum Tata Negara.
Firla membuka tab baru. Mengetik nama itu.
Yang ia temukan cukup untuk satu jam.
Arsyad Nur Rohman bukan nama baru di sirkuit yang Firla seharusnya sudah tahu. Ia ada — hanya di tempat yang tidak biasa Firla lihat. Bukan di media nasional besar, bukan di koran yang ibunya beli pagi hari, bukan di program talk show yang volumenya dikecilkan tapi tidak dimatikan di kantin kampus.
Ia ada di forum-forum yang lebih kecil. Di jurnal yang tidak punya iklan. Di diskusi yang undangannya disebarkan lewat mailing list dan grup yang Firla tidak terdaftar di dalamnya.
Mantan dosen hukum tata negara. Tidak mengajar lagi sejak 2023. Tidak ada penjelasan resmi kenapa. Di beberapa mention dari forum mahasiswa lama, ada frasa perbedaan pandangan dengan institusi yang tidak pernah dijabarkan lebih lanjut.
Ada beberapa foto dari acara-acara publik. Bukan foto resmi — lebih ke foto yang diambil penonton dan diunggah di media sosial. Laki-laki pertengahan empat puluhan. Tidak besar, tidak kecil. Cara berdirinya di podium berbeda dari cara pejabat berdiri di podium — tidak ada jarak antara dirinya dan apa yang sedang ia katakan.
Dan satu artikel dari media independen kecil yang Firla belum pernah buka sebelumnya:
"Ia kehilangan adiknya dalam kasus yang tidak pernah dituntaskan. Kehilangan itu, katanya, adalah alasan ia tidak lagi bisa berdiri di depan mahasiswa dan mengajarkan hukum seolah hukum bekerja sebagaimana mestinya."
Firla membaca kalimat itu dua kali.
Lalu membalas pesan Rini: gue datang.
Forum itu tidak besar.
Aula Fakultas Hukum Kampus Timur berkapasitas sekitar dua ratus kursi. Ketika Firla tiba pukul enam empat puluh — dua puluh menit lebih awal dari jadwal — sudah ada hampir seratus orang.
Ia berdiri sebentar di belakang, membaca ruangan sebelum masuk lebih jauh.
Kursi depan sudah lebih terisi dari kursi belakang. Yang jarang terjadi. Biasanya orang cenderung duduk belakang dulu. Tapi di sini ada yang sudah di baris ketiga dan keempat dari depan dengan cara orang yang memang datang untuk dekat — bukan karena tidak ada pilihan lain.
Ia memperhatikan siapa yang ada.
Mahasiswa ada. Tapi tidak hanya mahasiswa. Di baris tengah: beberapa orang yang dari cara berpakaiannya bukan orang kampus — ada yang memakai baju kerja yang sudah dilepas jasnya, ada yang memakai kaos polos dengan cara seseorang yang tidak sedang berpikir tentang penampilannya. Di pojok kiri belakang, dua orang ibu yang duduk bersama dengan tas yang kelihatannya tas sehari-hari, bukan tas kuliah.
Di dinding kiri: banner sederhana dengan nama forum. Tidak ada logo sponsor. Tidak ada logo kementerian atau lembaga pemerintah.
Firla menemukan kursi di sisi kanan, baris ketujuh. Cukup dekat untuk melihat ekspresi, cukup jauh untuk tidak mencolok.
Ia mengeluarkan buku catatannya. Menulis waktu dan nama acara di bagian atas halaman baru.
Dua pembicara pertama bicara dengan cara yang bisa Firla prediksi sebelum mereka mulai.
Yang pertama dosen — terstruktur, ada pembuka dan isi dan penutup yang jelas, ada kutipan undang-undang yang disampaikan tanpa melihat catatan karena sudah terlalu sering disampaikan. Berguna. Tidak mengejutkan.
Yang kedua pengacara publik — lebih kasual, lebih banyak contoh kasus konkret, kadang ada jeda sebelum kalimat penting yang terasa dipelajari untuk terlihat tidak dipelajari. Juga berguna. Juga tidak mengejutkan.
Firla mencatat beberapa poin dan menunggu.
Arsyad masuk dari pintu samping pukul tujuh kurang tiga menit.
Bukan dari pintu depan yang dipakai semua orang. Pintu samping, yang lebih kecil, yang biasanya untuk staf. Ia masuk dengan cara seseorang yang sudah cukup sering masuk dari pintu itu untuk tidak perlu menghitungnya.
Kemeja putih. Celana gelap. Tidak ada jas. Rambutnya sudah ada uban di bagian pelipisnya — rapi tapi bukan rapi yang direncanakan untuk malam ini secara khusus.
Ia melihat ke kursi ketiga di meja moderator, lalu sekilas ke penonton, lalu duduk. Cara membaca ruangan yang tidak berlama-lama tapi cukup — cara orang yang sudah terbiasa masuk ke ruangan orang banyak dan tidak perlu waktu lama untuk menilai siapa yang ada dan bagaimana sifatnya.
Firla menuliskan di buku catatannya: masuk dari pintu samping. tidak melihat-lihat. tidak ada kertas di tangan.
Ia mulai bicara dari sesuatu yang konkret.
Tidak ada slide. Tidak ada pembuka yang memperkenalkan diri — moderator sudah melakukan itu. Ia langsung ke isi, tapi dari isi yang tidak biasa dimulai oleh pembicara di forum seperti ini.
"Saya ingin cerita tentang adik saya dulu."
Suara di ruangan turun.
Bukan turun secara dramatis — tidak ada yang tiba-tiba mengalihkan perhatian dari ponsel masing-masing dengan cara yang terlihat. Lebih seperti ruangan itu menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru masuk ke dalamnya.
"Bukan karena ini sesi berbagi cerita. Tapi karena tanpa konteks itu, saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya ada di sini malam ini dan bukan di tempat lain yang mungkin lebih nyaman."
Jeda. Bukan jeda untuk efek. Jeda orang yang sedang memilih kata.
"Adik saya aktivis lingkungan. Ia hilang akhir 2022. Laporan ke polisi masih ada — di tumpukan berkas yang tidak pernah dibuka lagi setelah pelaporan pertama. Saya masih punya nomor berkasnya. Saya hapal."
Tidak ada yang bergerak di ruangan.
"Bukan karena kasusnya rumit. Kasusnya justru sederhana: ia menulis laporan investigasi tentang limbah industri di dekat permukimannya. Dua minggu kemudian, ia hilang. Tidak ada yang mau menyebut itu berhubungan. Kita semua di ruangan ini mungkin sudah bisa menebak apakah itu berhubungan atau tidak. Tapi 'bisa menebak' dan 'bisa membuktikan' adalah dua hal yang jaraknya, di negara ini, bisa jadi seumur hidup."
Firla tidak menulis selama tiga menit.
Tangan kirinya ada di atas buku catatan. Pena di tangan kanan. Tapi tidak bergerak.
Ia mendengarkan dengan cara yang berbeda dari cara ia mendengarkan dua pembicara sebelumnya — bukan mencatat poin untuk dikutip, tapi mengamati bagaimana kalimat-kalimatnya terbentuk. Dari mana datangnya. Ke mana perginya.