Manggala

Nguyen Rakai Pikatan
Chapter #18

Langkah Pertama

Arsyad bangun dan langsung tahu ada yang berbeda.

Bukan karena ada suara aneh dari luar, bukan karena alarm berbunyi lebih awal dari biasanya. Lebih ke sesuatu yang tidak bisa ia namakan — semacam perasaan yang kadang datang sebelum tubuh sepenuhnya sadar, semacam sinyal yang berasal dari kebiasaan terlalu lama memperhatikan hal-hal kecil sampai hal-hal kecil itu mulai berbicara bahkan sebelum ia memintanya.

Ia melihat ke HP di samping kasur.

Jam 05:49.

Tiga belas notifikasi pesan.

Untuk seseorang yang biasanya bangun dengan dua atau tiga, angka itu sudah cukup untuk membuat ia duduk sebelum benar-benar bangun.

Ia membuka HP.

Yang pertama dari Hendra, dikirim pukul 05:21: Bro lo udah lihat belum?

Yang kedua dari kontak yang ia simpan hanya dengan initial, dikirim 05:27: Sesuatu sedang bergerak. Periksa semua platform.

Yang ketiga dari nomor yang tidak tersimpan, dikirim 05:31, isinya hanya sebuah link.

Ia tidak membuka link itu dulu. Tidak karena tidak ingin — karena kebiasaan yang sudah lama terbentuk untuk tidak langsung membuka link dari nomor tidak dikenal sebelum ada konteks yang cukup. Link bisa apa saja. Link bisa juga jebakan.

Ia buka pesan berikutnya.

Rasyid, 05:34: Kak Arsyad!!! Lo udah liat? Gila kak gila

Novi, 05:38: Ada yang beredar. Belum bisa konfirmasi tapi dari tiga grup berbeda.

Pak Sutanto, 05:44: Hubungi saya kalau sudah lihat apa yang sedang beredar. Ada yang perlu didiskusikan.

Dan yang terakhir, dari kontak yang ia simpan dengan nama yang tidak menunjukkan siapapun, dikirim 05:47 — dua menit sebelum ia bangun — hanya tiga kata:

Lihat videonya dulu.

Arsyad keluar dari tempat tidur.

Duduk di kursi meja. Menyalakan laptop. Membiarkan HP di tangan kirinya sementara laptop loading.

Sementara menunggu, ia membuka link dari Hendra — bukan yang dari nomor tidak dikenal, tapi yang Hendra kirim di pesan keduanya yang baru ia scroll ke bawah.

Link ke platform video.

Ia ketuk.

Video itu delapan menit empat puluh dua detik.

Rekaman CCTV. Kualitas tidak sempurna — cara gambar CCTV yang resolusinya cukup untuk membuktikan sesuatu terjadi tapi tidak cukup untuk mengatakan semua detail dengan pasti. Timestamp di pojok kanan bawah. Lokasi yang tidak ada keterangannya tapi dari tampilannya — koridor sebuah gedung, atau ruangan yang menyambung ke koridor, pencahayaan neon yang khas gedung-gedung tertentu — bisa disimpulkan ini bukan tempat publik biasa.

Di dalam video itu, ada orang.

Beberapa orang.

Dan ada yang terjadi kepada salah satu dari mereka.

Arsyad menonton sampai menit ketiga.

Kemudian berhenti.

Bukan karena tidak kuat menonton — lebih karena sudah cukup. Sudah cukup untuk tahu apa yang ada di dalam video ini. Sudah cukup untuk mengerti mengapa tiga belas notifikasi masuk sebelum ia bangun.

Di pojok kiri bawah video, ada satu teks yang disematkan. Bukan teks asli dari rekaman — teks yang ditambahkan setelah. Dengan font yang tidak terlalu rapi tapi cukup jelas terbaca:

Dimas Pratama. 14 November. Di mana prosesnya?

Arsyad duduk sebentar tanpa bergerak.

Di mejanya, laptop sudah menyala penuh. Di layarnya, video itu terpause di menit ketiga. Di sebelah kiri layar, notifikasi email mulai masuk satu per satu.

Ia menarik napas.

Panjang. Pelan.

Bukan karena terkejut dengan isinya — ia sudah tahu kasus Dimas Pratama. Sudah mengikutinya. Sudah tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di balik narasi resmi tentang apa yang terjadi pada mahasiswa itu. Sudah tahu tapi tidak pernah punya bukti yang cukup kuat.

Yang membuat ia perlu berhenti sejenak bukan isinya.

Yang membuat ia perlu berhenti sejenak adalah kenyataan bahwa ini ada.

Bahwa ada yang berhasil mendapatkan rekaman ini dari dalam gedung yang tidak seharusnya mengeluarkan rekaman ini. Bahwa ada yang memutuskan sekarang adalah waktunya. Bahwa ada yang sudah menghitung — sebelum ia bangun, sebelum tiga belas notifikasi itu masuk — bahwa ini adalah saat yang tepat.

Dan ia tidak tahu itu.

Ia tidak diajak bicara tentang ini.

Ia membuka laptop.

Browser. Platform pertama.

Kata kunci: Dimas Pratama.

Hasilnya dalam hitungan detik: tiga puluh dua hasil dalam enam jam terakhir. Dari akun-akun yang ia tidak kenali satu pun — bukan nama yang pernah ia lihat di sirkuit yang ia kenal. Nama-nama yang terlihat seperti akun biasa, akun orang, akun yang punya foto profil dan post sebelumnya yang terlihat seperti kehidupan normal. Bukan akun baru yang dibuat kemarin.

Akun-akun yang sudah ada.

Yang tiba-tiba, dalam rentang waktu yang hampir bersamaan — ia melihat timestamp posting masing-masing — semua mengunggah hal yang sama.

Ia membuka platform kedua.

Hal yang sama.

Akun-akun berbeda. Beberapa nama yang berbeda, beberapa platform yang berbeda, tapi isinya sama: video yang sama, atau klip yang sama, atau tangkapan layar dari video yang sama dengan keterangan yang berbeda-beda tapi semua menunjuk ke satu hal.

Ia menghitung.

Dari yang bisa ia lihat dalam sepuluh menit pertama: lebih dari delapan puluh postingan di dua platform. Dari akun-akun yang tidak terhubung satu sama lain secara terlihat. Di rentang waktu yang mulai dari sebelum subuh.

Ini bukan viral yang terjadi sendiri.

Viral yang terjadi sendiri punya bentuk yang berbeda — dimulai dari satu atau beberapa titik, menyebar pelan di awal lalu cepat kalau ada momen tertentu yang memicunya. Yang ini tidak seperti itu. Yang ini terlihat seperti sesuatu yang disiapkan untuk kelihatan seperti viral, tapi arsitekturnya terlalu rapi untuk kebetulan.

HP-nya bergetar.

Panggilan masuk. Hendra.

Arsyad angkat.

"Lo sudah lihat?"

"Sudah," kata Arsyad.

"Ini—" Hendra berhenti sebentar. Terdengar suara di latar belakang — seperti ia sedang di luar, ada kendaraan lewat. "Ini siapa yang mulai? Bukan kita."

"Bukan kita," kata Arsyad.

"Tapi ini bergerak. Cepat. Gue baru cek dari tiga platform, semua ada. Dan bukan cuma posting biasa — ada yang sudah di-share ratusan kali sejak tadi."

"Ratusan."

"Ratusan dalam tiga jam."

Arsyad tidak langsung menjawab.

"Lo tahu siapa?" tanya Hendra.

"Belum."

"Tapi lo tahu sesuatu?"

Pertanyaan yang berbeda.

Hendra sudah cukup lama bekerja dengan Arsyad untuk tahu perbedaan antara belum tahu dan tidak akan bilang sekarang. Dan pertanyaannya yang kedua itu menunjukkan bahwa ia sudah mendengar perbedaan itu di nada jawaban Arsyad yang pertama.

"Kita bicara sore ini," kata Arsyad. "Jangan posting apa-apa dulu. Jangan share apa-apa. Hanya amati."

"Oke."

"Dan kabari kalau ada yang berubah signifikan."

"Oke."

Arsyad menutup telepon.

Ia membuka tiga tab browser sekaligus.

Tab pertama: platform video tempat link itu pertama ia buka. Tab kedua: salah satu media besar nasional — ia ingin tahu apakah sudah ada liputan. Tab ketiga: kolom pencarian kosong yang ia belum putuskan untuk apa.

Di tab pertama: video itu masih ada. Sudah seratus dua belas ribu penayangan sejak enam jam lalu. Angka yang tidak berhenti — setiap kali ia refresh, naik beberapa ratus.

Di tab kedua: belum ada liputan tentang ini di media besar. Tentunya belum. Belum subuh tadi.

Di tab ketiga, ia mengetik sesuatu yang berbeda dari kata kunci biasanya.

Ia ketik: CCTV Dimas Pratama take down.

Belum ada hasil untuk itu.

Artinya belum ada upaya takedown yang dilaporkan secara publik.

Artinya mereka belum bergerak.

Atau belum tahu.

Atau sedang menghitung.

Arsyad menutup laptop.

Berdiri. Berjalan ke arah dapur kecilnya. Mengisi teko dengan air. Menyalakan kompor.

Gerakan yang ia lakukan setiap pagi, dengan cara yang sama. Tangan yang mengambil teko, tangan yang menyalakan kompor, cara menunggu yang sama — berdiri, tidak duduk, karena berdiri lebih mudah digunakan untuk berpikir dari pada duduk yang cenderung membuat tubuhnya lebih pasif.

Tapi pagi ini pikirannya tidak mengikuti ritme yang biasa.

Pikirannya sedang menghitung.

Ia mengetahui tentang Dimas Pratama dari beberapa sumber berbeda. Mahasiswa. Aktif di gerakan hak sipil. Hilang dari radar publik setelah sebuah peristiwa yang laporan resminya menyebut insiden keamanan tanpa penjelasan lebih. Kasus yang masuk ke meja-meja tertentu dan tidak keluar lagi. Kasus yang ketika Arsyad mencoba menghubungi pihak-pihak yang seharusnya menangani, selalu ada alasan mengapa tidak ada yang bisa dikonfirmasi.

Ia sudah menyebut nama Dimas Pratama di beberapa forum. Sebagai satu dari banyak nama. Sebagai bagian dari pola yang perlu dilihat bersama-sama.

Tapi tidak pernah ada bukti yang bisa ditunjukkan.

Dan sekarang ada delapan menit empat puluh dua detik rekaman CCTV yang sedang ditonton oleh angka yang terus bertambah sejak sebelum subuh.

Air mendidih.

Ia menuang ke cangkir. Kopi sachet yang sudah ia siapkan. Diaduk. Satu sendok gula.

Ia berdiri di dapur kecilnya dengan cangkir itu di tangan.

Ada beberapa hal yang perlu ia pikirkan sebelum hari ini benar-benar dimulai.

Pertama: siapa yang punya akses ke rekaman CCTV dari dalam gedung itu. Bukan pertanyaan mudah. Rekaman seperti itu tidak keluar sendiri. Ada yang mengambilnya, ada yang menyimpannya, ada yang memutuskan kapan dan bagaimana mengeluarkannya. Ini bukan kebocoran yang terjadi karena seseorang frustrasi dan memutuskan sendiri untuk membagikannya. Ini operasi.

Kedua: timing. Mengapa sekarang. Ia sudah lama mengikuti kasus ini, sudah lama menunggu sesuatu bergerak, dan sesuatu itu tidak bergerak selama berbulan-bulan. Lalu kemarin malam, atau dini hari ini, sesuatu memutuskan ini adalah waktunya. Ada yang berubah sehingga ini menjadi waktu yang tepat. Atau ada yang menghitung waktu yang tepat ini jauh sebelumnya dan baru sekarang menjalankannya.

Ketiga: arsitekturnya. Ratusan akun. Berbagai platform. Hampir bersamaan. Bukan kebetulan, dan bukan pekerjaan satu orang dalam satu malam.

Ia membawa kopinya kembali ke meja.

Membuka laptop lagi.

Tab pertama: angka penayangan sekarang sudah satu ratus delapan belas ribu.

Enam ribu naik dalam waktu yang ia habiskan membuat kopi.

Selama dua jam berikutnya, Arsyad tidak meninggalkan mejanya.

Ia mengamati.

Bukan hanya mengamati videonya sendiri — ia mengamati bagaimana penyebarannya terjadi. Dari platform ke platform. Dari akun ke akun. Dari kelompok yang ia kenal ke kelompok yang ia tidak kenal. Dari komunitas aktivis ke komunitas yang tidak pernah ia sangka akan tertarik pada kasus seperti ini — komunitas olahraga, komunitas penggemar musik, grup alumni sekolah tertentu, akun-akun personal dengan foto liburan dan makanan yang tiba-tiba juga ikut membagikan video ini.

Pola penyebarannya bukan seperti informasi biasa.

Informasi biasa menyebar dari satu pusat ke luar. Dimulai dari titik yang menerima, lalu titik itu membagikan ke titik-titik lain di sekitarnya, lalu titik-titik baru itu membagikan lagi, dan seterusnya — seperti lingkaran air yang melebar dari satu batu yang dilempar.

Yang ini berbeda.

Yang ini mulai dari banyak titik sekaligus. Seolah bukan satu batu yang dilempar ke satu titik, tapi seratus batu yang dilempar ke seratus titik yang berbeda-beda pada waktu yang hampir bersamaan.

Pukul tujuh empat puluh, HP-nya bergetar lagi.

Bukan telepon. Pesan teks dari nomor yang tidak tersimpan.

Hanya: Jangan hubungi siapapun tentang ini sampai kita bicara. Siang hari ini.

Arsyad membaca pesan itu.

Lalu membacanya sekali lagi.

Ia mengenali cara menulis dari nomor ini — bukan dari gaya bahasanya, karena selalu singkat dan tidak punya gaya yang mencolok. Ia mengenalinya dari sesuatu yang lebih intuitif: cara pesan itu datang di waktu yang pas. Cara pesan itu tahu bahwa Arsyad sudah melihat sesuatu dan perlu diberikan instruksi.

Cara pesan itu tahu bahwa ia sedang di mejanya.

Siang hari ini.

Ia tidak tanya di mana atau jam berapa. Sudah ada protokol untuk itu — ada tempat yang sudah disepakati untuk pertemuan mendadak, ada cara mengetahui jam berapa tanpa perlu menulis jam berapa di pesan yang mungkin dibaca orang lain.

Arsyad meletakkan HP-nya.

Menatap layar laptop yang masih menampilkan tab-tab pencarian.

Angka penayangan di tab pertama: dua ratus tiga puluh ribu.

Dari jendela kamar kos-nya, pagi Ardhyakarta mulai terlihat penuh.

Motor sudah ramai di jalan bawah. Warung-warung sudah buka. Seorang bapak di lantai bawah gedung seberang sedang menyapu trotoar dengan gerakan yang sama seperti yang dilakukannya setiap pagi — cara orang yang sudah terlalu lama melakukan sesuatu untuk masih perlu memikirkan gerakannya.

Kota yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam layar-layar kecil yang dipegang orang-orangnya.

Atau kota yang sudah mulai tahu.

Pukul delapan lewat sedikit, Arsyad membuka platform yang berbeda.

Ia mengetik nama yang berbeda di kolom pencarian.

Video Dimas Pratama dihapus.

Belum ada.

Video CCTV Dimas take down.

Belum ada.

Dimas Pratama video diblokir.

Belum ada.

Ia menutup tab itu.

Membuka platform video di tab lain.

Video itu masih ada.

Sudah dua ratus delapan puluh ribu penayangan.

Tapi sekarang ada sesuatu yang baru yang tidak ada satu jam lalu: di bawah video, di kolom komentar yang sudah ada lebih dari tiga ribu komentar, ada beberapa komentar yang mencantumkan link ke versi lain dari video yang sama.

Di platform yang berbeda.

Tidak hanya satu link. Banyak. Dari akun-akun yang berbeda.

Seolah ada yang sudah tahu bahwa video ini mungkin akan dihapus, dan sudah menyiapkan cadangannya sebelum ada yang meminta.

Arsyad menatap layarnya lama.

Ada yang ia sadari sekarang yang tidak ia sadari satu jam lalu.

Ini bukan hanya tentang mengeluarkan videonya. Ini tentang memastikan video itu tidak bisa dikeluarkan dari peredaran. Dua hal yang berbeda. Yang pertama hanya memerlukan akses dan keberanian. Yang kedua memerlukan perencanaan yang berbeda level-nya — memerlukan seseorang yang sudah menghitung bahwa upaya penghapusan akan datang, sudah menyiapkan respons terhadap upaya itu, dan sudah memastikan respons itu sudah di tempat sebelum upaya penghapusan mulai.

Itu bukan cara kerja seorang aktivis yang marah.

Itu cara kerja seseorang yang sangat sabar.

Di luar, angkot melintas dan membunyikan klakson panjang karena seseorang hampir menyerobot dari gang kecil.

Arsyad tidak bergerak dari mejanya.

Dalam kepalanya sedang terjadi sesuatu yang tidak bisa ia hentikan — semacam proses menghitung ulang, menata ulang, menyusun ulang gambar yang sudah ia punya tentang siapa yang ada di belakang semua ini.

Ia sudah tahu ada seseorang.

Ia sudah tahu seseorang itu cerdas, strategis, punya akses ke informasi yang tidak publik.

Tapi apa yang ia lihat pagi ini mengatakan sesuatu yang lebih dari itu.

Ini bukan seseorang yang cerdas dan punya informasi.

Ini seseorang yang sudah lama merencanakan ini dengan tingkat detail yang tidak bisa dihasilkan oleh satu orang dalam satu bulan atau dua bulan.

Pukul delapan tiga puluh, HP-nya bergetar lagi.

Kali ini Pak Sutanto.

"Halo, Pak."

"Sudah lihat." Pak Sutanto tidak membuat itu pertanyaan. "Ini bukan dari kita."

"Bukan."

Hening sebentar. Cara Pak Sutanto diam yang Arsyad sudah kenal — diam yang bukan kekosongan tapi isi yang belum diucapkan.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Pak Sutanto akhirnya.

"Belum konfirmasi."

"Tapi dugaan."

"Dugaan belum cukup untuk saya bagikan."

Lagi-lagi hening.

"Ini bisa menjadi sesuatu," kata Pak Sutanto. Suaranya tidak berubah — masih nada yang sama, orang yang sudah terlalu lama di sirkuit ini untuk masih punya cara bicara yang naik turun mengikuti emosi. "Atau ini bisa menjadi masalah. Tergantung siapa yang ada di belakangnya dan apa yang mereka inginkan selanjutnya."

"Iya, Pak."

"Dan tergantung apakah kita mau jadi bagian dari ini atau memilih posisi yang berbeda."

Arsyad menatap layar laptopnya yang masih terbuka. Angka penayangan sudah tiga ratus satu ribu.

"Kita bicara sore ini," kata Arsyad. "Ada sesuatu yang perlu saya konfirmasi dulu."

"Oke." Pak Sutanto berhenti sebentar lagi. "Arsyad."

"Ya, Pak?"

"Hati-hati dengan apa yang kamu putuskan mau jadi bagian dari. Karena sesuatu yang sudah mulai bergerak dengan cara ini susah untuk dihentikan di tengah jalan."

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman. Tidak terdengar seperti peringatan yang protektif juga. Lebih terdengar seperti fakta yang disampaikan oleh orang yang sudah pernah mengalami sendiri betapa susahnya menghentikan sesuatu di tengah jalan.

"Saya tahu, Pak," kata Arsyad.

Pak Sutanto menutup telepon.

Sembilan pagi.

Platform video pertama: video itu tidak ada lagi.

Arsyad menekan refresh beberapa kali. Halaman error. Bukan halaman video yang masih ada tapi tidak bisa diputar — halaman yang mengatakan konten ini sudah dihapus.

Ia pindah ke tab pencarian. Mengetik kata kunci yang sama.

Hasilnya: sepuluh link ke platform lain yang menampilkan video yang sama. Dari akun-akun yang berbeda. Pada platform yang berbeda. Beberapa sudah ditonton ratusan ribu kali. Beberapa baru ratusan.

Semuanya masih ada.

Ia mengamati ini selama dua puluh menit.

Dalam dua puluh menit itu, ia melihat dua hal terjadi bersamaan.

Hal pertama: beberapa link ke video mulai menampilkan pesan error juga — dihapus satu per satu, dengan jeda beberapa menit antara satu penghapusan dan penghapusan berikutnya.

Hal kedua: setiap kali satu link mati, tiga atau empat link baru muncul di tempat yang berbeda. Dari akun berbeda. Pada platform yang mungkin belum dideteksi oleh siapapun yang sedang menghapus.

Seperti memotong satu cabang pohon dan melihat tiga cabang baru tumbuh dari potongannya.

Pukul sembilan dua puluh, Arsyad berdiri dari mejanya.

Ia pergi ke kamar mandi. Mencuci muka dengan air dingin. Berdiri di depan cermin sebentar.

Di cermin, seseorang yang sudah tiga tahun tidak lagi mengajar hukum tata negara. Seseorang yang meninggalkan ruang kelas bukan karena tidak mampu tapi karena tidak bisa lagi berdiri di depan mahasiswa dan mengajarkan bahwa sistem memiliki mekanisme untuk memperbaiki dirinya sendiri, sementara adiknya masih tidak ada, sementara berkas kasusnya masih di suatu meja di suatu kantor yang tidak ada yang mau membuka lacinya.

Ia menatap cermin itu.

Lalu berbalik dan keluar.

Kembali ke mejanya.

Tab browser yang sebelumnya: hasil pencarian yang semakin penuh dengan artikel-artikel baru. Bukan hanya posting akun individual — sekarang mulai ada artikel dari media independen kecil yang menulis tentang beredarnya video ini. Bukan media besar — media besar belum bergerak, masih menunggu, masih mengamati, masih menghitung risiko sebelum memutuskan apakah ini layak dan aman untuk ditulis.

Tapi media-media kecil sudah menulis.

Dan artikel-artikel kecil itu juga mulai disebarkan. Dari akun ke akun. Dari grup ke grup.

Arsyad membaca satu artikel dari media independen kecil yang ia belum pernah buka sebelumnya.

Judulnya tidak dramatis — bukan judul yang dirancang untuk emosi. Hanya deskriptif: Rekaman CCTV Beredar, Diduga Tunjukkan Kondisi Dimas Pratama Sebelum Menghilang.

Artikel itu enam ratus kata. Ditulis dengan cara jurnalis yang tahu betul batas antara apa yang bisa diklaim dan apa yang tidak — setiap kalimat yang berpotensi sengketa dilapisi kata-kata seperti diduga, belum dikonfirmasi, menurut sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Di bagian bawah artikel, ada satu kalimat yang Arsyad baca dua kali.

Pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas distribusi video ini belum memberikan pernyataan resmi, namun pesan yang disertakan bersama sejumlah salinan video menyebut bahwa ini baru langkah pertama.

Arsyad menatap kalimat itu cukup lama.

Lihat selengkapnya