Manggala

Nguyen Rakai Pikatan
Chapter #17

Di Ujung Yang Lain

Alarm di HP Arsyad berbunyi pukul lima pagi.

Ia sudah bangun.

Sudah bangun dari pukul empat lewat, sebenarnya — tidur yang terputus bukan karena tidak bisa tidur, tapi karena pikiran punya jadwalnya sendiri dan tidak selalu menghormati jadwal yang ia tetapkan. Ia berbaring di ranjang kamar hotel yang kasurnya tidak terlalu keras dan tidak terlalu empuk, di kota yang bukan kotanya, di hari yang keempat belas dari enam belas hari perjalanan.

Ia mematikan alarm sebelum berbunyi dua kali.

Di langit-langit kamar: noda air yang membentuk sesuatu yang tidak bisa disebut apa pun secara spesifik, cat yang agak menguning di sudut, lampu neon yang kalau malam berkedip sebentar sebelum stabil. Kamar hotel kelas menengah ke bawah di kota yang namanya dua bulan lalu tidak ada dalam rencananya.

Arsyad duduk di tepi ranjang.

Menatap kamar itu sebentar — ransel di sudut, kemeja besok yang sudah digantung agar tidak terlalu kusut, botol air minum setengah penuh di meja, buku catatan kecil dengan pena yang diselipkan di sampulnya.

Kehidupan yang muat di satu ransel.

Ini bukan kehidupan yang ia bayangkan tiga tahun lalu.

Tiga tahun lalu, Arsyad Nur Rohman masih punya kantor di lantai dua gedung Fakultas Hukum, Universitas Negeri Mahesvara.

Kantor kecil dengan dua rak buku yang penuh dan satu meja yang permukaannya hampir tidak pernah terlihat karena selalu ada tumpukan — makalah mahasiswa, artikel jurnal, dokumen kasus yang ia ikuti sebagai akademisi. Di dinding: kalender akademik, jadwal seminar, satu foto wisuda yang ia tempelkan bukan karena sentimental tapi karena ada di sana ketika ia pindah masuk dan tidak pernah ada waktu yang tepat untuk melepasnya.

Ia mengajar dua mata kuliah. Menulis dua artikel per tahun. Membimbing empat mahasiswa tesis. Hadir di rapat dosen setiap Senin.

Kehidupan yang bisa diprediksi sampai dua semester ke depan.

Lalu adiknya hilang.

Arsyad bangkit dari ranjang.

Tidak perlu urutan pagi yang panjang — setelah enam belas hari di perjalanan, ritme sudah terbentuk sendiri. Mandi. Kopi dari termos kecil yang selalu ia isi di malam sebelumnya karena kopi kamar hotel tidak pernah cukup. Membuka buku catatan. Melihat jadwal hari ini.

Pukul sembilan: bertemu dengan koordinator simpul mahasiswa dari tiga universitas di kota ini.

Pukul dua belas: makan siang kerja dengan dua orang pengacara yang sudah lama aktif di advokasi buruh dan mau mendengarkan.

Pukul tujuh malam: forum publik terbuka.

Di antara tiga titik itu: persiapan. Selalu ada persiapan.

Arsyad meminum kopinya.

Di luar jendela kamar yang menghadap ke jalan kota yang masih gelap, ada satu warung yang sudah menyala — lampu neon putih, seseorang di dalamnya sedang menggerakkan sesuatu, asap tipis dari dapur kecil. Kota ini bangun lebih pagi dari yang ia duga ketika pertama kali tiba.

HP-nya menyala.

Bukan alarm. Notifikasi dari aplikasi yang hanya ada dua kontak di dalamnya.

Arsyad menatap layarnya.

Aplikasi itu diinstal atas saran seseorang yang ia tidak ketahui namanya — seseorang yang menghubunginya delapan bulan lalu melalui saluran yang bahkan sampai sekarang tidak sepenuhnya ia mengerti bagaimana mereka mendapatkan kontaknya. Yang ia tahu: pesan pertama dari kontak itu akurat mengenai sesuatu yang seharusnya tidak diketahui orang luar. Dan pesan-pesan selanjutnya konsisten dengan keakuratan itu.

Di dalam aplikasi itu, satu kontak. Nama tampilnya hanya huruf: M.

Pesan yang masuk malam tadi, ketika Arsyad sudah tidur:

Simpul di kota ini lebih terhubung dari yang terlihat di permukaan. Ada yang perlu kamu temui sebelum forum malam ini. Namanya Yuda. Koordinator awalnya pasti kenal. Dia bisa membuka akses ke jaringan yang kamu butuhkan untuk tiga kota berikutnya. Ini bukan keharusan. Pertimbangannya ada di kamu.

Arsyad membaca pesan itu dua kali.

Ini bukan keharusan. Pertimbangannya ada di kamu.

Selalu seperti itu — tidak pernah perintah. Selalu pilihan yang dimulai dari sesuatu yang terlihat seperti saran tapi mengandung informasi yang tidak bisa datang dari analisis biasa. Seseorang di luar tidak mungkin tahu bahwa ada seorang bernama Yuda yang terhubung dengan simpul-simpul di tiga kota. Seseorang di luar tidak mungkin tahu bahwa jaringan itu ada dan bahwa malam ini adalah kesempatan.

Tapi M. tahu.

Selalu tahu.

Arsyad meletakkan HP-nya. Menghabiskan kopinya.

Ia tidak langsung membalas pesan itu. Belum pernah langsung membalas — kebiasaan yang terbentuk dari delapan bulan komunikasi dengan kontak yang tidak ia ketahui identitasnya. Ia baca, ia pertimbangkan, baru ia tindak lanjuti.

Bukan karena tidak percaya.

Justru sebaliknya.

Delapan bulan. Dua belas saran yang ia ikuti. Semuanya menghasilkan sesuatu yang tidak ia bayangkan sebelumnya — bukan selalu besar, tidak selalu dramatis, tapi selalu tepat. Ada satu saran yang kelihatannya tidak logis ketika ia terima: jangan hadiri forum di Ardhyakarta bulan depan, alihkan ke yang lebih kecil di Mahesvara. Ia hampir tidak mengikutinya. Tapi karena saran-saran sebelumnya sudah terbukti, ia ikuti. Dan forum besar di Ardhyakarta itu ternyata dibubarkan aparat dua jam setelah dimulai, beberapa pembicara ditahan semalaman.

Yang di Mahesvara berjalan sampai selesai.

Seseorang yang tidak pernah salah dalam dua belas kesempatan bukan seseorang yang beroperasi dari luar. Seseorang seperti itu punya informasi yang tidak datang dari baca koran.

Tapi dari mana informasi itu datang — Arsyad tidak tahu. Dan ada bagian dari dirinya yang memutuskan untuk tidak terlalu agresif mencari tahu, karena jawabannya mungkin akan mengubah sesuatu yang sekarang berjalan dengan baik.

Pukul delapan, ia menemui timnya di lobi hotel.

Tiga orang.

Dira — dua puluh enam tahun, lulusan hukum, sudah dua tahun bersamanya sejak ia keluar dari kampus. Cara berpikirnya lebih cepat dari cara bicaranya, yang berarti ketika ia bilang sesuatu, itu sudah melalui proses yang lebih panjang dari yang terlihat.

Yanto — tiga puluh dua, mantan jurnalis yang berhenti karena alasan yang tidak ia ceritakan secara rinci tapi cukup bisa ditebak dari cara ia berbicara tentang media nasional. Kekuatannya ada di logistik dan koneksi — ia tahu bagaimana cara menghubungi orang yang tidak ingin dihubungi.

Siska — dua puluh delapan, awalnya mahasiswa aktif yang sekarang sudah lulus tapi tetap ada. Yang paling tahu medan mahasiswa di kota-kota yang mereka kunjungi, selalu punya nomor yang bisa dihubungi dua puluh menit sebelum acara kalau ada yang tidak beres.

Mereka duduk di kursi lobi yang tidak terlalu nyaman, memesan kopi dari pramuniaga yang mungkin bingung melihat empat orang duduk serius pukul delapan pagi di lobi hotel.

"Ada perubahan," kata Arsyad.

"Jenis apa?" tanya Dira.

"Ada yang perlu ditemui sebelum forum malam ini. Namanya Yuda."

Siska menoleh sedikit. "Yuda Prasetya? Koordinator yang di—"

"Mungkin. Lo kenal?"

"Kenal dari nama. Dia yang bikin jaringan antar-kampus di sini cukup solid. Tapi jarang keluar publik."

"Bisa dihubungi?"

"Bisa dicoba." Siska sudah mengeluarkan HP-nya. Cara bergerak orang yang sudah terbiasa menyelesaikan sesuatu dalam hitungan menit. "Gue coba kontak koordinator yang tadi malam hubungin kita. Kalau dia kenal Yuda, mestinya bisa."

Arsyad mengangguk.

"Dari mana lo dapat nama itu?" tanya Yanto. Nada suaranya tidak curiga — lebih ke cara seseorang yang ingin tahu supaya tidak ada informasi yang terlewat.

"Kontak yang sama." Arsyad minum kopinya. "Yang biasanya akurat."

Yanto mengangguk. Tidak bertanya lebih. Sudah cukup lama untuk tahu bahwa ada hal-hal yang lebih baik ia tidak tahu terlalu spesifik.

Pertemuan dengan koordinator simpul pukul sembilan berjalan seperti yang biasanya berjalan.

Ruangan kecil di belakang kafe dekat kampus — jenis ruangan yang disewa per jam, yang furniturnya tidak cocok satu sama lain dan dindingnya ada bekas poster yang separuh sudah dilepas. Di dalamnya: enam orang mahasiswa dari tiga universitas yang berbeda, semua terlihat seperti tidak tidur cukup, semua dengan cara hadir yang berbeda-beda.

Arsyad tidak langsung bicara banyak.

Cara yang sudah ia pelajari selama delapan bulan terakhir — dan yang ia yakini bukan hanya cara ia tapi cara yang disugestikan oleh pola saran-saran yang masuk: jangan mendominasi pertemuan pertama. Dengarkan dulu. Biarkan mereka bicara sampai ada titik di mana mereka berhenti bukan karena tidak ada yang mau dikatakan tapi karena sudah merasa cukup didengar.

Mereka bicara tentang hal yang bisa ditebak: frustrasi, kasus yang tidak ditindaklanjuti, teman yang sudah menyerah, teman yang tidak pernah ada karena tidak pernah mau datang.

Dan satu hal yang tidak terlalu bisa ditebak: mereka sudah lebih terorganisir dari yang terlihat di luar. Ada struktur yang sudah ada, jalur komunikasi yang sudah terbentuk, koordinasi yang berjalan walau tidak pernah diformalisasi.

Siska menoleh sebentar ke arah Arsyad.

Ia menangkap tatapan itu. Artinya: persis seperti yang dikatakan dalam pesan tadi pagi.

Lebih terhubung dari yang terlihat di permukaan.

Di tengah pertemuan, seorang laki-laki datang terlambat.

Masuk dengan cara seseorang yang sudah sering terlambat dan sudah tidak terlalu apologetik tentangnya. Duduk di kursi kosong di sisi kiri. Tidak memperkenalkan diri — terlihat sudah kenal dengan beberapa orang di ruangan itu.

Arsyad memperhatikannya tanpa terlihat memperhatikan.

Laki-laki itu tidak banyak bicara di pertemuan. Tapi ketika ia bicara — dua kali, keduanya singkat — yang lain mendengarkan dengan cara yang berbeda dari ketika orang lain bicara. Cara seseorang yang sudah punya berat di ruangan itu sebelum ia membuka mulutnya.

Di break kecil di pertengahan pertemuan, Arsyad mendekatinya.

"Yuda?"

Laki-laki itu menatapnya sebentar. "Iya."

"Arsyad."

"Tahu." Ia tidak terlalu tersenyum — bukan tidak ramah, lebih seperti seseorang yang sudah lama memutuskan bahwa senyum sebagai pembuka percakapan bukan sesuatu yang ia perlukan. "Udah lama mau ngobrol. Tapi belum ada konteks yang tepat."

"Sekarang ada?"

"Tergantung mau ngobrol soal apa."

Lihat selengkapnya