Telepon pertama datang Selasa pagi.
Firla sedang di mejanya. Bagas baru saja keluar ke warung untuk beli kopi. Rini belum masuk. Ruangan kosong kecuali Firla dan suara AC unit yang bunyi tik-nya sudah jadi latar belakang yang tidak ada yang dengar lagi.
Nomor yang muncul di layar: tidak tersimpan. Dua belas digit. Kode area yang tidak ia kenali.
Ia angkat.
"Halo?"
Tidak ada suara.
Bukan salah sambung — tidak ada bunyi statis, tidak ada keriuhan latar belakang yang menunjukkan seseorang lupa mematikan mic-nya. Hanya hening yang terdengar aktif. Jenis hening yang ada orang di ujung sana.
"Halo?" Firla ulang. Suaranya sendiri.
Lalu telepon ditutup.
Firla menatap layar HP-nya. Panggilan masuk: 00:07 detik.
Tujuh detik.
Cukup lama untuk diam dan menutup. Tidak cukup lama untuk sesuatu yang tidak disengaja.
Ia tidak langsung menceritakannya ke Bagas.
Bukan karena disembunyikan. Lebih karena satu telepon diam adalah satu telepon diam — bisa salah sambung, bisa nomor yang memanggil sebelum menyampaikan sesuatu tapi kehilangan keberanian atau koneksinya sendiri. Satu telepon tidak membentuk pola. Satu telepon hanya satu telepon.
Ia mencatat nomor itu di buku catatannya — di pojok halaman, kecil, dengan tanda tanya di sampingnya.
Lalu kembali ke pekerjaannya.
Telepon kedua datang Kamis siang.
Nomor berbeda. Kode area berbeda. Tapi isinya sama: tujuh detik hening lalu tutup.
Kali ini Firla menatap layarnya lebih lama setelah panggilan berakhir.
Dua telepon diam dalam satu minggu, dari nomor berbeda.
Masih bisa kebetulan.
Ia menuliskan nomor kedua di samping yang pertama, di pojok halaman yang sama.
Di SUDUT hari itu, Bagas pulang lebih lambat dari biasanya.
Bukan karena ada pekerjaan yang tidak selesai — ia sudah menutup laptopnya jam empat lewat, cara yang biasanya ia lakukan kalau sudah cukup untuk hari itu. Tapi ia tidak langsung pergi. Duduk sebentar. Memeriksa sesuatu di HP. Memeriksa lagi.
Firla memperhatikan itu dari mejanya sendiri tapi tidak bertanya.
Ada hari-hari di mana orang perlu duduk sebentar sebelum pergi. Itu bukan hal yang perlu dijelaskan.
Tapi ia memperhatikan.
Jumat sore, seseorang duduk di warung kopi kecil di seberang gedung SUDUT.
Warung itu biasa. Sudah ada sejak sebelum SUDUT ada di lantai dua ruko ini. Pemiliknya seorang bapak tua yang dua tapinya sudah jarang bicara lebih dari sekadar mengkonfirmasi pesanan. Pelanggannya biasanya gabungan antara pegawai dari gedung-gedung sekitar yang butuh tempat duduk murah untuk istirahat siang, dan mahasiswa yang koneksi kampus sedang bermasalah.
Orang yang duduk sore itu bukan dari kategori mana pun.
Bukan usia pegawai, bukan usia mahasiswa — mungkin tiga puluhan, mungkin awal empat puluhan. Baju biasa. Tidak ada laptop, tidak ada buku. Memesan sesuatu, menatap mejanya, sesekali menatap ke luar jendela warung yang menghadap ke jalan di depan gedung SUDUT.
Firla melihatnya dari jendela lantai dua.
Orang yang duduk di warung sambil menatap ke luar jendela bukan hal yang aneh.
Tapi orang yang menatap ke arah yang sama, ke titik yang sama, selama dua jam penuh — itu agak berbeda.
Firla tidak melakukan apa-apa dengan pengamatannya itu. Tidak menunjukkan, tidak mencatat, tidak mengatakan kepada siapapun. Hanya menatap sebentar, lalu kembali ke layarnya.
Pukul tujuh malam, ketika Firla turun untuk pulang, orang itu sudah tidak ada.
Di mejanya, bekas gelas yang sudah diangkat. Tidak ada yang lain.
Bagas yang pertama bicara tentangnya.
Bukan tentang orang di warung — ia tidak tahu soal itu, karena Firla tidak menyebutnya. Bagas bicara tentang sesuatu yang berbeda.
Senin minggu berikutnya, ia masuk dengan cara yang agak berbeda dari biasanya. Langkahnya sama, ekspresinya sama, caranya meletakkan tas di kursi sama. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di cara ia membuka laptopnya — lebih lambat dari biasanya, seperti ada yang ia pikirkan sebelum layar menyala.
Ia tidak langsung membuka pesan atau email. Yang pertama ia buka adalah sebuah aplikasi yang tidak biasa ada di dock-nya.
Firla mengenali ikonnya. Aplikasi pesan terenkripsi.
"Sejak kapan lo pakai itu?" tanya Firla.
Bagas menoleh. Tidak terlihat kaget.
"Minggu lalu," katanya.
"Kenapa?"
Ia tidak langsung menjawab. Membuka aplikasi itu, mengetik sesuatu yang pendek, menutupnya.
"Nanti gue jelaskan," katanya akhirnya.
Nanti ternyata berarti hari itu juga, tapi bukan di kantor.
Bagas mengajak makan siang di warteg yang tidak biasa mereka datangi — bukan warteg tanpa nama yang biasa, tapi yang lebih jauh, di gang yang berbeda, yang Firla bahkan tidak tahu ada di sana sebelum hari itu.
Mereka duduk di meja paling dalam. Bagas memesan tanpa melihat menu karena terlihat sudah pernah ke sini sebelumnya.
"Ada yang lo perlu tahu," kata Bagas setelah pesanan datang.
Firla menunggu.
"Kontak gue di JPPI bilang ada dua nama yang masuk radar baru dari sumber yang mereka lacak." Bagas berbicara dengan suara yang tidak lebih keras dari percakapan meja makan biasa. Tidak rendah secara mencolok. Cukup untuk tidak terdengar oleh meja sebelah. "Bukan penangkapan. Bukan surat resmi. Cuma nama yang masuk ke daftar tertentu."
"Nama siapa?"
"Satu dari organisasi mahasiswa. Satu—" Ia berhenti sebentar. "Satu dari media kecil di Mahesvara."
Firla meletakkan sendoknya.
"Media yang mana?"
Bagas menatapnya. Tidak perlu menjawab.
Firla makan nasinya.
Pelan. Cara makan seseorang yang tidak sedang memikirkan makanannya tapi membutuhkan sesuatu untuk dilakukan oleh tangannya.
"Dari mana daftarnya?"
"Tidak jelas. Kontak gue dapat dari sumber yang dapat dari sumber yang lain." Bagas juga makan. Juga pelan. "Yang penting: tidak ada yang bisa diverifikasi langsung. Bisa tidak akurat. Bisa juga terlalu akurat."
"Artinya?"
"Artinya kita tidak bisa tahu apakah ini peringatan nyata atau sesuatu yang sengaja disebar supaya kita berhenti."
Firla menatap piringnya.
"Dua kemungkinan itu sama-sama mengkhawatirkan," katanya.
"Iya."
Di meja sebelah, dua orang sedang makan dengan cara orang yang sedang membahas sesuatu yang tidak terlalu penting — sesekali tertawa, sesekali melihat HP masing-masing. Normal. Sangat normal. Cara orang makan siang di warteg pada umumnya.
Firla memperhatikan mereka sebentar tanpa sengaja.
Lalu berhenti memperhatikan. Karena tidak semua orang yang ada di ruangan yang sama adalah bagian dari masalah yang sedang ada di kepalanya. Dan mulai berpikir bahwa mereka bisa jadi bagian dari masalah itu adalah awal dari sesuatu yang berbeda dari investigasi — awal dari paranoia yang tidak produktif.
Ia kembali ke makanannya.
Narasumber pertama mundur Selasa.
Perempuan, sumber untuk sebuah artikel yang sedang Firla kerjakan tentang kondisi penyewa lahan di daerah pinggiran yang masuk zona pengembangan. Mereka sudah dua kali bertemu, sudah ada material yang cukup untuk mulai menulis draf. Tapi Selasa pagi pesan masuk:
Mbak Firla, maaf banget. Saya tidak bisa lanjutkan. Ada keperluan mendadak yang tidak bisa saya jelaskan sekarang. Maaf sekali. Semoga Mbak dan tim baik-baik saja.
Firla membaca pesan itu.
Ada keperluan mendadak yang tidak bisa saya jelaskan.
Ia membalas dengan singkat — baik, tidak apa-apa, semoga kondisinya segera membaik — dan menyimpan percakapan itu sebelum menutup aplikasi.
Duduk sebentar.
Tidak semua narasumber yang mundur mundur karena tekanan. Orang punya kehidupan. Orang berubah pikiran. Orang takut bukan karena ada yang mengancam tapi karena ada yang membayangkan kemungkinan ancaman dan memutuskan kemungkinan itu tidak sebanding dengan manfaatnya.
Ini bisa apa saja.
Tapi kalimat keperluan mendadak yang tidak bisa saya jelaskan bukan kalimat orang yang berubah pikiran karena alasan biasa.
Narasumber kedua mundur Kamis.
Kali ini laki-laki. Untuk artikel yang berbeda — bukan artikel Firla, artikel Bagas. Sudah lebih jauh dari yang pertama: sudah ada rekaman wawancara, sudah ada kutipan yang siap dipakai.
Ia menelepon langsung, tidak pesan. Bagas yang angkat. Firla bisa mendengar satu sisi percakapan itu dari mejanya — sisi Bagas, yang sebagian besar terdiri dari iya, oke, saya mengerti, tidak apa-apa, dengan nada yang tetap sama dari awal sampai akhir.
Setelah Bagas menutup telepon, ruangan diam beberapa detik.
"Dia juga?" tanya Firla.
"Dia juga."
Rini, yang hari itu ada, tidak mengatakan apa-apa. Melepas kacamata bacanya. Meletakkannya di meja. Cara yang ia lakukan ketika sedang berpikir dengan serius.
"Dua dalam satu minggu," kata Rini akhirnya.
"Iya."
"Topik yang berbeda."
"Iya."
"Tapi dua-duanya mundur dengan cara yang sama." Rini mengambil kacamatanya kembali, memasangnya. Kembali ke layarnya. "Gue hitung ini."
Di malam yang sama, Firla pulang lewat jalan yang biasa.
Tidak ada yang berbeda dari rute itu. Jalan yang sama, lampu merah yang sama, warung-warung yang sama. Motor di belakangnya ganti berganti seperti biasa — ada yang belok kiri, ada yang belok kanan, ada yang terus.
Satu motor tidak belok.
Bukan motor yang sama. Firla tidak bisa memastikan itu adalah motor yang sama karena tidak ada yang istimewa dari motor itu — warna umum, model umum, helm yang standar. Tapi ada sesuatu dari jarak yang dijaga oleh motor itu terhadap motornya yang terasa berbeda dari cara motor-motor lain menjaga jarak di jalan yang sama.
Dua blok.
Tiga blok.
Di lampu merah keempat, motor itu berhenti dua kendaraan di belakangnya.
Firla melihat di kaca spion. Tidak ada yang bisa ia lihat dari sana — helm menutupi wajah, dan dari jarak itu di malam hari tidak ada yang bisa diidentifikasi.
Lampu hijau.
Ia jalan.
Motor itu juga jalan.
Dua blok lagi, Firla belok ke gang yang menuju rumahnya. Jalan sempit. Motor itu tidak masuk ke gang.
Firla berdiri sebentar di depan rumahnya setelah mematikan mesin. Menatap ujung gang yang gelap.
Tidak ada yang datang.
Mungkin motor itu memang tidak mengikutinya. Mungkin jalan mereka hanya sama sampai titik itu. Mungkin Firla sedang menerapkan pola pada sesuatu yang tidak punya pola.
Tapi mungkin dalam arah yang lain juga ada.
Di kamarnya, ia membuka laptop.
Bukan untuk spreadsheet. Untuk memeriksa email kantor SUDUT yang sudah tiga hari tidak ia buka.
Yang biasanya ada: press release yang tidak relevan, undangan forum yang setengahnya spam, beberapa pesan dari pembaca yang sesekali mengirim apresiasi atau laporan. Hal-hal yang tidak urgent, yang ia kumpulkan dan buka sekaligus sekali beberapa hari.
Malam ini ada satu email yang berbeda dari yang lain.
Bukan karena isinya. Email itu hanya sebuah artikel yang di-forward. Artikel lama — dari tiga tahun yang lalu, dari media yang sudah tidak aktif. Tentang sebuah media independen kecil di kota lain yang tutup setelah "mengalami tekanan finansial yang tidak bisa diatasi dan beberapa insiden teknis yang menganggu operasional."
Tidak ada kata pengantar. Tidak ada nama pengirim selain alamat email acak yang terdiri dari angka-angka. Tidak ada kalimat tambahan. Hanya artikel itu, di-forward, ke alamat email kantor SUDUT.
Firla membaca artikel itu sampai selesai.
Lalu membacanya sekali lagi.
Tekanan finansial yang tidak bisa diatasi. Beberapa insiden teknis.
Media itu tutup enam bulan setelah mulai mengerjakan investigasi tentang kepemilikan lahan di kawasan tertentu. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada yang menuduh siapapun. Tidak ada yang bisa dituduhkan. Media itu hanya tutup.
Firla menutup email itu.
Tidak menghapusnya. Menyimpannya di folder terpisah yang ia beri nama dengan sesuatu yang tidak menunjukkan isinya — kebiasaan baru yang terbentuk dalam beberapa minggu terakhir tanpa ia rencanakan.
Lalu ia menutup laptop.
Berbaring.
Menatap langit-langit.